CATATAN AKHIR TAHUN DALAM SATU DEKADE-DASAWARSA



Kalau diingat kembali awal 2010 hingga sekarang terlalu banyak hal yang berubah, kuingat awal 2010 adalah fase dimana saya mengakhiri kehidupan semasa SMA menuju ke perguruan tinggi atau Universitas.

Kehidupan berlangsung terasa cepat hingga tak terasa sudah satu dasawarsa, perubahan, dialektika alam objek maupun diri sendiri sebagai subjek sungguh terasa, awal 2010 tekhnologi handphone dan laptop menjadi sangat primadona, mereka yang memilikinya tentu mereka yang kalangan menengah keatas, laju perkembangan teknologi dan informasi begitu pesat dalam satu dasawarsa ini, hingga mencapai revolusi industri 4.0 seperti sekarang, dimana tekhnologi begitu canggih merambah di masyarakat semua kalangan, teknologi seperti telepon pintar, laptop canggih dengan spesifikasi luar biasa, kendaraan dengan bahan bakar listrik hingga mode apalikasi-aplikasi canggih yang memungkinkan seseorang dapat berkomunikasi dengan tatap muka secara langsung dalam waktu yang sama.

Begitupun dengan subjeknya yang terus berkembang, pola pemikiran ku secara pribadi berubah sejak tiga tahun yang lalu, dimana disitulah aku benar-benar bangun dari tidur panjang selama dua puluh empat tahun lalu, aku merasa baru tiga tahun aku belajar berpikir, lantas apa yang telah aku lakukan selama ini ?.

Aku terlalu banyak terjebak dalam pemikiran umum common sense hingga melahirkan sikap-sikap fatalis membunuh corak dan pribadi berpikir ku, aku termasuk orang yang lambat dalam menangkap realitas, ini merupakan sebuah penyesalan, khususnya terhadap sistem pendidikan bahwasanya pendidikan kita hari ini tidak menghasilkan emansipasi individu melainkan pendidikan hanya ditujukan pada pengembang biakan atau reproduksi tenaga-tenaga produksi. Akal kritis dimatikan demi kepentingan negara beserta pemodal, terseret dalam hagemoni borjuasi yang difasilitasi nasion state melalui media-medianya. Akupun sependapat dengan budayawan seperti Sudjiwo Tedjo bahwa sekolah hari ini hanya menjadi tempat untuk bercinta. Berharap pendidikan sekolah sebagai sebuah wadah pencerdasan emansipatif malah hanya menjadi tempat berkumpul dipenuhi metode belajar indoktrinasi yang kolot hingga berfungsi sebagai tempat saling mengenal, bercinta, dan tak menghasilkan apa-apa selain ijazah.

Jikalau dalam satu dasawarsa ini hal tersebut bisa diulang maka tindakan dekonstruktif lah jawabannya, terlalu banyak kesalahan, terlalu banyak waktu yang potensial ku lewatkan, perkembangan individu seharusnya seiring waktu usia mereka tetapi apalah daya, waktu itu kejam menghisap bak black hole yang tak pernah termuntahkan lagi.

Aku menyadari dan saat ini mungkin waktu yang tepat dalam berkontemplasi, muhasabah, introspeksi diri, sekaligus kritik atas fenomena dalam satu dasawarsa terakhir.

Dalam satu dasawarsa terakhir ini ada dua fenomena menonjol dalam kehidupan kita. Pertama, bahwa pemikiran mengenai hal-hal metafisik (mustika) sama sekali tidak berubah, hal ini kontradiktif dengan fenomena perkembangan teknologi yang semakin canggih, kepercayaan terhadap hal-hal berbau mistik sama sekali tidak ditinggalkan, tetapi malah perkembangan teknologi diinfiltrasi dalam dunia mistik, bagaimana mungkin hal kontradiktif ini malah digabungkan, lihat saja mereka yang gemar mencari hal-hal mistik dengan telepon pintarnya, bahkan menggunakan aplikasi-aplikasi canggih seperti radar ghost, atau bagaimana dengan mereka yang masih percaya takhayul tetapi lupa bahwa mereka sedang menggenggam tekhnologi canggih, percaya pada ramalan aplikasi dan sebagainya, hal ini merupakan fenomena kontradiktif bahwa tekhnologi tak dapat menghadirkan sebuah rasionalitas atas budaya mistik tetapi malah budaya mistik yang menarik teknologi kedunianya.

Kedua, bahwa dengan berkembangnya teknologi dan informasi dalam sepuluh tahun ini melahirkan sikap individualistik manusia, dan hal ini tidak hanya terjadi dalam skala perkotaan melainkan juga dalam skala pedesaan yang dikenal sebagai masyarakat kolektif sedikit demi sedikit perubahan evolutif itu nyata kearah individualistik, telepon pintar misalnya menjadi salah satu alat yang memisahkan individu secara sosial, seringkali kita temui lebih banyak orang yang asyik mengobrol dengan orang lain di layar teleponnya masing-masing sehingga tak jarang mengabaikan yang berada disekitarnya dan hal ini juga terjadi di pedesaan, lain pula dengan pengumpulan kapital, masyarakat desa daerah pada umumnya sekarang tak jauh beda dengan masyarakat perkotaan dimana akumulasi kapital sudah merambah pada penduduk pedesaan tetapi masih belum semasif perkotaan tapi ada potensi kecenderungan kearah sana, penggarapan tanah sepuluh tahun terakhir lebih berorientasi pada akumulasi kapital agraria, buruh-buruh tani, teh, kopi maupun cengkeh, juga pemanfaatan sumberdaya alam yang dikapling menjadi sumber wisata swasta, manusia memang selalu berpikir pada orientasi kepentingannya sebagai hal yang hakiki.

Dalam agama maupun politik pun berubah dalam satu dekade terakhir, agama kini kental menjadi jualan politik dan ini terjadi secara terang-terangan, politik pun demikian, saya heran apa benar manusia tidak pernah belajar dari sejarah atau kah memang sejarah selalu mengulang dirinya sebagai lelucon, politik identitas serta politik pencitraan laris manis dalam kanca perpolitikan di negeri ini, pencitraan menjadi sebuah senjata ampuh dalam mendulang suara dalam sebuah pemilihan mulai dari tingkat terendah hingga tingkat tertinggi seperti pemilihan presiden.

