APARAT MILIK SIAPA ?



Hari Senin tanggal 20 Januari 2020 kemarin, warga kita Desa Batetangnga (Kanang) menjadi saksi bahwa aparat negara seperti jabatan kepolisian atau polisi benar-benar jauh dari lingkaran rakyat, sudah banyak sekali fenomena seperti ini bukan hanya dalam skala nasional melainkan skala internasional.

Sikap arogansi dan feodalistik aparat dalam hal ini polisi sangat kental, apalagi di daerah-daerah pelosok atau pinggiran negeri  ini. Ada semacam gap hubungan antara rakyat dan aparat (Polri/TNI)  mereka sama sekali bukan instrumen organik dalam masyarakat, mereka adalah alat-alat negara untuk mengamankan kekuasaan rezim dan pemilik modal dengan pretensi menjaga stabilitas negara dalam konteks disintegrasi dan keamanan. Melindungi dan mengayomi hanyalah slogan-slogan kosong.

Bagiku secara pribadi, sebagian banyak dari mereka (Polri/TNI) hanyalah alat objektif pragmatis yang melayani rezim maupun pemilik modal dan dipimpin oleh individu-individu subjektif yaitu komando pimpinan tertinggi berpengaruh baik seseorang maupun sekelompok yang menguasai senjata sebagai alat represif jikalau rakyat melawan. Mereka tidak mengenal demokrasi, mulut mereka adalah moncong senjata dan pikiran mereka adalah amunisi atau peluru. Mereka tak lebih baik dari sekumpulan manusia bersenjata bayaran yang biasa kita lihat. Sudah terlampau banyak catatan kelam dalam sejarah mengenai penyalahgunaan aparat, sejatinya aparat seyogianya mengayomi, melindungi masyarakat tetapi yang banyak terjadi malah menghamba pada kekuasaan, layaknya anjing terhadap majikan.

Dalam skala nasional, kita lihat bagaimana kasus-kasus seperti, kasus Novel Baswedan yang ternyata di dalangi oleh Polisi, melakukan tindak pidana kriminal dengan menyiram wajah Novel dengan air keras menyebabkan satu mata Novel menjadi cacat, ini berhubungan erat dengan kasus-kasus korupsi yang ditanganinya. Kasus rasisme dan represif yang dilakukan anggota polri terhadap mahasiswa Papua yang terjadi di asrama Papua tepatnya di Surabaya. Kasus tindakan kriminal terhadap demonstran Reformasi dikorupsi menyebabkan beberapa demonstran luka parah bahkan meninggal diantaranya, Bagus Putra Mahendra (15), Akbar Alamsyah (19), Yusuf Kardawi (19), Randy (22), dan Maulana Suryadi (23). Kasus Ananda Badudu mantan jurnalis Tempo ditangkap kerena galang dana bagi mahasiswa dalam demonstrasi reformasi dikorupsi, juga sempat mendapat tindakan represif aparat, dalam pengakuannya ia dipukuli, dipiting, dijambak, dan ditendang berkali-kali dalam proses penahanannya. Juga kasus Dede Luthfi Alfiandi yang terlibat dalam demonstrasi reformasi dikorupsi menolak RUU KUHP dan revisi UU KPK, ia ditangkap karena dituduh melempar batu pada aparat (polisi) dan setelah fotonya memegang bendera merah putih dalam demonstrasi menjadi viral dan sebagai simbol gerakan reformasi dikorupsi. Saat ini ia tengah mengalami tindak kriminal dari aparat didalam tahanan ia mengatakan disetrum selama setengah jam agar mau mengaku telah melempar batu, dan akibat tak kuat menahan siksaan terpaksa ia mengiyakan. Ini hanyalah sekumpulan kecil dari catatan-catatan hitam aparat kepolisian kita. Tak heran jika saat ini kredibilitas aparat dalam hal ini Polri mengalami dekadensi dan realita historis lah menjawab hal-hal itu, sungguh ironis.

