Sudah lama sekali saya ingin menulis gugatan atau kritikan
terhadap komunitas terkecil dalam sebuah masyarakat ini, krtitik ditujukan bukan pada komunitasnya tetapi lebih pada pola pemikiran para kepala keluaganya. Keluarga merupakan
tempat dimana individu-individu lahir dan besar, tempat individu memperoleh
kasih sayang, baik dari orang yang membesarkannya terutama orang tua, bapak maupun ibu
ataupun sanak saudara bahkan yang diluar ikatan darah sekalipun yang hidup
dalam satu rumah sejak kecil hingga dewasa dan seterusnya, dan seterusnya. Tidak usah saya berpanjang lebar mendefinisikan hal-hal ini karena kompleksitasnya
juga tergantung dari perspektif subjektif masing-masing bagaimana memaknai hal
ini (keluarga).
Perkembangan individu ditentukan oleh faktor dominan bernama
keluarga, seperti apa karakter atau corak keluarganya seperti itu pula individu
yang akan dibentuk, tidak ada orang tua maupun keluarga yang ingin individu dipeliharanya salah jalan atau buruk, semua orang tua maupun keluarga ingin
anaknya dijalan yang benar atau baik, tetapi terkadang realitas itu berbeda
dengan paradigma umum kita. Bagaima individu-individu itu pada umumnya
bermental budak ketimbang bermental pemimpin, individu yang bermental pemimpin
lebih sedikit ketimbang individu bermental budak, timbul sebuah pertanyaan apakah
tiap-tiap keluarga telah gagal mendidik individunya ?.
Aku mungkin termasuk salah satu individu yang bermental budak
itu, kadang aku berpikir mengapa ini bisa terjadi, apa tujuan orang tua atau
keluarga membentuk individu seperti ini. Kuakui keluargaku memang kebanyakan
sukses dalam kategori pandangan umum masyarakat, bagaimana tidak mulai dari
Kakek, Ibu, Tante hingga Omku semua adalah seorang Aparatur Sipil Negara atau
PNS, paradigma PNS inilah yang taat pada aturan yang diterapkan didalam
keluarga, semua serba diatur dibatasi dalam pandangan moralitas versi mereka,
terkadang mereka sangat menjunjung tinggi Super
Ego ketimbang Ego dan ID Individu dalam keluarga. Citra
keluarga dimata masyarakat harus lebih ditonjolkan ketimbang psikologi
perkembangan individu.
Jelas banyak kesalahan-kesalahan dalam pendidikan keluarga
di masa kecil itu, terutama pada seorang Kakek, aku mengerti bahwa mereka
menginginkan yang terbaik, tetapi terbaik versinya sendiri, kita anak atau
cucu-cucunya dijadikan objek eksperimental pendidikan dalam keluarga yang penuh dengan kungkungan. Sejak kecil
mendapatkan pendidikan tegas bahkan keras, cenderung otoriter aku tak tahu apa
dan darimana mereka mendapat ilham dalam memdidik seperti itu, apakah memang
nenek moyangnya kerap atau seringkali mempraktekkan pendidikan otoriter atau kah
dalam pengaruh hagemoni orba ? Terkadang itu sangat kejam sama sekali bahkan
terkadang kita disejajarkan dengan binatang ketika berbuat tidak seperti apa
yang ia kehendaki.
Ada beberapa asumsi saya mengapa hal seperti ini terbentuk dalam
pola berpikir mereka. Pertama, Sejarah Perbudakan Zaman Kolonial, bahwa pada
umumnya mental orang-orang peninggalan hindia belanda ini cenderung bermental budak, karena takut mendapat perlakuan represif dari para kolonialis (Belanda) bisajadi mental-mental seperti itulah yang diturunkan turun temurun dari
generasi ke generasi hingga sampai pada anak cucunya sekarang ini, lewat
pendidikan versinya ia berbalik memposisikan dirinya menjadi sebagai seorang kompeni yang memperbudak pribumi (individu).
Kedua, Perlawan dan Darah, secara empiris mulai dari zaman kolonial belanda hingga sampai sekarang ini tindakan perlawanan selalu direpresi, kekerasan fisik sudah bukan hal yang tabu lagi bahkan nyawa melayang pun tidak jadi masalah, secara psikologis jelas pandangan-pandangan seperti ini bisa diturunkan, bagaimana kita lihat argumen sangat jarang dilawan dengan argumen, yang ada hanya tindak kekerasan maupun pembungkaman terlebih pada zaman-zaman peralihan yang selalu berakhir dengan darah dalam keluarga tidak jarang kita menemui seperti ini direpresi secara fisik merupakan metode membungkam secara turun temurun dikarenakan mereka tidak mampu menjelaskan duduk perkara atau keinginan mereka maka dari itu pentung lah yang berbicara.