Apakah masyarakat ini sudah capek dikadalin ? dan bersikap pasrah menerima segala keadaan ataukah memang masyarakat kita ini mayoritas bodoh, itu relevan dengan tingkat literasi kita hari ini, bagaimana tidak jelas-jelas kehidupan masyarakat kita dalam tahun-tahun terakhir tidak pernah terlepas dari pemimpin-pemimpin dari kalangan oligarki yang senantiasa mementingkan pemilik modal ketimbang rakyat, tetapi mayoritas rakyat hanya diam ketika dieksploitasi, dirampas haknya bahkan diatur bak boneka dalam sebuah aturan baku bernama undang-undang, istilah Homo homini lupus sistem hukum rimba diterapkan tetapi mayoritas masyarakat hanya diam saja sungguh miris melihat kebodohan berjamaah ini terus berlanjut, masyarakat seolah terlanjur terbius dan mabuk dalam hagemoni borjuasi, kesadaran akan nalar kritis hialng, bahkan kaum intelektual pun bisa berbalik apabila dihadapkan pada kekuasaan, akar permasalahan negeri ini selamanya akan tetap tertanam tanpa adanya kesadaran sosial dan itu hanya didapat dalam budaya literasi.

Haruskah mereka semua dihadapkan pada tragedi terlebih dahulu sebelum mereka bereaksi atau membangun kesadaran kritis. Ataukah bahwa masyarakat kita sengaja tidak dicerdaskan, dimatikan nalar kritisnya lalu digiring dengan wacana palsu, kita ketahui bahwa politik negeri ini sebagai suatu barang yang sangat kotor, penuh dengan dinamika, tak ada kawan abadi dan tak ada lawan abadi, saling menjatuhkan, dan mereka yang berada di jalan benar siap-siap digoncang oleh para oligarki dan elit politik. Dalam Trias Politica (Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif) dipenuhi manusia-manusia Homo Homini Lupus yang harus akan kekuasaan siap memangsa siapapun juga, dan mangsanya tidak lain adalah "Rakyat" sebagai sumber objek politik.

Aku sangat pesimis melihat pola pikir masyarakat sekarang ini, selamanya kita akan dijajah, bukan hanya mereka modal asing, borjuis nasional, dan oligarki, melainkan "diri kita sendiri" karena budaya kemalasan (literasi) dan kesadaran kita (juga dalam bentuk praxis), dalam satu dekade ke dekade yang lain kita hanya menjalani kehidupan sebagai domba yang oleh para pengembala dengan bebas menyembelih kita.

DISTORSI MAKNA RADIKALISME


Dewasa ini muncul beberapa kebijakan pemerintah dalam menangani radikalisme yang sedang marak  yaitu dengan program "Deradikalisasi", atau upaya preventif maupun strategi dalam menetralisir paham-paham yang dianggap radikal. Dalam diskursus wacana publik kita hari ini, baik itu media, politisi, pemerintah, hingga kebanyakan masyarakat mengonstruksi kata radikalisme atau radikal menjadi menjadi momok yang dipenuhi stigma dengan konotasi negatif, reaksioner, intoleran hingga tidak terlepas dari pemaknaan terorisme.

Terminologi radikal dalam KBBI yang berarti, secara mendasar, keras menuntut perubahan, hingga maju dalam berpikir dan bertindak. Sedangkan kata radikalisme berarti  paham atau aliran yang radikal dalam politik, paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis, sikap ekstrem dalam aliran politik.

Kata radikal lahir sejak Revolusi Perancis (1787-1789). Mereka yang menentang kekuasaan feodalisme waktu itu disebut sebagai kaum radikal sekaligus golongan kiri yang ingin menjatuhkan kekuasaa atau Status Quo. term radikal berasal dari kata bahasa Latin yaitu radix yang berarti akar, atau yang berarti dasar. Mengacu pada individu, organisasi, maupun partai yang memperjuangkan perubahan sosial  politik secara mendasar.

Dalam tulisan Kosmas Mus Guntur di laman Indoprogress dengan judul Menjernihkan Manipulasi Kata Radikalisme, Guntur menjelaskan "Di negeri ini, radikalisme tidak terlihat wujudnya tetapi ditakuti. Ada kelompok yang distigma tergolong dalam gerakan “radikalisme” tetapi tidak jelas keberadaannya. Sebab tidak ada instrumen untuk mengidentifikasi orang atau kelompok radikalisme tersebut. Juga tidak ada tolok ukur yang valid untuk menentukan apakah gerakan itu radikal atau tidak?  Hemat saya, terorisme bukan bagian dari “radikalisme".

Wacana publik kita hari ini sering kali dikoyak-koyak oleh mereka yang menghamba pada Status Quo, baik dari elemen pemerintah secara langsung, media, hingga para budak buzzernya senatiasa selalu menghadirkan, menciptakan sebuah ketakutan-ketakutan publik yang sebetulnya tidak nyata, hanya sebagai tindakan preventif bagi mereka yang secara pemikiran atau paham-paham maupun ideologi berbeda atau tidak menyetujui kebijakan-kebijakan pemeritah. Inilah yang selalu digiring dan dibentunturkan dalam wacana pubik hingga tanpa disadari kita menginterpelasi ketika dihadapkan hal-hal yang dapat meransang stimulasi seperti fenomena terorisme kemudian melahirkan sikap-sikap reaksioner baik diperoleh secara langsung seperti fisik mapun tidak langsung melalui berbagai macam media.