Dalam skala internasional hal ini sudah menjadi fakta klasik bahwa mereka (aparat) memang bukan instrumen organik dalam masyarakat, kita lihat sejarah kerusuhan yang menyebabkan lahirnya hari buruh atau cikal bakal hari buruh 1 Mei. Bermula pada saat demonstrasi buruh Amerika, Chicago 4 Mei 1886, peristiwa kerusuhan Haymarket terjadi, polisi menembaki para demonstran (buruh), setelah pelemparan bom ke tengah-tengah pasukan polisi yang menjaga demonstrasi damai kaum buruh di Chicago. Polisi menembaki demonstran dan sekitar dua ratus orang terluka, menangkapi lalu menghukum mati para pemimpin-pemimpin buruh saat itu meski tanpa bukti akan keterlibatan mereka. Belakangan terkuak bahwa ternyata agen polisi sendirilah yang melempar bom tersebut.

Kembali pada kasus yang terjadi di Desa Batetangnga antara polisi vs warga, kejadian ini bermula pada saat seorang anggota polisi  (Brimob) masuk ke dalam tempat wisata Salu Pajaan (swasta), tetapi enggan membayar uang retribusi sebanyak Rp.5000,- kepada pihak pengelola objek wisata, terjadilah cekcok antara kedua pihak, tidak puas dengan jawaban pengelola objek wisata, si polisi langsung menghajar pengelola objek wisata tersebut, juga warga yang bermaksud melerai mereka pun kena pukul hingga kepalanya berdarah. Hal inipun membakar emosi warga yang ada disekitar lalu menahan si polisi beserta keluarganya didalam mobil miliknya (polisi).

Sontak si polisi yang juga sebagai ketua kompi Brimob langsung menghubungi rekannya untuk datang membebaskan, satu kompi Brimob bersenjata lengkap pun datang, mereka bersikap seolah menghadapi segerombolan teroris, mereka membentak, mengancam hingga melakukan tindakan represif, menodongkan senjata kearah warga hingga meletuskan tembakan ke udara, sungguh pemandangan yang dipenuhi arogansi dan sikap feodalistik seakan mereka bukan lahir dari rakyat. Juga sempat terucap beberapa kata yang keluar dari ketua kompi mereka dengan menentang warga berduel hingga melempar kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan dari mulut seorang petugas keamanan.

Ironis sekali, fenomena ini memperlihatkan memang ada gap hubungan masyarakat dalam pola pikir subordinasi dari para aparat kita, seolah mereka lah yang berada diatas secara hierarki. Bukan persoalan masalah si polisi tidak ingin membayar uang retribusi melainkan cara ia menyikapi masalah tersebut, sangat tidak mencerminkan sebagai seorang pengayom masyarakat yang merupakan slogan utama mereka.

Yang mereka (polisi) tunjukan bukanlah sikap profesionalisme, mereka mungkin lupa gaji yang mereka makan dan senjata yang mereka gunakan itu dari uang pendapatan rakyat dan dari pajak-pajak rakyat. Ditambah lagi kendaraan yang digunakan si polisi (Brimob) untuk berwisata itu bukanlah kendaraan pribadi melainkan mobil dinas dengan plat kendaraan kepolisian, yang merupakan milik negara. Kebodohan, kesewenang-wenangan dan ketidak dewasaan dalam berpikir dan bertindak ini merupakan blunder besar dari para polisi ini.