Ketiga, Hagemoni Orde Baru Sebagai Corak, bukan tidak mungkin hal ini menjadi faktor tersembunyi dari apa yang dipraktekkan para kepala keluaga, kebanyak dari kita mempraktekannya hari ini khususnya mereka yang merasakan hidup dibawah rezim yang paling bringas ini sepanjang sejarah Indonesia, brutalisme menjadi hal biasa-biasa saja dalam mendidik, semua harus tunduk, harus patuh terhadap perintah, tidak boleh berpenampilan macam-macam, jangan bersikap kritis dimulai dalam keluarga itu sendiri, yang berani melanggar perintah ataupun moral siap-siap kena pentung, sapu, selang, hingga kayu, inilah yang merekonstruksi imajinasi individu (anak,cucu) pada waktu itu untuk tunduk pada kepala keluarga secara mutlak, kita diajarkan untuk patuh terhadap segala macam perintah, bagai kerbau yang cucuk hidungnya diikat dan digiring kesana, kemari seperti itulah kita, itulah yang membentuk sikap dan mental kita hari ini.
Keempat, Budaya dan Moralitas, budaya dan moralitas dalam kehidupan bermasyarakat tidak bisa dihindari, budaya yang membentuk semua dari ketiga faktor diatas dan moralitas yang melegitimasi, justifikasi, benar atau salahnya tindakan seorang individu. Budaya yang hari ini adalah budaya budak, baik bentukan masa lampau maupun budaya bentukan agama, saya skeptik dan tidak terlalu percaya kepada yang katanya para pewaris-pewaris Nabi ini dalam struktur hierarkisnya, penafsiran atas teks nya perlu dikaji ulang, bagaimana bisa seorang muslim yang sekarang ini menampakkan wajah bringasnya, brutalisme, sadisme hingga vandalisme dia kerjakan, demi menjunjung tinggi yang namanya anti maksiat, entah maksiat konteks bagaimana yang mereka maksud hingga kerap melakukan hal-hal diluar esensi manusiawinya. Sementara konvensi-konvensi melahirkan konstruksi moralitas benar, salah hal-hal yang menjadi pandangan umum benar, salah ia tidak difilterasasi secara baik, karena kurangya pengetahuan kepala keluarga, cenderung bertitik tolak pada konstruksi moralitas sosial yang dipandang paling benar dalam pandangan masyarakat umum dan secara brutal diimplementasikan kedalam kehidupan berkeluarga.
Kedua, Perlawan dan Darah, secara empiris mulai dari zaman kolonial belanda hingga sampai sekarang ini tindakan perlawanan selalu direpresi, kekerasan fisik sudah bukan hal yang tabu lagi bahkan nyawa melayang pun tidak jadi masalah, secara psikologis jelas pandangan-pandangan seperti ini bisa diturunkan, bagaimana kita lihat argumen sangat jarang dilawan dengan argumen, yang ada hanya tindak kekerasan maupun pembungkaman terlebih pada zaman-zaman peralihan yang selalu berakhir dengan darah dalam keluarga tidak jarang kita menemui seperti ini direpresi secara fisik merupakan metode membungkam secara turun temurun dikarenakan mereka tidak mampu menjelaskan duduk perkara atau keinginan mereka maka dari itu pentung lah yang berbicara.
Ketiga, Hagemoni Orde Baru Sebagai Corak, bukan tidak mungkin hal ini menjadi faktor tersembunyi dari apa yang dipraktekkan para kepala keluaga, kebanyak dari kita mempraktekannya hari ini khususnya mereka yang merasakan hidup dibawah rezim yang paling bringas ini sepanjang sejarah Indonesia, brutalisme menjadi hal biasa-biasa saja dalam mendidik, semua harus tunduk, harus patuh terhadap perintah, tidak boleh berpenampilan macam-macam, jangan bersikap kritis dimulai dalam keluarga itu sendiri, yang berani melanggar perintah ataupun moral siap-siap kena pentung, sapu, selang, hingga kayu, inilah yang merekonstruksi imajinasi individu (anak,cucu) pada waktu itu untuk tunduk pada kepala keluarga secara mutlak, kita diajarkan untuk patuh terhadap segala macam perintah, bagai kerbau yang cucuk hidungnya diikat dan digiring kesana, kemari seperti itulah kita, itulah yang membentuk sikap dan mental kita hari ini.