Sebenarnya bukan cuma gerakan radikal yang melahirkan Chaos yang seringkali dicap sebagai terorisme, tetapi gerakan fundamentalis pun kerap kali mehirkan Chaos atau yang lebih dikenal sebagai terorisme. Tidak jarang mereka yang meneror bahkan dari orang-orang konservatif-agamis yang menolak nilai-nlai kebudayaan baru atau modernis atas dasar nilai moral menreduksi nilai-nilai humanisme. Juga kelompok yang lain seperti golonan ekstremisme sayap kanan, ultra-nasionalis seperti fasisme, supremasi kulit putih yang tidak segan menebar ancaman teror melahirkan Chaos bagi mereka yang kulit lebih gelap, sikap rasis terhadap mereka non kulit putih sebagai ras tertinggi, keinginan mendominasi menjadi superior dan menebar kebencian atas dasar ras, agama, imigran,  hingga seksualitas juga terhadap kelompok berseberangan dalam ideologi.

Lebih lanjut dari Kosmas Mus Guntur "Jika kampanye kebencian adalah ciri yang melekat pada radikalisme sayap kanan, ekstremisme sayap kiri (left-wing extremism) umumnya lahir dari gerakan dan pemikiran anti-kapitalisme, anti-kolonialisme. Gerakan ekstrimisme sayap kiri sangat militan dalam mengubah sistem politik yang telah melahirkan ketidakadilan sosial".

Radikalisme atau radikal tidak selalu relevan dengan kekerasan, banyak individu mapun kelompok yang berpikiran radikal, namun tidak melakukan kekerasan. Ia tumbuh sebagai ide dalam diskursus menuju kehidupan yang lebih baik, maju dalam berpikir dan bertindak, tentunya bersifat progresif. Jangan terjebak dan berhenti pada pandangan umum yang tidak jarang mengalami bias makna, bias informasi. menurutku setiap orang bahkan harus mempunyai pikiran-pikiran radikal dalam menjalani setiap problematika kehidupan.

Kekeliruan pemaknaan kata radikal dan radikalisme dapat mengungkung kebebasan berpikir, stigma radikalisme sudah jauh mengakar dalam kebudayaan kita hari ini, pandangan radikal dan radikalisme selalu mengerucut pada paham tindak teror dari kalangan agamawan, hal ini merupakan kemerosotan berpikir kritis dan kemalasan menggali sebuah makna hingga keaakar atau dasar. Sejatinya berpikir radikal harusnya selalu menjadi pondasi dalam pemikiran kita.

Bahkan bangsa ini lahir dan merdeka dari pemikiran-pemikiran radikal para tokoh pendiri bangsa, sebut saja Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Amir, Sjahrir dan para tokoh-tokoh muda zaman pergerakan mereka semua tumbuh dalam pemikiran-pemikiran radikal. Mengungkung pemikiran atau ide radikal sama dengan berakhir dalam pandangan ahistoris, berhenti, statis, hingga melahirkan sikap regresif. Sebuah kekeliruan berpikir ketika memaknai radikalisme dan terorisme adalah hal yang sama, radikal adalah radikal sedangkan teroris adalah teroris jelas dua makna yang berbeda, tidak dapat disamakan satu sama lain.

Ada adagium yang mengatakan "hanya ikan hidup yang melawan arus, dan hanya sampah, kotoran, dan ikan mati yang mengikuti arus".

MENGGUGAT INSTITUSI KECIL YANG TERKADANG OTORITER : BERNAMA "KELUARGA"



Sudah lama sekali saya ingin menulis gugatan atau kritikan terhadap komunitas terkecil dalam sebuah masyarakat ini, krtitik ditujukan bukan pada komunitasnya tetapi lebih pada pola pemikiran para kepala keluaganya. Keluarga merupakan tempat dimana individu-individu lahir dan besar, tempat individu memperoleh kasih sayang, baik dari orang yang membesarkannya terutama orang tua, bapak maupun ibu ataupun sanak saudara bahkan yang diluar ikatan darah sekalipun yang hidup dalam satu rumah sejak kecil hingga dewasa dan seterusnya, dan seterusnya. Tidak usah saya berpanjang lebar mendefinisikan hal-hal ini karena kompleksitasnya juga tergantung dari perspektif subjektif masing-masing bagaimana memaknai hal ini (keluarga).

Perkembangan individu ditentukan oleh faktor dominan bernama keluarga, seperti apa karakter atau corak keluarganya seperti itu pula individu yang akan dibentuk, tidak ada orang tua maupun keluarga yang ingin individu dipeliharanya salah jalan atau buruk, semua orang tua maupun keluarga ingin anaknya dijalan yang benar atau baik, tetapi terkadang realitas itu berbeda dengan paradigma umum kita. Bagaima individu-individu itu pada umumnya bermental budak ketimbang bermental pemimpin, individu yang bermental pemimpin lebih sedikit ketimbang individu bermental budak, timbul sebuah pertanyaan apakah tiap-tiap keluarga telah gagal mendidik individunya ?.

Aku mungkin termasuk salah satu individu yang bermental budak itu, kadang aku berpikir mengapa ini bisa terjadi, apa tujuan orang tua atau keluarga membentuk individu seperti ini. Kuakui keluargaku memang kebanyakan sukses dalam kategori pandangan umum masyarakat, bagaimana tidak mulai dari Kakek, Ibu, Tante hingga Omku semua adalah seorang Aparatur Sipil Negara atau PNS, paradigma PNS inilah yang taat pada aturan yang diterapkan didalam keluarga, semua serba diatur dibatasi dalam pandangan moralitas versi mereka, terkadang mereka sangat menjunjung tinggi Super Ego ketimbang Ego dan ID Individu dalam keluarga. Citra keluarga dimata masyarakat harus lebih ditonjolkan ketimbang psikologi perkembangan individu.

Jelas banyak kesalahan-kesalahan dalam pendidikan keluarga di masa kecil itu, terutama pada seorang Kakek, aku mengerti bahwa mereka menginginkan yang terbaik, tetapi terbaik versinya sendiri, kita anak atau cucu-cucunya dijadikan objek eksperimental pendidikan dalam keluarga yang penuh dengan kungkungan. Sejak kecil mendapatkan pendidikan tegas bahkan keras, cenderung otoriter aku tak tahu apa dan darimana mereka mendapat ilham dalam memdidik seperti itu, apakah memang nenek moyangnya kerap atau seringkali mempraktekkan pendidikan otoriter atau kah dalam pengaruh hagemoni orba ? Terkadang itu sangat kejam sama sekali bahkan terkadang kita disejajarkan dengan binatang ketika berbuat tidak seperti apa yang ia kehendaki.