Jikalau diuraikan dalam kasus ini ada sekitar sekitar enam tindakan blunder yang bisa ditemui dari aparat (polisi) yang bersangkutan. Pertama, kentalnya sikap arogansi dan feodalistik ditandai dengan enggannya membayar retribusi dan menanyakan soal legalitas objek wisata. Kedua, melontarkan kata-kata kasar dan tidak menghargai warga atau masyarakat. Ketiga, melakukan tindak kriminal atau represif terhadap warga atau pengelola objek wisata. Keempat, memakai fasilitas negara untuk kepentingan pribadi (mobil berplat kepolisian). Kelima, menodongkan dan menembakkan senjata, dengan dalih agar warga takut dan segan kepada aparat. Keenam, manajemen konflik atau cara mereka (polisi) menyelesaikan konflik yang seyogianya konflik pribadi tetapi menggunakan instrumen-instrumen negara yang menunjukkan ketidak dewasaan (profesionalisme) mereka dalam berpikir dan bertindak.

Tetapi yang lebih substansial adalah bahwa mereka (polisi) mempunyai kecenderungan Kesadaran kelas yang lebih tinggi dalam hierarki masyarakat  dan dengan senjata membuat mereka mengambil jarak sehingga dapat bertindak sewenang-wenang.

Hal ini membuat sebagian besar masyarakat bertanya, polisi sebenarnya apa dan milik siapa ? Karena yang ditampilkan oleh mereka (polisi) hanyalah ironi-ironi yang bertentangan dengan slogan-slogan mereka (polisi)

Tetapi dibalik itu, sayapun terkadang kurang setuju dengan predikat generalisasi yang biasanya kaum kiri tujukan pada aparat (polisi) dengan istilah A.C.A.B atau All Corps Are Bastard, saya percaya bahwa sebagian besar mereka memang Are Bastard, baik dari pemimpin tertingginya hingga para poin-poin penggeraknya, tetapi setahu saya dalam sejarah di negeri ini, mereka punya tokoh seorang polisi legendaris yang jujur dan lurus seperti mantan Kapolri Hoegeng Iman Santoso, yang mengarungi dua periode orde lama maupun orde baru, karena kejujuran dan kelurusannya ia pun terdepak dari struktur kekuasaan pada zaman orde baru, tetapi bagiku ialah mungkin satu-satunya polisi yang betul-betul seorang polisi. Seperti kata-kata satire Gus Dur "Di negeri ini hanya ada tiga polisi yang jujur. Pertama, patung polisi. Kedua, polisi tidur. Ketiga, polisi Hoegeng".

Seharusnya dan semestinya mereka belajar pada tokoh legendaris mereka seperti mantan Kapolri Hoegeng bahwa menjadi seorang penegak hukum dalam masyarakat unsur utamanya ialah independensi dan pengabdian terhadap masyarakat, tetapi saya pun pesimistis dengan ini karena memang aparat seperti (polri/tni) tidak akan pernah menjadi lembaga independen sesuai dengan konstitusi, mereka adalah aparatus negara, atau alat negara, dan negara selalu mempunyai tendensi berkolusi dengan pemilik modal.

Jikalau jiwa sudah dikuasai oleh nafsu kekuasaan dan membutakan mata manusia, maka hanya dengan pandangan kemanusiaanlah manusia dapat melihat.

KESUKSESAN SEBUAH ARTI



Dalam kehidupan masyarakat modern pada masa sekarang ini, manusia cenderung berebut dan berkompetisi diakibatkan sistem dan pandangan umum dunia mewajibkan manusia melakukan hal tersebut, yang lemah atau yang kalah akan tersingkir dan yang kuat atau menang lah yang akan bertahan dalam kehidupan sosial. Modernisasi hasil dari ciptaan "Revolusi Industri" merubah paradigma manusia untuk mengejar suatu kejayaan kehidupan yang bersifat bebas dan individual pada umumnya dikenal sebagai "Kesuksesan".

Sukses pastinya sudah menjadi mimpi sebagian besar orang di dunia. Sukses dapat didefenisikan dalam pandangan umum, jikalau seseorang mampu mendapatkan apa yang ingin ia raih.