Keempat, Budaya dan Moralitas, budaya dan moralitas dalam kehidupan bermasyarakat tidak bisa dihindari, budaya yang membentuk semua dari ketiga faktor diatas dan moralitas yang melegitimasi, justifikasi, benar atau salahnya tindakan seorang individu. Budaya yang hari ini adalah budaya budak, baik bentukan masa lampau maupun budaya bentukan agama, saya skeptik dan tidak terlalu percaya kepada yang katanya para pewaris-pewaris Nabi ini dalam struktur hierarkisnya, penafsiran atas teks nya perlu dikaji ulang, bagaimana bisa seorang muslim yang sekarang ini menampakkan wajah bringasnya, brutalisme, sadisme hingga vandalisme dia kerjakan, demi menjunjung tinggi yang namanya anti maksiat, entah maksiat konteks bagaimana yang mereka maksud hingga kerap melakukan hal-hal diluar esensi manusiawinya. Sementara konvensi-konvensi melahirkan konstruksi moralitas benar, salah hal-hal yang menjadi pandangan umum benar, salah ia tidak difilterasasi secara baik, karena kurangya pengetahuan kepala keluarga, cenderung bertitik tolak pada konstruksi moralitas sosial yang dipandang paling benar dalam pandangan masyarakat umum dan secara brutal diimplementasikan kedalam kehidupan berkeluarga.
Pendidikan agama jelas merupakan faktor besar dalam keluarga,
saya belum pernah dapati ada keluarga yang memberi kesempatan kepada anaknya
untuk memilih agamanya sendiri, semua pasti akan melakukan indoktrinasi kepada
anaknya masing-masing, sesuai dengan ajaran agama, mayoritas keluaga atau
pemimpin keluarganya, mungkin alasan mereka terikat dalam dalil-dalil seperti bahwa barang siapa
yang tidak menurunkan agamnya kepada anak, cucunya kelak dia akan ditarik anak,
cucunya dari neraka (apabila anak cucunya berbeda agama dalam konteks islam).
Hal-hal seperti indoktrinasi melekat,mendarah daging hingga tanpa kita sadari
kita telah menjadi keluarga otoriter dengan segala macam aturan dan
indoktrinasinya dengan slogan palsunya “KELUARGA TAHU APA YANG TERBAIK UNTUK
KAMU NAK”.
Persetan dengan itu semua, kita selalu menginginkan
kehidupan berdemokrasi dalam kehidupan bermasyarakat tetapi kita sendiri menginggkari
dalam kehidupan berkeluarga. Anak ataupun Cucu dijadikan objek eksperimen tentu
dengan asumsi agar dia menjadi lebih baik tetapi kadang kala kita tidak melihat
atau melupakan variabel-varibel lain bahwa “anak itu juga adalah manusia
SUBJEKTIF yang juga harus diperlakukan secara demokratis” pikirannya harus dibebaskan, diliarkan seliar mungkin
disitulah muncul imajinasi-imajinasi, kreativitas dan memaksimalkan potensinya
sebagai manusia sejati, manusia bebas yang betul betul manusia, anak atau cucu
harus dimanusiakan layaknya manusia dalam esensinya. Paradigma mendominasi
memang tidak bisa lepas darikita itulah bentukan historis sejarah dalam
konotasi negatif, membentuk manusia-manusia yang tidak berdikari atau mandiri,
kurannya tanggung jawab, dampaknya membentuk anak-anak bangsa yang bermental budak, mengekor pada setiap
trend zaman, baik secara ekonomi maupun kehidupan sosial.