Ada beberapa asumsi saya mengapa hal seperti ini terbentuk dalam pola berpikir mereka. Pertama, Sejarah Perbudakan Zaman Kolonial, bahwa pada umumnya mental orang-orang peninggalan hindia belanda ini cenderung bermental budak, karena takut mendapat perlakuan represif dari para kolonialis (Belanda) bisajadi mental-mental seperti itulah yang diturunkan turun temurun dari generasi ke generasi hingga sampai pada anak cucunya sekarang ini, lewat pendidikan versinya ia berbalik memposisikan dirinya menjadi sebagai seorang kompeni yang memperbudak pribumi (individu).

Kedua, Perlawan dan Darah, secara empiris mulai dari zaman kolonial belanda hingga sampai sekarang ini tindakan perlawanan selalu direpresi, kekerasan fisik sudah bukan hal yang tabu lagi bahkan nyawa melayang pun tidak jadi masalah, secara psikologis jelas pandangan-pandangan seperti ini bisa diturunkan, bagaimana kita lihat argumen sangat jarang dilawan dengan argumen, yang ada hanya tindak kekerasan maupun pembungkaman terlebih pada zaman-zaman peralihan yang selalu berakhir dengan darah dalam keluarga tidak jarang kita menemui seperti ini direpresi secara fisik merupakan metode membungkam secara turun temurun dikarenakan mereka tidak mampu menjelaskan duduk perkara atau keinginan mereka maka dari itu pentung lah yang berbicara.

Ketiga, Hagemoni Orde Baru Sebagai Corak, bukan tidak mungkin hal ini menjadi faktor tersembunyi dari apa yang dipraktekkan para kepala keluaga, kebanyak dari kita mempraktekannya hari ini khususnya mereka yang merasakan hidup dibawah rezim yang paling bringas ini sepanjang sejarah Indonesia, brutalisme menjadi hal biasa-biasa saja dalam mendidik, semua harus tunduk, harus patuh terhadap perintah, tidak boleh berpenampilan macam-macam, jangan bersikap kritis dimulai dalam keluarga itu sendiri, yang berani melanggar perintah ataupun moral siap-siap kena pentung, sapu, selang, hingga kayu, inilah yang merekonstruksi imajinasi individu (anak,cucu) pada waktu itu untuk tunduk pada kepala keluarga secara mutlak, kita diajarkan untuk patuh terhadap segala macam perintah, bagai kerbau yang cucuk hidungnya diikat dan digiring kesana, kemari seperti itulah kita, itulah yang membentuk sikap dan mental kita hari ini.

Keempat, Budaya dan Moralitas, budaya dan moralitas dalam kehidupan bermasyarakat tidak bisa dihindari, budaya yang membentuk semua dari ketiga faktor diatas dan moralitas yang melegitimasi, justifikasi, benar atau salahnya tindakan seorang individu. Budaya yang hari ini adalah budaya budak, baik bentukan masa lampau maupun budaya bentukan agama, saya skeptik dan tidak terlalu percaya kepada yang katanya para pewaris-pewaris Nabi ini dalam struktur hierarkisnya, penafsiran atas teks nya perlu dikaji ulang, bagaimana bisa seorang muslim yang sekarang ini menampakkan wajah bringasnya, brutalisme, sadisme hingga vandalisme dia kerjakan, demi menjunjung tinggi yang namanya anti maksiat, entah maksiat konteks bagaimana yang mereka maksud hingga kerap melakukan hal-hal diluar esensi manusiawinya. Sementara konvensi-konvensi  melahirkan konstruksi moralitas benar, salah hal-hal yang menjadi pandangan umum benar, salah ia tidak difilterasasi secara baik, karena kurangya pengetahuan kepala keluarga, cenderung bertitik tolak pada konstruksi moralitas sosial yang dipandang paling benar dalam pandangan masyarakat umum dan secara brutal diimplementasikan kedalam kehidupan berkeluarga.

Pendidikan agama jelas merupakan faktor besar dalam keluarga, saya belum pernah dapati ada keluarga yang memberi kesempatan kepada anaknya untuk memilih agamanya sendiri, semua pasti akan melakukan indoktrinasi kepada anaknya masing-masing, sesuai dengan ajaran agama, mayoritas keluaga atau pemimpin keluarganya, mungkin alasan mereka terikat  dalam dalil-dalil seperti bahwa barang siapa yang tidak menurunkan agamnya kepada anak, cucunya kelak dia akan ditarik anak, cucunya dari neraka (apabila anak cucunya berbeda agama dalam konteks islam). Hal-hal seperti indoktrinasi melekat,mendarah daging hingga tanpa kita sadari kita telah menjadi keluarga otoriter dengan segala macam aturan dan indoktrinasinya dengan slogan palsunya “KELUARGA TAHU APA YANG TERBAIK UNTUK KAMU NAK”.

Persetan dengan itu semua, kita selalu menginginkan kehidupan berdemokrasi dalam kehidupan bermasyarakat tetapi kita sendiri menginggkari dalam kehidupan berkeluarga. Anak ataupun Cucu dijadikan objek eksperimen tentu dengan asumsi agar dia menjadi lebih baik tetapi kadang kala kita tidak melihat atau melupakan variabel-varibel lain bahwa “anak itu juga adalah manusia SUBJEKTIF yang juga harus diperlakukan secara demokratis”  pikirannya harus dibebaskan, diliarkan seliar mungkin disitulah muncul imajinasi-imajinasi, kreativitas dan memaksimalkan potensinya sebagai manusia sejati, manusia bebas yang betul betul manusia, anak atau cucu harus dimanusiakan layaknya manusia dalam esensinya. Paradigma mendominasi memang tidak bisa lepas darikita itulah bentukan historis sejarah dalam konotasi negatif, membentuk manusia-manusia yang tidak berdikari atau mandiri, kurannya tanggung jawab, dampaknya membentuk anak-anak bangsa yang bermental budak, mengekor pada setiap trend zaman, baik secara ekonomi maupun kehidupan sosial.