Kesuksesan sangat penting bagi sebagian banyak orang, tak jarang kesuksesan diaggap sebagai tujuan utama kehidupan baik itu dalam bentuk material (harta benda kekayaan, pangkat jabatan, jumlah istri, dll) maupun dalam hal spritualitas keagamaan. Kesuksesan menjamin hidup yang lebih baik dunia maupun akhirat, dan pastinya sebagian banyak orang menginginkan hal tersebut, kadang manusia menghalalkan segala cara agar dapat memperoleh kesuksesan tersebut.

Mereka yang tidak sukses atau gagal meraih kesuksesan hidupnya dalam pandangan masyarakat akan dianggap sebagai orang-orang yang gagal People Fail, dan berarti mereka dalam pandangan mengalami degradasi kelas sosial daslam kehidupan modern, bisa jadi dianggap sebagai seorang proletariat ataupun semi proletariat.

Pernah pada suatu hari sewaktu masa kuliah saya ditanya oleh seorang teman ia mengatakan, apasih arti sebuah kesuksesan menurutmu ?. Pada waktu itu saya betul-betul bingung sekaligus naif dalam menjawab pertanyaan tersebut dan dalam benakku kesuksesan hanyalah sebuah pencapaian material berupa harta benda dan jabatan, lalu kujawab apabila saya telah memiliki rumah mewah, mobil, pekerjaan yang baik dan istri sekaligus anak maka saya sudah meraih kesuksesan. Sungguh hal itu merupakan sebuah jawaban dan keinginan sebagian banyak orang atau pandangan umum masyarakat modern.

Sah saja orang-orang berpendapat berpendapat demikian, manusia itu unik, dan merupakan individu-individu berbeda, defenisi kesuksesan pun ditafsikan dengan subjektif masing-masing, begitupun jawaban saya pada waktu itu yang merupakan tempaan dari berbagai pengalam hidup secara empiris.

Definisi sukses menurut para miliarder seperti Mark Zuckerberg sang pemilik Facebook, bahwa kesuksesan seseorang bisa diraih setelah ada kegagalan. Juga kesuksesan sendiri identik dengan rasa rendah hati kemudian bisa identik juga dengan sifat sederhana, jadi menurut Zuckerberg, semakin seseorang dikatakan sukses, maka dari sisi kerendahan hati dan kesederhanaannya selalu muncul.

Warren Buffett dimana kesuksesan seseorang bisa diukur dari berapa banyak orang yang mencintainya. Untuk itulah kesuksesan adalah semua hal tentang cinta. Bahkan kebahagiaan pun bukan menjadi satu konsep yang bisa dibeli dengan mudah. Komponen sukses berasal dari diri sendiri dan sukses tak terlepas dari investasi.

Begitupun dengan Bill Gates memandang kesuksesan dengan sederhanya seperti, setiap kesuksesan harus diukur dari seberapa bahagianya Anda. Maka dari itu, bukan hanya berpatok pada banyaknya harta yang didapatkan, akan tetapi kesuksesan sendiri telah masuk ke dalam model pengembangan sifat bahagia dalam beberapa situasi. Juga "Merupakan hal yang menyenangkan jika Anda merasa membuat perubahan menciptakan sesuatu atau membesarkan anak-anak atau membantu orang yang membutuhkan,".

Sungguh sederhana defenisi mereka dan sangat kontas dengan kekayaan yang dimilki para milarder ini, saya jadi ingat kata-kata Marx bahwa "bukan bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka, tetapi keadaan sosial mereka yang menentukan kesadaran mereka".

Asumsi saya bisa saja para miliarder mendefenisikan sesederhana itu tentang kesuksesan berbeda dengan defenisi pandangan umum masyarakat tentang kesuksesan yang terkadang naif, karena faktor kondisi sosialnya berbeda. Para miliarder terkadang memandang atau mendefenisikan kesuksesan begitu sederhana entah bagaimana motifnya.

Asumsi saya ini bukan bermaksud mengeneralisasi, jikalau ditelusuri satu persatu defenisi menurut para miliarder terkesan sederhana, enteng, dan sama sekali tidak berkaitan dengan kondisi-kondisi material (harta atau pencapaian) melainkan kebahagian-kebahagiaan yang sederhan dan bersifat absurd. Tetapi dalam praksis kehidupan sosial mereka sama sekali tidak menerapkan keadilan sosial (ekonomi) yang universal dan sebenarnya. Kita memang sering temui para miliarder atau kapitalis ini terkadang melakukan kegiatan-kegiatan sosial, pendirian yayasan sosial, pendidikan, kesehatan dan lain-lain, tetapi hanya berwuju semud atau  sebatas tindakan-tindakn filantropi semata, yang kontradiktif dan hipokrit.

Bill Gates bisa jadi salah satu miliarder yang begitu prihatin terhadap fenomena kesejangan sosial yang terjadi, ia mengakui ketidak adilan terjadi dikarenakan kekayaan dimonopoli oleh sedemikian orang termasuk juga dirinya dengan kekuatan kapital. Maka dari itu para miliarder menciptakan yayasan amal dengan tujuan menyumbangkan kekayaan pada orang-orang miskin. Tetapi fakta bahwa apa yang mereka sumbangkan hanya sebahagian kecil dari pendapatan mereka, pemasukan mereka jauh lebih besar dibanding apa yang mereka sumbangkan, Gates menyumbang sekitar 2,6 %, tetapi pelu diketahui pemasukan mereka mencapai Rp. 5,5 juta perdetik. Gates juga setuju dengan engan sistem perpajakan untuk para kapitalis tetapiyang jadi masalah bagaimana mungkin menrapkan pajak jikalau "Negara" merupakan alat yang dikuasai oleh mereka yang digunakan untuk akumulasi kekayaan, diperoleh dari hasil keringat buruh yang bahkan jika seluruh hidupnya didedikasikan untuk bekerja tidak akan mampu menyaingi kekayaan mereka.

Bagi saya, seorang kapitalis tetap akan sebagai kapitalis yang berorientasi pada modal, keadilan sosial walaupun dalam skala global tidak mungkin terwujud dari atas, dari para miliarder pemilik modal yang hopokrisi, hanya rayat atau masyaraka organik yang dapat mewujudkan itu atas kesadarannya.

Apa yang kita pahami tentang kesuksesan hari ini merupakan hasil konstruksi paradima dan hagemoni kapital borjuasi yang sempit, seolah kesuksean hanya pada tatanan harta material, jabatan, objektivitas wanita, dan hidup mewah hedonis. Kapitalisme menyentuh semua sisi kehidupan mempengaruhi cara berpikir dan pandangan entang kehiduan bahwa tiap-tiap manusia haruslah berlomba-lomba dan berkompetisi dalam mencapai kesuksesan versi mereka untuk hidup yang lebih baik. Bahkan kehidupan spritual (agama) yang awalnya dan seyogianya menentang pandangan ini pun terseret dalam hagemoni kapital borjuasi, ditandai dengan banyaknya para pemuka agama yang terseret dalam arus kapital baik sebagai pemilik modal sakaligus ahli spritual maupun para tokoh agama yang bergabung dalam lingkaran kekuasaan oligarki yang melegitimasi investasi modal para kapitalis sebagai jalal konsesi yang tak jarang merebut tanah-tanah rakyat dan jurang kesenjangan bagai lingkaran setan.

Kesuksesan haruslah dimaknai secara luas dan jauh dari hipokrisi seperti pemaknaan para tokoh kapitalis itu. Jikalau saya kembali ditanya mengenai apa makna kesuksean itu ?. Maka saya akan menjawab kesuksesan bukan dari apa yang kita pahami selama ini, melainkan ketika kamu memperoleh kehidupan yang bebas tanpa terikat apapun juga. Definisi itu subjektif dan kalian pun bebas mendefenisikan kesuksesan kalian tanpa terikat apapun.