"Menaklukkan
rasa takut adalah awal dari kebijaksanaan". -Betrand
Russell-
Ketakutan akan ketidaktahuan merupakan pangkal dari kesesatan berpikir
dan kebodohan yang kadang dipelihara, kemudian menimbulkan perilaku konservatif,
agresif, bahkan reaksioner terhadap apa yang berseberangan dan asing baginya.
Salah satu kutipan dalam buku "Bumi
Manusia", tetralogi pulau buruh karya Pramoedya Ananta Toer, "Kau
akan berhasil dalam setiap pelajaran, kau harus percaya akan berhasil dan
berhasil lah kau, anggap semua pelajaran mudah, "Jangan takut pada
pelajaran apapun karena ketakutan itu sendiri kebodohan, awal yang akan
membodohkan semua".
Jikalau masyarakat kita dewasa ini diberi sebuah pertanyaan
tentang, Apa itu ideologi Kiri ? mungkin sebagian besar akan menjawab, Pemikiran
kiri adalah pemikran berbahaya, PKI, komunis, atheis, anti-tuhan dan tentu saja
Marxisme. Semua stigmatisasi seperti ini seringkali kita jumpai dalam kehidupan
sosial negeri ini. Tak heran jika semua feomena keburukan dalam kehidupan
sosial bernegara saat ini selalu didalangkan pada PKI maupun Komunis yang telah
lama mati, walaupun sebenarnya sama sekali tidak relevan. Ideologi dengan logo
palu aritnya itu mempunyai citra yang berbahaya bak hantu tak bertuhan, anti-agama,
kejam, sadis, demi mencapai tujuannya.
Jelas hal ini merupakan sebuah cacat berpikir yang berkelanjutan
dari generasi ke generasi hingga melahirkan apa yang disebut "Fobia Kiri".
Pengetahuan tentang pemikiran kiri direduksi oleh pemenang dalam sejarah, adagium
seperti, "Sejarah Ditulis Oleh Pemenang" menemui relevansinya.
Istilah Kiri sebenarnya bermula dari Era Revolusi Prancis, bermula
pada tempat duduk legislatif pada saat itu, kaum republik yang
menentang kemapanan, Status Quo disebut
sebagai Kelompok Kiri karena
mereka duduk di sisi kiri dari dewan legislatif. Berbeda dengan kelompok yang
duduk disebelah kanan yang mendukung Penguasa atau Status Quo.
Dalam buku karangan Listiyono Santoso. dkk, "Epistemologi Kiri" menjelaskan tentang pengertian
pemikiran kiri, yang merupakan pemikiran dan gerakan sosial yang senantiasa
melawan, mengkritik dan memang terkadang "nakal" untuk menghancurkan
segala Estabilisment atau kemapanan,
terutama kemapanan kekuasaan otoriter dan kapitalisme modern.
Gerakan Kiri sendiri merupakan gerakan intelektual bersama dengan
golongan akar rumput yang kaya akan pemikiran dan teori-teori sosial menuntut
kebebasan, kesetaraan dan keadilan sosial dalam sebuah perubahan tatanan
masyarakat yang lebih baik. Kiri dalam artian sempit bukan hanya Sosialisme
maupun Komunisme tetapi banyak varian atau spektrum yang bisa digolongkan dalam
gerakan atau pemikiran kiri.
Istilah Kiri di Indonesia seringkali memang kerap menjadi sebuah
stigma dikalangan masyarakat pasca tragedi 1965, yang merubah semua struktur
dan pandangan masyarakat atas ideologi-ideologi kiri. Menurut saya, Fobia Kiri
merupakan ketakutan berlebihan yang mengakibatkan sebuah penyakit sosial dengan
cacat berpikir dalam kondisi kronis yang menggerogoti akal pikiran manusia
terhadap pandangan Epistemologi Kiri. Khususnya di Indonesia sejak tahun 1965
hingga zaman Milenial seperti sekarang. Tentu saja faktor pemicunya adalah
peristiwa G30S yang biasanya diikuti dengan akronim PKI, titik balik sejarah
bangsa dibarengi dengan pergantian kekuasaan dari Era Soekarno ke Era Soeharto
atau yang dikenal dengan Orde Baru.
Orde baru menciptakan stigma pada pandangan yang berbau kiri
hingga melahirkan sebuah penyakit fobia kiri, tentu dengan tujuan politis juga sebagai
alat untuk melegitimasi segala tindakan represif atau pembungkaman terhadap
mereka yang berseberangan dalam pandangan politik. mereka yang berbeda akan
dicap sebagai Komunis yang anti terhadap Pancasila, artinya darahnya secara
legal dapat ditumpahkan. Sebagaimana
penggambaran seorang komunis di era Orde Baru yang dipukul rata, digeneralisasi
sedemikian rupa sehingga selalu identik dengan hal-hal negatif.