Jika kita melihat problem ini dalam perspektif filosof Habermas dalam kritiknya terhadap rasionalitas modern, kita dapat menarik kesimpulan bahwa tujan pendidikan dalam keluarga pada umumnya cenderun berorientasi pada hal-hal objektif menuju pada kepentingan tekhnis yang merupakan ciri khas pemikiran modern seperti saat ini, ini tidak jauh-jauh dalam realitas sosial hari ini, dimana sistem yang bernama kapitalisme mempunyai dampak hagemonik hingga pada tatanan keluarga. Hubungan antara pemimpin keluarga dengan anak bersifat Subjek-Objek, kepala keluarga cenderung mengobjekkan anak ketimbang memandangnya sebagai subjek dengan rasio instrumentalnya, dimana ciri khas pemikirannya memandang segala sesuatunya secara objektif dengan menjadikannya sebagai alat untuk mencapai sesuatu atau tujuan, bisa jadi sesuai dengan yang diinginkan kepala keluarga tersebut, padahal keliru ketika kita mengobjekkan individu atau manusia dengan segala kompleksitasnya. Individu atau anak terjebak dalam kondisi yang disebut Reifikasi atau pandangan menjadikan manusia sebagai benda atau alat, sehingga anak akan menjadi semakin teralienasi.
Para kepala keluarga lupa atau bahkan mungkin tidak tahu sama sekali, bahwa lebih baik menggunakan pendekatan metode persuasif dengan rasio komunikatif, yaitu mendalami, memahami, apa keinginan atau kepentingan sang anak dan meletakkannya sebagai Subjek atas Subjek pertemuan antara kepentingan-kepentingan intersubjektif ini mencapai kesepakatan bersama hingga melahirkan sebuah emansipasi pada anak. Problem utamanya ialah kebanyakan dari kita tidak mampu mengonstruksikan "Komunikasi Dua Arah" Communicative Action secara demokratik, kita cenderung mengonstruksi relasi-relasi yang mengobjekkan, mendominasi bahkan otoriter, seyogianya kehidupan keluarga itu haruslah berdasarkan nilai-nilai domokratis, memanusiakan manusia menghargai antar keluarga kemudian menciptakan Mutual Understanding saling memahami, dan berlanjut pada kesepakatan atau konvensi-konvensi dalam keluarga, antara Bapak, Ibu, dan Anak.
Jika kita melihat problem ini dalam perspektif filosof Habermas dalam kritiknya terhadap rasionalitas modern, kita dapat menarik kesimpulan bahwa tujan pendidikan dalam keluarga pada umumnya cenderun berorientasi pada hal-hal objektif menuju pada kepentingan tekhnis yang merupakan ciri khas pemikiran modern seperti saat ini, ini tidak jauh-jauh dalam realitas sosial hari ini, dimana sistem yang bernama kapitalisme mempunyai dampak hagemonik hingga pada tatanan keluarga. Hubungan antara pemimpin keluarga dengan anak bersifat Subjek-Objek, kepala keluarga cenderung mengobjekkan anak ketimbang memandangnya sebagai subjek dengan rasio instrumentalnya, dimana ciri khas pemikirannya memandang segala sesuatunya secara objektif dengan menjadikannya sebagai alat untuk mencapai sesuatu atau tujuan, bisa jadi sesuai dengan yang diinginkan kepala keluarga tersebut, padahal keliru ketika kita mengobjekkan individu atau manusia dengan segala kompleksitasnya. Individu atau anak terjebak dalam kondisi yang disebut Reifikasi atau pandangan menjadikan manusia sebagai benda atau alat, sehingga anak akan menjadi semakin teralienasi.
Para kepala keluarga lupa atau bahkan mungkin tidak tahu sama sekali, bahwa lebih baik menggunakan pendekatan metode persuasif dengan rasio komunikatif, yaitu mendalami, memahami, apa keinginan atau kepentingan sang anak dan meletakkannya sebagai Subjek atas Subjek pertemuan antara kepentingan-kepentingan intersubjektif ini mencapai kesepakatan bersama hingga melahirkan sebuah emansipasi pada anak. Problem utamanya ialah kebanyakan dari kita tidak mampu mengonstruksikan "Komunikasi Dua Arah" Communicative Action secara demokratik, kita cenderung mengonstruksi relasi-relasi yang mengobjekkan, mendominasi bahkan otoriter, seyogianya kehidupan keluarga itu haruslah berdasarkan nilai-nilai domokratis, memanusiakan manusia menghargai antar keluarga kemudian menciptakan Mutual Understanding saling memahami, dan berlanjut pada kesepakatan atau konvensi-konvensi dalam keluarga, antara Bapak, Ibu, dan Anak.
Pendidikan harus bersifat demokratis sejak dalam sebuah
komunitas kecil seperti keluarga, memahami apa keinginan individu, memanusiakan
individu, menjadikannya mahluk subjektif yang bebas. Bebaskan dulu dirimu, keluargamu, sebelum
kamu membebaskan masyarakatmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar