Gambar Ilustrasi : Solidaritas
Merasa diri lebih superior secara gender (seksis), menyombongkan relasi kuasa dengan menyebut dirinya sebagai seorang anggota polisi (ternyata bukan) hingga berani dengan arogan memukul si perawat.
Kalau kita kembali pada keterangan kabar burung yang tersirat dimedia sosial, si perawat sudah melakukan tindakan sesuai SOP dan dikarenakan anak yang masih batita dengan mobilitas tinggi dan rasa takut terhadap sesuatu yang asing dapat mengakibatkan si anak terus bergerak hingga menangis darah pun bercucuran dari bekas infus yang telah dicabut hingga membuat keluarga si anak panik, sang istri kemudian melaporkan kejadian itu ke sang suami dan terjadilah kejadian tersebut.
Sebenarnya dalam dunia kesehatan/keperawatan hal ini bukanlah hal yang berbahaya terhadap si anak dan penanganannya pun cukup mudah, tetapi menurutku ada beberapa kemungkinan pertama ketidaktahuan keluarga si anak atas situasi tersebut dan kedua mungkin juga penjelasan yang kurang memuaskan dari si perawat tentang kejadian itu yang mengakibatkan pemukulan brutal terjadi.
Hal ini sontak menjadi viral di media-media sosial mengingat teknologi informasi yang begitu cepat di zaman sekarang membuat kejadian apapun bisa viral dalam waktu yang sangat cepat "power of medsos", begitu banyak hujatan ditujukan pada pelaku kekerasan yaitu sang ayah dari si anak tadi. Dukungan berdatangan untuk si perawat mulai dari para netizen dunia maya hingga solidaritas perawat/tenaga kesehatan, organisasi keperawatan, yang dengan keras berbondong-bondong mengutuk perilaku brutal tersebut.
Hasilnya sudah bisa ditebak, si pemukul diringkus polisi dengan ancaman dua tahun di bui, yah sudah semestinya !.
Hal menarik lainnya dengan kekuatan solidaritas para perawat/tenaga kesehatan sebesar itu dibarengi oleh anggota-anggota organisasi keperawatan yang gagah hingga tokoh-tokoh keperawatan lainnya ini belum mampu menunjukkan hal yang serupa ketika eksploitasi tenaga perawat yang tiap saat kita temukan kasusnya, bagaimana dengan upah rendah perawat yang tidak sesuai beban kerja mereka, bagaimana dengan insentif perawat menangani pandemi Covid-19 yang tersendat, bagaimana nasib ketidakjelasan para perawat honorer. Haruskah semua ini dibuat viral terlebih dahulu barulah solidaritas itu hadir ?.
Manusia memang seringkali terjebak dari apa yang tampak hingga melupakan hal yang pokok substansial, kulit memang selalu lebih menggoda ketimbang isi.
Lalu solidaritas macam apa yang sebenarnya para perawat ini tunjukkan ? Suaranya hilang entah kemana ketika membahas isu-isu diatas, ekploitasi kerja yang nyata, yang sebagian banyak dari mereka mengalaminya dikarenakan tenaga keperawatan bisa dibilang over load atau surplus mengakibatkan nilai tawar mereka anjlok, salah satu penyebabnya yaitu tidak dibatasinya sekolah-sekolah tinngi kesehatan swasta dengan prioritas hanya mencari laba/kapitalisme dalam pendidikan (sekolah perawat mahal bung) dengan terus memproduksi tenaga perawat yang tidak sesuai dengan serapan para lulusan.
Satu lagi jujur saja target menjadi seorang PNS membuat hal ini tak terbendung, kasusnya mungkin mirip dengan kasus yang bercita-cita menjadi guru PNS yang hilirnya sudah bisa ditebak "surplus tenaga kerja".
Kejadian diatas mungkin lebih tepat disebut "solidaritas viral ataukah solidaritas semu". Hehehe !!!