Sejarah rekaan
Orde Baru menghapuskan peran gerakan kiri dalam perjuangan kemerdekaan bangsa.
Dengan menjadikan komunisme sebagai dalang utama peristiwa G30S 1965, dan musuh
bersama sejak saat itu. Narasi pereduksian sejarah oleh Orde Baru yang
diajarkan di sekolah selama bertahun-tahun dari generasi ke generasi, mengenai gerakan kiri atau komunisme
menimbulkan persepsi tentang sekelompok orang-orang bejat, tak
berprikemanusiaan, anti-Tuhan, anti-agama gemar melakukan kekerasan untuk
mencapai tujuannya. Dan hampir tak pernah ada pembahasan mengenai peran penting
tokoh-tokoh kiri dalam pelajaran sejarah di sekolah.
Ketakutan telah membuat orang-orang mengesampingkan akal kritis,
takut pada hal-hal yang ia sendiri tidak pahami dan tidak diketahuinya, hanya
berbekal dari sejarah kelam G30S yang menurut klaim Orde Baru dengan dalang
utamanya PKI, tahun 1965. Sesungguhnya tragedi kelam ini mempunyai banyak sudut
pandan yang dapat dikaji, bukan hanya versi Orde Barunya Soeharto yang abstrak,
tetapi banyak varian sejarah yang bisa kita jadikan tolok ukur, seperti versi
Bennedict Andeson ataupun John Roosa dalam bukunya "Dalih Pembunuhan Massal". Hagemoni
Orde Baru dimulai dengan dominasi militerisme tahun 1965, ekonomi-politik,
hingga sampai pada kebudayaan melalui berbagai propaganda, distorsi hingga monopoli
kebenaran, telah mengakar kuat dalam kesadaran masyarakat. Kesadaran mayarakat
saat ini hanya bisa kembalikan dengan membaca ulang sejarah, menumbuhkah sikap skeptis
dan kritis.
Jika bicara soal Logika pemberontakan sebagai
dalih akan ketakutan terhadap sebuah paham, sejarah mencatat Kartosuwirjo pun
pernah melakukan pemberontakan terhadap negara dengan DI/TII dan peristiwa itu
pun berlumuran darah hingga memakan korban banyak. Tetapi apakah adil bila kita
mengeneralisasi, memukul rata orang-orang Islam, beserta Partai politik yang
berlandaskan ajaran Islam sama seperti dalam peristiwa G30S ? Ataukah yang
sekarang lagi populer tentang kelakuan ISIS yang penuh dengan kekerasan itu
bisa mewakili citra umat Islam secara keseluruhan ? Tentu saja tidak semudah
dan sesederhana itu. Satu hal yang pasti, semua kejadian ini merupakan alasan atau
faktor "Politik" perebutkan kekuasaan. Marxisme yang dilarang melalui
TAP MPRS No. XXV/1966, dan dalam perkembangannya saat ini melalui RKUHP dalam
pasal 188 Marxisme hanya boleh dipelajari sebagai ilmu pengetahuan yang berarti
sengatnya yaitu "Praxis" lagi-lagi
ditumpukan.
Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kemerdekaan tidak hanya
diperjuangkan oleh mereka yang nasionalis maupun agamis tetapi juga mereka kaum
kiri yang memegang peranan krusial bagi kemerdekaan Indonesia. Negara ini
dibangun dari berbagai ide tokoh-tokoh bangsa, diantaranya juga tokoh-tokoh
yang berideologi kiri. Apakah pemikir-pemikir ideologi kiri ini meninggalkan
agamanya dan menjadi seorang atheis ? jawabannya tergantung pada nilai subjektif
atau individu masing-masing. Tokoh bangsa seperti Tan Malaka, Bung Karno, Bung
Hata, Sutan Sjahrir, hingga Haji Mohammad Misbach mereka semua mempelajari
Marxisme tapi tidak sampai meninggalkan agamanya dan menjadi seorang atheis
yang anti-tuhan, mereka tetap teguh pada iman kepercayaan agamanya
masing-masing bahkan menggabungkan keduanya antara teori Marxisme dengan ajaran
agama seperti yang dilakukan Haji Misbach.
Bukan hanya dalam negeri, bahkan tokoh-tokoh luar negeri Pemikir
Islam yang dicap kiri oleh zaman seperti Mohammad Arkoun dengan rekonstruksi
terhadap Al-Qur'an denganmenggunakan n alar kritis, juga mengkritik tradisi
ortodoks yang didominasi oleh Logosentrisme,
Objektivisme, serta Positivisme.