Jika kita melihat problem ini dalam perspektif filosof Habermas dalam kritiknya terhadap rasionalitas modern, kita dapat menarik kesimpulan bahwa tujan pendidikan dalam keluarga pada umumnya cenderun berorientasi pada hal-hal objektif menuju pada kepentingan tekhnis yang merupakan ciri khas pemikiran modern seperti saat ini, ini tidak jauh-jauh dalam realitas sosial hari ini, dimana sistem yang bernama kapitalisme mempunyai dampak hagemonik hingga pada tatanan keluarga. Hubungan antara pemimpin keluarga dengan anak bersifat Subjek-Objek, kepala keluarga cenderung mengobjekkan anak ketimbang memandangnya sebagai subjek dengan rasio instrumentalnya, dimana ciri khas pemikirannya memandang segala sesuatunya secara objektif dengan menjadikannya sebagai alat untuk mencapai sesuatu atau tujuan, bisa jadi sesuai dengan yang diinginkan kepala keluarga tersebut, padahal keliru ketika kita mengobjekkan individu atau manusia dengan segala kompleksitasnya. Individu atau anak terjebak dalam kondisi yang disebut Reifikasi atau pandangan menjadikan manusia sebagai benda atau alat, sehingga anak akan menjadi semakin teralienasi.

Para kepala keluarga lupa atau bahkan mungkin tidak tahu sama sekali, bahwa lebih baik menggunakan pendekatan metode persuasif dengan rasio komunikatif, yaitu mendalami, memahami, apa keinginan atau kepentingan sang anak dan meletakkannya sebagai Subjek atas Subjek pertemuan antara kepentingan-kepentingan intersubjektif ini mencapai kesepakatan bersama hingga melahirkan sebuah emansipasi pada anak. Problem utamanya ialah kebanyakan dari kita tidak mampu mengonstruksikan "Komunikasi Dua Arah" Communicative Action secara demokratik, kita cenderung mengonstruksi relasi-relasi yang mengobjekkan, mendominasi bahkan otoriter, seyogianya kehidupan keluarga itu haruslah berdasarkan nilai-nilai domokratis, memanusiakan manusia menghargai antar keluarga kemudian menciptakan Mutual Understanding saling memahami, dan berlanjut pada kesepakatan atau konvensi-konvensi dalam keluarga, antara Bapak, Ibu, dan Anak.

Pendidikan harus bersifat demokratis sejak dalam sebuah komunitas kecil seperti keluarga, memahami apa keinginan individu, memanusiakan individu, menjadikannya mahluk subjektif yang bebas.  Bebaskan dulu dirimu, keluargamu, sebelum kamu membebaskan masyarakatmu.

APAKAH AKU SEORANG MARXIS ?



Marxisme merupakan salah satu ideologi terkemuka yang lahir pada abad ke-19, sebagai antitesis  sistem kapitalisme, ideologi penuntun kelas pekerja (proletariat) dalam menjalankan tugas historisnya yaitu mewujudkan masyarakat tanpa kelas lewat revolusi proletariat.

John Ingelson pernah berkata “Apabila pada usia dua puluh tahun kau tidak menjadi Marxis, mungkin karena kau tidak punya perasaan. Dan, apabila pada usia empat puluh tahun kau tidak menjadi Marxis, sudah pasti karena kau tidak punya otak”. Agak seram juga mendengar kata-kata Ingelson ini, tetapi saya percaya Marxisme sejatinya lahir atas dasar pandangan humanis, dengan dasar pembebasan eksploitasi manusia atas manusia atau “Exploitation de I’homme par I homme”, seperti yang pernah dilontarkan Bung Karno dalam pidatonya mengkritik kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme.

Faktor subjektivitas yang membuat perbedaan atas interpretasi tentang suatu paham, beritupun Marxisme, apa yang diterapkan Uni Soviet, China, Kuba, Vietnam, hingga PKI di Indonesia, merupakan interpretasi subjektif masing-masing, sebuah kesalahan fatal apabila men-generalisasi Marxisme ataupun Komunisme yang diterapkan oleh negara-negara tersebut. Interpretasi maupun corak pemahaman dari mereka jelas berbeda-beda antara, Leninis, Trotskys, Rosa Luxemburg, dan Stalinis, begitupun Maois, juga Josip Broz Tito seorang revolusioner dari Yugoslavia yang secara jelas bertentangan dengan Stalin padahal sama mengatasnamakan Marxisme, begitu juga dengan para Marxis Ortodoks seperti, Engels, Plekhanov, maupun Kautsky, juga kelompok Mazhab Frankfurt, Horkheimer,Marcuse hingga Habermas, dalam negeri ada Tan Malaka, Aidit, maupun Soekarno, semua menafsirkan dengan versinya sendiri secara subjektif.

Interpretasi atas teks jelas melahirkan pandangan yang berbeda-beda secara subjektif, manusia sejatinya merupakan mahluk yang unik. Timbul pertanyaan dari secara keseluruhan diatas mana yang dapat dipandang sebagai Marxisme sejati ? Jelas mereka semua merupakan seorang Marxis, bertumpuh pada pemikiran Karl Marx sebagai poros dasar dialektika, masalah label sebagai Marxisme yang sejati itu tidak dapat diukur, hal yang abstrak, alam semesta senantiasa bergerak, mengalami evolusi-evolusi, melalui kontradiksi alam. Masing-masing Individu maupun kelompok menafsirkan dengan metodenya sendiri yang berdasar pada realitas sosial historisnya.

MENGENAL PERTAMAKALI MARXISME

Kata Komunisme lebih familiar ditelinga saya dari pada kata Marxisme waktu itu, diakibatkan sejarah kelam yang mengkambing hitamkan PKI (G30SPKI) pada tahun 1965, sejarah abstrak ini menjungkirbalikkan pemahaman tentang Komunisme di Indonesia, lewat proganda media melahirkan sebuah hagemoni yang memandang Marxisme ataupun Komunisme sebagai ideologi sesat, ateis, bahkan kejam, jelas sebuah pen”distorsi”an atas sebuah pemahaman ideologi, hal ini pun menjadi babak baru bagi Marxisme yang dimatikan, baik secara ideologi maupun secara material.

