Mengapa Pendidikan Itu Politik? Menyingkap Hubungan Kuasa di Balik Sekolah

  

Pendidikan bukan sekadar soal pelajaran. Ia adalah ruang pertarungan ideologi dan kekuasaan. 

 “Siapa yang mengontrol pendidikan, mengontrol masa depan.”
 Paulo Freire

Pendidikan Bukan Netral

Banyak orang menganggap sekolah adalah tempat netral, tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Di balik kurikulum, aturan sekolah, hingga cara guru mengajar, tersimpan kekuatan yang membentuk cara kita berpikir dan hidup.

Kebodohan atau ketidaktahuan adalah sebuah hal yang terjadi secara struktural, yang diciptakan penguasa, elit melalui kurikulum dalam dunia pendidikan, dengan tujuan menciptakan manusia-manusia yang taat, tertib dan tunduk pada kekuasaan.

Pendidikan formal atau sekolah seringkali menguntungkan bagi mereka yang punya uang dan merugikan sebagian besar orang karena mahalnya biaya pendidikan, anggaran untuk militer seringkali jauh lebih tinggi dibanding anggaran untuk pendidikan dan kesehatan, tidak heran banyak sekali orang-orang yang berprofesi guru hidup dalam ketidaklayakan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Siapa yang Menentukan Apa yang Kita Pelajari?

Mengapa sejarah diajarkan dengan cara tertentu? yang isinya hanya berkutat pada, tanggal terjadinya suatu peristiwa, menyebutkan kepanjangan dari singkatan-singkatan suatu peristiwa, nama-nama pahlawan, dan lain-lain yang bukan dari makna atau pelajaran inti dari suatu sejarah, Mengapa ada pelajaran kewarganegaraan yang selalu mengagungkan negara? Mengapa kritik terhadap kekuasaan jarang masuk ke ruang kelas? Jawabannya karena pendidikan adalah alat ideologis negara dan elite yang berkuasa ingin menciptakan warga yang "patuh", bukan warga yang "berpikir kritis".

Seringkali seorang mentri pendidikan diberbagai negara dunia ketiga sama sekali tidak mempunyai background yang tepat untuk menjabat diposisi itu, kebanyakan dari mereka adalah seorang pengusaha atau seorang mantan militer yang kebetulan mendukung koalisi presiden terpilih, kemudian melahirkan kebijakan-kebijakan yang sangat bertolak belakang dengan kebutuhan masyarakat akan pendidikan.

Kurikulum dibuat untuk memenuhi bersaing pasar-pasar tenaga kerja, tak heran jika seringkali pendidikan dibangku sekolah yang kita temui adalah sistem persaingan untuk menjadi rangking pertama dikelas, padahal tiap-tiap individu mempunyai karakter, minat dan bakat yang berbeda-beda.

Sekolah formal hanya melahirkan individu-individu yang seragam seperti yang dikatakan oleh tokoh fisikawan terkenal Albert Einstein "kebanyak yang terjadi disekolah-sekolah modern adalah mengukur kecerdasan sekolompok binatang yang salah satunya seekor ikan dengan tes memanjat pohon".

Paulo Freire, Kesadaran Kritis dan Sekolah Sebagai Arena Perjuangan

Paulo Freire, seorang pendidik asal Brasil, mengatakan bahwa pendidikan seharusnya membebaskan, dalam bukunya "Pedagogy of the Oppressed", ia menjelaskan pentingnya kesadaran kritis (conscientização) kemampuan berpikir tentang kondisi sosial dan politik secara mendalam, lalu bertindak untuk mengubahnya.

Bagi Paulo Freire pendidikan adalah alat pembebasan dengan dasar kesadaran kritis sehingga para siswa mampu mengenali posisi dirinya dalam struktur sosial yang menindas dan menjadikan pendidikan yang otentik sebagai praktik kebebasan bukan sekedar keterampilan pikiran semata, pendidikan haruslah membebaskan manusia dari segala bentuk belenggu.

Pendidikan tidak boleh hanya memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, tapi harus menjadi dialog yang membangkitkan kesadaran dan perlawanan.

Artinya, kita harus merebut kembali ruang pendidikan sebagai arena perubahan sosial. Guru bukan hanya pengajar, tapi juga pejuang. Murid bukan hanya penerima ilmu, tapi juga pelaku sejarah.

Sekolah dengan model "bangking concept" dimana proses pembelajaran terjadihanya satu arah dimana guru nya sebagai pemberi sedangkan siswa hanya sebagai penerima, proses dialogis menjadi sangat penting dalam sistem pendidikan dimana guru dan siswa saling belajar, mengkritik, dan berbagi pengetahuan.

Pendekatan humanistik harus diterapkan sistem pendidikan dimana kedua belah pihak anatara guru dan murun tidak saling mengobjek kan, saling berebut dominasi menjadi satu-satunya subjek dalam proses pembelajaran, tetapi bersama-sama menjadi subjek yang aktif dan mampu bertindak dalam mengubah dunianya.

Metode "Problem-Posing" Paulo Freire menjadi pertimbangan dalam memecahkan suatu masalah bersama, dimana siswa mengidentifikasi problem-problem sosial bahkan polik secara bersama dengan cara diskusi dalam pemecahan suatu masalah.

Penutup

Pendidikan tidak pernah netral. Ia bisa membebaskan, tapi juga bisa menindas. Semua tergantung pada siapa yang mengontrolnya dan bagaimana kita melawan. pendidikan haruslah bersifat pembebasan, entah itu dari pembodohan, ketidaktahuan, dominasi, dan diskriminasi.

 

Silahkan Download Ebook Gratis tentang Pemikiran Paulo Freire di Link dibawah !

Ebook Paulo Freire