Kehidupan berlangsung terasa cepat hingga tak terasa sudah satu dasawarsa, perubahan, dialektika alam objek maupun diri sendiri sebagai subjek sungguh terasa, awal 2010 tekhnologi handphone dan laptop menjadi sangat primadona, mereka yang memilikinya tentu mereka yang kalangan menengah keatas, laju perkembangan teknologi dan informasi begitu pesat dalam satu dasawarsa ini, hingga mencapai revolusi industri 4.0 seperti sekarang, dimana tekhnologi begitu canggih merambah di masyarakat semua kalangan, teknologi seperti telepon pintar, laptop canggih dengan spesifikasi luar biasa, kendaraan dengan bahan bakar listrik hingga mode apalikasi-aplikasi canggih yang memungkinkan seseorang dapat berkomunikasi dengan tatap muka secara langsung dalam waktu yang sama.
Begitupun dengan subjeknya yang terus berkembang, pola pemikiran ku secara pribadi berubah sejak tiga tahun yang lalu, dimana disitulah aku benar-benar bangun dari tidur panjang selama dua puluh empat tahun lalu, aku merasa baru tiga tahun aku belajar berpikir, lantas apa yang telah aku lakukan selama ini ?.
Aku terlalu banyak terjebak dalam pemikiran umum common sense hingga melahirkan sikap-sikap fatalis membunuh corak dan pribadi berpikir ku, aku termasuk orang yang lambat dalam menangkap realitas, ini merupakan sebuah penyesalan, khususnya terhadap sistem pendidikan bahwasanya pendidikan kita hari ini tidak menghasilkan emansipasi individu melainkan pendidikan hanya ditujukan pada pengembang biakan atau reproduksi tenaga-tenaga produksi. Akal kritis dimatikan demi kepentingan negara beserta pemodal, terseret dalam hagemoni borjuasi yang difasilitasi nasion state melalui media-medianya. Akupun sependapat dengan budayawan seperti Sudjiwo Tedjo bahwa sekolah hari ini hanya menjadi tempat untuk bercinta. Berharap pendidikan sekolah sebagai sebuah wadah pencerdasan emansipatif malah hanya menjadi tempat berkumpul dipenuhi metode belajar indoktrinasi yang kolot hingga berfungsi sebagai tempat saling mengenal, bercinta, dan tak menghasilkan apa-apa selain ijazah.
Jikalau dalam satu dasawarsa ini hal tersebut bisa diulang maka tindakan dekonstruktif lah jawabannya, terlalu banyak kesalahan, terlalu banyak waktu yang potensial ku lewatkan, perkembangan individu seharusnya seiring waktu usia mereka tetapi apalah daya, waktu itu kejam menghisap bak black hole yang tak pernah termuntahkan lagi.
Aku menyadari dan saat ini mungkin waktu yang tepat dalam berkontemplasi, muhasabah, introspeksi diri, sekaligus kritik atas fenomena dalam satu dasawarsa terakhir.
Dalam satu dasawarsa terakhir ini ada dua fenomena menonjol dalam kehidupan kita. Pertama, bahwa pemikiran mengenai hal-hal metafisik (mustika) sama sekali tidak berubah, hal ini kontradiktif dengan fenomena perkembangan teknologi yang semakin canggih, kepercayaan terhadap hal-hal berbau mistik sama sekali tidak ditinggalkan, tetapi malah perkembangan teknologi diinfiltrasi dalam dunia mistik, bagaimana mungkin hal kontradiktif ini malah digabungkan, lihat saja mereka yang gemar mencari hal-hal mistik dengan telepon pintarnya, bahkan menggunakan aplikasi-aplikasi canggih seperti radar ghost, atau bagaimana dengan mereka yang masih percaya takhayul tetapi lupa bahwa mereka sedang menggenggam tekhnologi canggih, percaya pada ramalan aplikasi dan sebagainya, hal ini merupakan fenomena kontradiktif bahwa tekhnologi tak dapat menghadirkan sebuah rasionalitas atas budaya mistik tetapi malah budaya mistik yang menarik teknologi kedunianya.
Kedua, bahwa dengan berkembangnya teknologi dan informasi dalam sepuluh tahun ini melahirkan sikap individualistik manusia, dan hal ini tidak hanya terjadi dalam skala perkotaan melainkan juga dalam skala pedesaan yang dikenal sebagai masyarakat kolektif sedikit demi sedikit perubahan evolutif itu nyata kearah individualistik, telepon pintar misalnya menjadi salah satu alat yang memisahkan individu secara sosial, seringkali kita temui lebih banyak orang yang asyik mengobrol dengan orang lain di layar teleponnya masing-masing sehingga tak jarang mengabaikan yang berada disekitarnya dan hal ini juga terjadi di pedesaan, lain pula dengan pengumpulan kapital, masyarakat desa daerah pada umumnya sekarang tak jauh beda dengan masyarakat perkotaan dimana akumulasi kapital sudah merambah pada penduduk pedesaan tetapi masih belum semasif perkotaan tapi ada potensi kecenderungan kearah sana, penggarapan tanah sepuluh tahun terakhir lebih berorientasi pada akumulasi kapital agraria, buruh-buruh tani, teh, kopi maupun cengkeh, juga pemanfaatan sumberdaya alam yang dikapling menjadi sumber wisata swasta, manusia memang selalu berpikir pada orientasi kepentingannya sebagai hal yang hakiki.
Dalam agama maupun politik pun berubah dalam satu dekade terakhir, agama kini kental menjadi jualan politik dan ini terjadi secara terang-terangan, politik pun demikian, saya heran apa benar manusia tidak pernah belajar dari sejarah atau kah memang sejarah selalu mengulang dirinya sebagai lelucon, politik identitas serta politik pencitraan laris manis dalam kanca perpolitikan di negeri ini, pencitraan menjadi sebuah senjata ampuh dalam mendulang suara dalam sebuah pemilihan mulai dari tingkat terendah hingga tingkat tertinggi seperti pemilihan presiden.
Apakah masyarakat ini sudah capek dikadalin ? dan bersikap pasrah menerima segala keadaan ataukah memang masyarakat kita ini mayoritas bodoh, itu relevan dengan tingkat literasi kita hari ini, bagaimana tidak jelas-jelas kehidupan masyarakat kita dalam tahun-tahun terakhir tidak pernah terlepas dari pemimpin-pemimpin dari kalangan oligarki yang senantiasa mementingkan pemilik modal ketimbang rakyat, tetapi mayoritas rakyat hanya diam ketika dieksploitasi, dirampas haknya bahkan diatur bak boneka dalam sebuah aturan baku bernama undang-undang, istilah Homo homini lupus sistem hukum rimba diterapkan tetapi mayoritas masyarakat hanya diam saja sungguh miris melihat kebodohan berjamaah ini terus berlanjut, masyarakat seolah terlanjur terbius dan mabuk dalam hagemoni borjuasi, kesadaran akan nalar kritis hialng, bahkan kaum intelektual pun bisa berbalik apabila dihadapkan pada kekuasaan, akar permasalahan negeri ini selamanya akan tetap tertanam tanpa adanya kesadaran sosial dan itu hanya didapat dalam budaya literasi.
Haruskah mereka semua dihadapkan pada tragedi terlebih dahulu sebelum mereka bereaksi atau membangun kesadaran kritis. Ataukah bahwa masyarakat kita sengaja tidak dicerdaskan, dimatikan nalar kritisnya lalu digiring dengan wacana palsu, kita ketahui bahwa politik negeri ini sebagai suatu barang yang sangat kotor, penuh dengan dinamika, tak ada kawan abadi dan tak ada lawan abadi, saling menjatuhkan, dan mereka yang berada di jalan benar siap-siap digoncang oleh para oligarki dan elit politik. Dalam Trias Politica (Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif) dipenuhi manusia-manusia Homo Homini Lupus yang harus akan kekuasaan siap memangsa siapapun juga, dan mangsanya tidak lain adalah "Rakyat" sebagai sumber objek politik.
Aku sangat pesimis melihat pola pikir masyarakat sekarang ini, selamanya kita akan dijajah, bukan hanya mereka modal asing, borjuis nasional, dan oligarki, melainkan "diri kita sendiri" karena budaya kemalasan (literasi) dan kesadaran kita (juga dalam bentuk praxis), dalam satu dekade ke dekade yang lain kita hanya menjalani kehidupan sebagai domba yang oleh para pengembala dengan bebas menyembelih kita.