Hasan Hanafi seorang tokoh Islam yang mempelopori teori Orientalisme dan menggagas Kiri Islam. Juga ada Asghar Ali Enginer dengan
Teologi Pembebasan sebagai inti dari pemikirannya.
Fenomena fobia kiri merupakan ketakutan yang dilandasi dari
ketidak tahuan, selalu berdampak pada pemberangusan dan razia-razia buku dicap
kiri, sebuah tindakan bodoh yang mengakibatkan kemerosotan intelektual, merazia
buku seperti ciri khas fasisme. Ditengah situasi dengan tingkat literasi negeri
ini semakin merosot, urutan 60 dari 62 negara, razia buku malah makin gencar
dilakukan baik dari Aparat negara maupun LSM afiliasinya.
Tak heran jika fobia kiri makin subur di negeri ini karena
keterbatasan bacaan yang menyebabkan minimnya pemahaman masyarakat atas
terminologi kiri. Ada sebuah anekdot dari buku karangan Dandhi Dwi Laksono
yaitu "Indonesia For Sale",
dalam sebuah wawancaranya di tahun 2001, saat mewawancarai Sekjen Anti-Komunis,
kelompok yang gencar-gencarnya merazia buku-buku yang dianggap berlabel
"kiri" di sebuah talkshow, di radio Jakarta. "Aku bertanya,
Apakah anda sudah baca buku Das Kapital
? (Das Kapital merupakan buku
Mahakarya Karl Marx, 1967). Lalu spontan dijawab, "Buku seperti Das Kaptal juga akan kami sikat. Buku
itu mengajari orang-orang menjadi kapitalis". Ini merupakan sebuah contoh
fobia kiri, bukan kah sangat memaluan dan menggelikkan ketika mendengar jawaban
dari seorang Sekjen Anti-Komunis, Das
Kapital sejatinya merupakan sebuah kritik ekonomi politik tentang proses
produksi kapitalis secara menyeluruh. Sebuah fakta bahwa apa yang mereka
takutkan adalah apa yang sama sekali mereka tidak mengerti dan tidak mereka
ketahui.
Sebaik-baiknya cara melawan sebuah konsep dengan menyusun sebuah
konsep tantantangan atau kritikan, pikiran harusnya dilawan dengan pikiran,
hingga melahirkan sebuah loncatan pemikiran yang lebih tinggi, pengetahuan baru
yang lebih maju dalam sebuah proses dialektika, bukan dengan kebencian buta
melalui narasi-narasi palsu. Mungkin kita bisa melihat rohaniawan seperti Frans
Magnis Suseno yang melawan dengan cara mengetahui, ia mengkritik Marxisme
dengan cara mengetahuinya. Tapi sialnya malah buku-bukunya yang bergambar atau
bersampul wajah Marx lah yang kerap dirazia oleh oknum-oknum.
Ketakutan adalah
sikap dasar dalam manusia yang tak terelakkan ketika dihadapkan dengan hal
asing yang penuh dengan stigma, membaca dan mempelajari buku-buku kiri
merupakan salah satu ketakutan dinegeri ini, mengingat sejarah yang di distorsi
sedemikian rupa untuk menguntungkan sebuah rezim.
Teringat waktu
pertamakali membaca dan mempelajari Marxisme, ada sebuah ketakutan dalam benak
kepala berasal dari pandangan Common
sense, pandangan secara umum yang tercipta dalam perkembangan masyarakat. Bahwa Marxisme ataupun Komunisme
adalah ajaran anti-tuhan atau atheis dan lain-lain, pada waktu itu saya
bersumpah akan berhenti dan akan membakar buku-buku Marxis yang saya miliki
apabila memang ada teori Marx yang menyarankan kita agar menjadi seorang atheis
dan anti terhadap ajaran Agama. Marxisme sejatinya merupakan teori ilmiah yang
relevan dengan perkemangan sejarah, realitas objektif maupun subjektif dalam
hubungan-hubungan produksi saling berkontradiksi hingga tercipta sebuah
loncatan sejarah Aufhebung melahirkan
masyarakat tanpa kelas yang hidup dalam kesetaraan dan kedamaian hidup, tidak
ada lagi segregasi antara kaum proletariat sebagai material subjektif historis
dan kaum borujasi sebagai pemilik modal semua lebur menjadi satu itulah yang
disebut "Komunisme". Hingga hari ini buku-buku kiri itu masih ada di
rak buku saya bahkan semakin bertambah dan Alhamdulillah saya masih beriman
terhadap Agama kepercayaan saya.
Penulis : Munirul Palawai