Saya mulanya mengenal Marxisme pada umur 24 tahun, cukup telat untuk seorang pemuda dan pelajar yang berjiwa militan, bahkan mungkin menjadi salah satu orang yang tidak punya perasaan seperti kata Ingelson, tapi tak ada kata terlambat untuk seseorang yang benar-benar ingin mendapatkan Ilmu pengetahuan, baik dalam teori maupun praksis. 

Pertemuan dengan pemahaman Marxisme terjadi secara tidak sengaja dan berlangsung otodidak. Mulanya saya merupakan seorang yang anti dengan berbagai bacaan-bacaan dan kejadian ini cuma iseng belaka yaitu membaca sebuah artikel tentang fenomena krisis sosial, yang memuat solusi pemecahan malsalahnya dengan pandangan Maxisme. Saya mendapati banyak hal yang kontradiktif dengan pemahaman umum saya selama ini, stigma tentang Marxisme maupun Komunisme membuat saya menjadi lebih skeptis. Banyak hal yang mengganjal pikiran saya, sangat berbau kontraditif , antara pemahaman saya selama ini tentang Komunisme dengan setelah saya melakukan pendalaman terhadap bacaan-bacaan berbau Marxisme, lalu memutuskan untuk membeli buku-buku tentang Marx dan Marxisme.

Pada akhirnya setelah mendalami secara tidak langsung saya jatuh hati kepada Marxisme, juga hal ini yang membuat kesadaran literasi, membaca,menulis, saya tumbuh, secara keseluruhan Marxisme lah yang membuka alam pikiran saya mengejar ilmu pengetahuan walaupun secara otodidak. Waktu yang dihabiskan di bangku sekolah selama ini hanya sebagai sebuah fenomena perjalan hidup yang kosong tanpa ilmu, tidak lebih dari tempat untuk bertemu dan berinteraksi dengan individu-individu lain, ilmu pengetahuan yang didapat di sekolah hanya sebuah informasi belaka tanpa telaah dilandasi dari proses menghafal yang membosankan sekaligus membodohkan kemudian hilang seiring berjalannya waktu kehidupan.

Marxisme dalam paradigma saya lebih dari sebuah paham ataupun ideologi, bagiku Marxisme adalah sebuah sains, metode ilmiah ditopang oleh teori dan praksis yang bertujuan memuliakan manusia. Mereka yang peduli pada kemanusian tidak sulit untuk memasuki alam pikiran Marx dan Marxisme. Che Guevara pernah berkata, “Siapa yang mengatakan bahwa Marxisme tidak memiliki jiwa,tidak memiliki perasaan ? Justru rasa cinta akan manusia yang melahirkan Marxisme. Rasa cinta terhadap manusia, kemanusiaan, keinginan untuk menghancurkan kesengsaraan kaum proletar, keinginan melawan kemiskinan, ketidakadilan, penderitaan, dan eksploitasi terhadap kaum proletar, itulah tepatnya yang menjadi sumber pemikiran Karl Marx yang memungkinkan Marxisme muncul.”

Marxisme dalam teori dan praksisnya tidak jarang terjadi pembiasan, simplifikasi, bahkan reformis kearah yang lebih jauh, pemahaman atas teks dan kepentingan merupan dua hal penentu kontekstualisasi secara subjektif. Menjadi jawaban akan praktik-praktik keberhasilan revolusi atau bahkan menjadi sebuah brutalisme dalam kekuasaan.  Uni Soviet menjadi contoh akan hal itu, keberhasilan revolusi berdasar pada kedisiplinan tinggi partai revolusioner (Bolshevik) dibangun atas dasar-dasar teori Marxisme, Lenin yang berdialektika dengan Marxisme membangun sebuah kesadaran revolusioner kemudian meruntuhkan kekuasaan Tsar dan Pemerintahan sementara lewat revolusi sosial. Terlepas dari itu kekuasaan Lenin juga melakukan tindakan brutalisme terhadap pelaut-pelaut revolusioner “Kronstadt” yang merupakan meterial revolusi dalam menggulingkan kekuasaan Tsar dan Pemerintahan sementara. Begitupu pembacaan dan implementasi Stalinis atas Marxisme yang kemudian malah melahirkan kediktatoran tirani dan bukan kediktatoran proletariat. 

Stigma tentang komunisme tidak bisa terlepas dari peran subjektivitas-subjektivitas, begitupun dengan Aufhebung dialektika, faktor pemahaman atas teks dan kepentingan selalu menjadi penentu pandangan umum sebuah ideologi. Hari ini, banyak kritik maupun sarkastis tentang Marxiseme, baik dari golongan kiri itu sendiri maupun kanan, telah banyak yang meragukan dan mempertanyakan kembali eksistensi dan relevansi dari Marxisme, tetapi bagiku Marxisme tetap relevan selama sistem kapitalisme dan eksploitasi masih ada. Ia akan tetap dipelajari, dinamis, dan terus bekembang seiring perkembangan zaman.

Timbul pertanyaan terakhir, Apakah aku seorang Marxis ? Jawabnya Marxisme adalah pusat dialektika pemikiran saya dalam memandang perubahan sosial, manusia bebas mengadopsi pemikiran apa dan siapa saja, tanpa harus berhenti pada satu orang tertentu, kemudian mengolahnya dengan pemikiran sendiri, dan tidak terikat pada satu ilmu apalagi menjadi seorang pendogma pada suatu ilmu, bahkan Marx sendiri menolak bahwa dirinya seorang Marxis, ia berkata "Aku Bukan Seorang Marxis" satu poin penting Marx tentang dogma, sekaligus mengajaran agar setiap individu berpikir bebas tanpa kekangan pemikiran-pemikiran besar, maka peran subjektivitas menjadi kunci dalam melahirkan pemikiran baru. Seseorang bahkan harus membunuh tokoh idola mereka sendiri sejak dalam pikiran agar bisa keluar dari kungkungan sebuah disiplin ilmu.

SEBUAH ASUMSI



Ada banyak kerancuan, hal-hal kontradiktif dalam sistem pendidikan maupun metode mendidik orang-orang dewasa ini, yang kerapkali dianggap hal-hal yang sepele dan wajar, mulai dari komunitas terkecil  dalam masyarakat seperti keluarga, lingkungan sekitar, sekolah,  hingga kehidupan sosial kultural secara universal. Banyak sekali toxic, maupun sesat berpikir yang mengekang potensi manusia.

Aku tak begitu paham dengan metode pendidikan di negeri, lain tapi di negeri kita sungguh berbagai macam aturan-aturan aneh dibuat oleh mereka mayoritas subyektif menimbulkan terlalu banyak bias-bias yang tidak jarang membunuh manusia secara karakter sebagai ekssistensi yang  bebas. Kebebasan merupakan sesuatu hal yang abstrak, dan kita selama ini memang hidup dalam derasnya arus mayoritas atas konvensi-konvensinya melahirkan sebuah moralitas yang cenderung logosentris, mungkin kebebasan hari ini hanya merupakan mitos-mitos realitas.

Perasaan sepi, sunyi dan sendiri selalu menyelimuti diri, dikala seakan makin bertambah ilmu pengetahuan yang saya miliki makin merasa sendiri pula lah aku, memahami realitas dengan pandangan logosentris ibarat seekor ikan yang ada di dalam sebuah kolam, ikan akan bahagia hidup di dalam kolam selama ia tak mengenal luasnya samudera.

Memandang sesuatu dengan picik merupakan ciri Common Sense hari ini, demokrasi yang luas mati karena logosentris, yang ada kini hanya demokrasi borjuasi, demokrasi para kapitalis yang setiap waktu mengeksploitasi mayoritas hingga menciptakan lubang besar atau kesenjangan anatara kedua kelas dominan Borjuasi dan Proletariat dalam masyarakat. Lewat ideologi Laissez Faire dan Laissez Passer nya sistem kapitalisme tidak terbendung lagi dalam mendominasi dan memonopoli dunia, pemerintah yang seyogianya menjadi wasit antara kapitalis dan warga mayoritas juga terseret dalam arus para kapitalis, bahkan di negeri ini pemerintah memiliki pemahaman unik yang dualisme menjadi seorang pemerintah sekaligus borjuasi kapital, artinya disamping mereka sebagai wasit mereka juga merangkap sebagai pemain.

Kembali pada anilisis awal tentang pendidikan yang melahirkan generasi seragam bukan beragam. Kebanyakan kita terjebak dalam arus hagemoni konstrusksi kapitalisme, hingga ke akar yang paling substantif yaitu pendidikan. Sebagian besar kita sukses menjadi aparatus-aparatus ideologi negara, kita melegitimasi semua perintah maupun aturan negara, sistem afirmasi secara psikologis kita lemah, karena pelemahan pendidikan itu sendiri, dimana berbagai macam literasi yang beberda pandangan dengan mayoritas ataupun negara harus dibrangus, disita dan dilarang, bukan cuman karena sejarah kelam yang belum tentu kebenarannya, tetapi untuk melanggengkan Status Quo

Kita dibiasakan menerima yang seharusnya kita tolak dalam keadaan akal sehat kita karena merugikan diri kita sendiri, melalui beberapa aturan yang dibuat diikat dalam sebuah undang-undang kebanyakan dari kita bahkan tidak peduli dan merima begitu saja kebijakan seperti ini.

Mayoritas mereka yang kita anggap sebagai wakil dari rakyat malah ikut bernegosiasi dengan para oligarki dalam memangsa rakyat sendiri, merancang undang-undang melemahkan institusi penegakan hukumseperti KPK, hingga mengikat kebebasan rakyat, tidak kah mereka lupa bahwa gaji, tunjangan yang mereka terima adalaha hasil keringat rakyat, atau kah memang mahluk-mahluk yang duduk di kursi legislatif itu adalah mahluk setengah iblis yang tidak bermoral, yang menjelma dan mengaku sebagai bagian dari rakyat setiap lima tahun sekali.

Adapun mereka (para intelektual organik) yang melawan siap-siap direpresi, bukan hanya secara fisik melalui aparatus represi negara, melainkan secara verbal baik secara langsung maupun melalui media dibarengi distorsi informasi atau yang populer dikenal sebagai hoaks.

KESALAHAN-KESALAHAN

Pendidikan kita yang paling dasar dalah pendidikan di rumah melalui komunitas kecil yang namanya keluarga. Apa jadinya jikalau keluarga kita ikut berpandangan logosentris, kolot, konservatif, dan berpandangan yang seragam secara umum tentu akan melahirkan turunan yang sama pada komunitasnya, berada dijalur yang sama, bahkan saya sendiri mengalami hal tersebut. Ini bukan masalah rasa tidak bersyukur karena kita mempunyai keluaga, melainkan apa yang mereka turunkan, wariskan kepada kita, yang bukan secara material, tetapi hal yang subtantif yang mempengaruhi psikologis, pandangan, metode berpikir kita sebagai mahluk subjektif. Manusia merupakan mahluk ideologi, atau tepatnya manusia subjektivitas ideologi. Ditempa atau diindoktrinasi pertama oleh komunitas kecil yaitu keluarga, dan subjek ini sangat terpengaruh oleh komutas kecilnya. Seperti apa corak komunitas kecinya seperti itu pula ia corak yang akan ia bentuk.

Misalnya corak komunitas kecilnya bersifat agamis konservatif maka ia pun akan melahirkan subjek agamis konserfatif pula, corak komunitas kecilnya mengejar mengumpulkan kapital maka akan melahirkan tidak jauh-jauh hal seperti demikan. Saya percaya kata-kata Marx yang mengatakan “bukan kesadara yang menetukan keadaan sosial tetapi keadaan sosiallah yang menentukan kesadaran”. Inilah yang harusnya mengalami sebuah dekonstruksi, mulai dari tingkat yang paling kecil dalam masyarakat yaitu pemahaman keluarga. 

Literasi merupakan salah satu yang dapat membebaskan manusia secara radikal dari kepicikan berpikir, pemahaman yang komprehensif tidak terjebak dalam logosentrisme, pandangan umum mayoritas.

Adapun dalam komunitas yang lebih luas seperti dalam pendidikan sekolah, sekolah saat ini hanya  berorientasi mereproduksi tenaga kerja yang akan digunakan oleh kapitalis sebagai meterial produksi yang menghasilkan nilai lebih, meperkaya borjuasi menciptakan proletariat dan hal ini sudah mereka terapkan dalam gaya atau pola pendidikan, dimana corak proses produksi diimplementasikan pada bangku sekolah, mulai dari jam sekolah, hingga kompetisi dalam pendidikan. Barang tentu tidak menciptakan generasi emansipatif dengan pemikiran bebas. Tak heran jika indeks pendidikan kita semakin terbelakang, OECD (Organisation for Economic Coperation and Development) mengumumkan hasil PISA (Programme for International Student  Assesment), skor PISA Indonesia dalam bidang membaca  317 ke-enam dari bawah(74), matematika 379 ke-tujuh dari bawah(73), dan sains 389 ke-sembilan dari bawah(71).

Pendidikan kita sama sekali bahkan tidak menyentuh ciri-ciri emansipatif. Banyak sekali kesalaha-kesalahn mulai dari kurikulum hingga material subjektif yaitu para pengajar atau lebih dikenal sebagai guru. Para pengajar menyerupai peran seorang mandor yang otoriter dalam proses peroduk tak jarang guru-guru kita pun banyak sekali masih terjebak dalam pemikiran logosentrisme, konservatif dan menerapkan pola pendidikan feodalistik. Tidak mudah merubah hal-hal yang telah mendarah daging dibentuk dari konstruksi hagemoni masa lampau. Jujur selama saya bersekolah mulai dari Sekolah Dasar hingga Universitas, saya belum pernah mendapati orang yang betul-betul bisa disebut guru dalam konteks pemahaman saya. Bukannya saya tidak menghargai mereka, tetapi kualitas dan metode mereka dalam mengajar betul-betul membosankan, kolot, terikat kurikulum melahirkan generasi yang statis bukan generasi kritis.

Mereka betul-betul tidak dapat meyakinkan saya tentang ilmu yang mereka bawakan, kesalahan saya dimasa lampau terlalu beharap pada ajaran seorang guru lewat sekolah, pemikiran saya pada masa itu bersifat fatalistik, juga memandang ilmu pengetahuan itu bersifat deterministik dan keniscayaan, bahwa semakin tinggi sekolah seseorang maka ia akan semakin cerdas manusia yang dihasilkan, dan ini yang membunuh pemikiran kritis saya dimasa lampau. Satu-satunya yang menjadi guru dan tempat saya berdialektika hanyalah “Buku”. 

Dengan membaca buku-buku (kiri) terkadang juga (kanan) hanya sebagai komparasi juga berdasarkan realitas sosial, disitulah saya semakin diperlihatkan dan disadarkan bahwa selama ini, saya tertidur dengan segala fenomena sosial yang saya jalani. Sekaligus kritik terhadap mereka (sekolah,universitas, material pengajar) yang gagal dan tidak mampumembebaskan pikiran saya dari pandangan umum “Common Sense “ dari ilmu yang mereka miliki.

Mereka (pengajar) sebagian banyak, sama sekali tidak mengerti pola berpikir Hermeneutika, metode memahami teks, konteks lalu mengkontekstualisasikannya pada murid, mereka bukan intelektual organik, melainkan hanya intelektual-intelektual tradisional konservatif yang mengekor pada setiap teori-teori yang telah dirancang oleh kurikulum. Mereka bahkan tidak bisa membebaskan dirinya sendiri, bagaimana mau membebaskan orang lain, jikalau diri sendiri masih terkekang dalam subjektivitas ideologi mengekang kebebasan, mereka hanya menjadi klien atas patron.

Murid hanya dijadikan sebuah objek, yang terus-terusan diisi berbagai macam ilmu-ilmu alam, spritual, maupun eksakta yang disesuaikan dengan pekerjaan industri dimasa depan, modernisasi melalui revolusi industri benar-benar melahirkan sebuah dehumanisasi.
Pandangan umum yang logosentrisme ini merupakan kesalah berpikir mematikan nalar kritis, tidak akan lahir generasi yang membawa kemajuan tanpa adanya pendidikan kritis. 

Masyarakat kita harus mengalami sublimasi pembaharuan cara berpikir perubahan kearah yang lebih tinggi dari proses dialektika pendidikan. Para pengajar wajib untuk memahami proses epistemologi secara radikal, merangsang keterampilan berpikir para murid, dimulai dengan asumsi-asumsi Ketidak tahuan atau keragu-raguan, bagaimana sebuah pengetahuan itu ditemui melalui Experience ataupun Reason, yang memnghasilkan sebuah pengetahuan “Knowledge” yang kelak menjadi kepercayaan-kepercayaan, hingga memnghasilkan sebuah Sains “Science”  atau Ilmu pengetahuan baru, kemudian membentuk paradigma baru atau “World-View” hingga akhirnya menjadi sebuah panutan dalam berpikir dalam bertindak. Itulah yang sebaik-baiknya dilakukan oleh para pengajar, menganalis dan merangsang para murid untuk berpikir kritis hingga ke akar-akar permasalahan dan diakhiri dengan sebuah kemajuan dalam Praksisnya. Saya hanya seseorang yang ingin berpikir bebas tanpa terjebak dalam kekeliriuan arus berpikir universalitas, setiap orang harus membebaskan dirinya sendiri sebelum membebaskan orang lain mulai dalam pikiran. Pemikiran yang tanpa praksis hanya sebuah utopia belaka, praksis tanpa teori melahirkan jalan buntu, maka terori tidak pernah lepas dari praktiknya.

Lebih baik menjadi seekor burung yang kesepian terbang bebas dengan sayapnya, daripada menjadi seekor domba yang berbondong-bondong tetapi digiring kesana-kemari untuk disembelih.