APAKAH AKU SEORANG MARXIS ?



Marxisme merupakan salah satu ideologi terkemuka yang lahir pada abad ke-19, sebagai antitesis  sistem kapitalisme, ideologi penuntun kelas pekerja (proletariat) dalam menjalankan tugas historisnya yaitu mewujudkan masyarakat tanpa kelas lewat revolusi proletariat.

John Ingelson pernah berkata “Apabila pada usia dua puluh tahun kau tidak menjadi Marxis, mungkin karena kau tidak punya perasaan. Dan, apabila pada usia empat puluh tahun kau tidak menjadi Marxis, sudah pasti karena kau tidak punya otak”. Agak seram juga mendengar kata-kata Ingelson ini, tetapi saya percaya Marxisme sejatinya lahir atas dasar pandangan humanis, dengan dasar pembebasan eksploitasi manusia atas manusia atau “Exploitation de I’homme par I homme”, seperti yang pernah dilontarkan Bung Karno dalam pidatonya mengkritik kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme.

Faktor subjektivitas yang membuat perbedaan atas interpretasi tentang suatu paham, beritupun Marxisme, apa yang diterapkan Uni Soviet, China, Kuba, Vietnam, hingga PKI di Indonesia, merupakan interpretasi subjektif masing-masing, sebuah kesalahan fatal apabila men-generalisasi Marxisme ataupun Komunisme yang diterapkan oleh negara-negara tersebut. Interpretasi maupun corak pemahaman dari mereka jelas berbeda-beda antara, Leninis, Trotskys, Rosa Luxemburg, dan Stalinis, begitupun Maois, juga Josip Broz Tito seorang revolusioner dari Yugoslavia yang secara jelas bertentangan dengan Stalin padahal sama mengatasnamakan Marxisme, begitu juga dengan para Marxis Ortodoks seperti, Engels, Plekhanov, maupun Kautsky, juga kelompok Mazhab Frankfurt, Horkheimer,Marcuse hingga Habermas, dalam negeri ada Tan Malaka, Aidit, maupun Soekarno, semua menafsirkan dengan versinya sendiri secara subjektif.

Interpretasi atas teks jelas melahirkan pandangan yang berbeda-beda secara subjektif, manusia sejatinya merupakan mahluk yang unik. Timbul pertanyaan dari secara keseluruhan diatas mana yang dapat dipandang sebagai Marxisme sejati ? Jelas mereka semua merupakan seorang Marxis, bertumpuh pada pemikiran Karl Marx sebagai poros dasar dialektika, masalah label sebagai Marxisme yang sejati itu tidak dapat diukur, hal yang abstrak, alam semesta senantiasa bergerak, mengalami evolusi-evolusi, melalui kontradiksi alam. Masing-masing Individu maupun kelompok menafsirkan dengan metodenya sendiri yang berdasar pada realitas sosial historisnya.

MENGENAL PERTAMAKALI MARXISME

Kata Komunisme lebih familiar ditelinga saya dari pada kata Marxisme waktu itu, diakibatkan sejarah kelam yang mengkambing hitamkan PKI (G30SPKI) pada tahun 1965, sejarah abstrak ini menjungkirbalikkan pemahaman tentang Komunisme di Indonesia, lewat proganda media melahirkan sebuah hagemoni yang memandang Marxisme ataupun Komunisme sebagai ideologi sesat, ateis, bahkan kejam, jelas sebuah pen”distorsi”an atas sebuah pemahaman ideologi, hal ini pun menjadi babak baru bagi Marxisme yang dimatikan, baik secara ideologi maupun secara material.

Saya mulanya mengenal Marxisme pada umur 24 tahun, cukup telat untuk seorang pemuda dan pelajar yang berjiwa militan, bahkan mungkin menjadi salah satu orang yang tidak punya perasaan seperti kata Ingelson, tapi tak ada kata terlambat untuk seseorang yang benar-benar ingin mendapatkan Ilmu pengetahuan, baik dalam teori maupun praksis. 

Pertemuan dengan pemahaman Marxisme terjadi secara tidak sengaja dan berlangsung otodidak. Mulanya saya merupakan seorang yang anti dengan berbagai bacaan-bacaan dan kejadian ini cuma iseng belaka yaitu membaca sebuah artikel tentang fenomena krisis sosial, yang memuat solusi pemecahan malsalahnya dengan pandangan Maxisme. Saya mendapati banyak hal yang kontradiktif dengan pemahaman umum saya selama ini, stigma tentang Marxisme maupun Komunisme membuat saya menjadi lebih skeptis. Banyak hal yang mengganjal pikiran saya, sangat berbau kontraditif , antara pemahaman saya selama ini tentang Komunisme dengan setelah saya melakukan pendalaman terhadap bacaan-bacaan berbau Marxisme, lalu memutuskan untuk membeli buku-buku tentang Marx dan Marxisme.

Pada akhirnya setelah mendalami secara tidak langsung saya jatuh hati kepada Marxisme, juga hal ini yang membuat kesadaran literasi, membaca,menulis, saya tumbuh, secara keseluruhan Marxisme lah yang membuka alam pikiran saya mengejar ilmu pengetahuan walaupun secara otodidak. Waktu yang dihabiskan di bangku sekolah selama ini hanya sebagai sebuah fenomena perjalan hidup yang kosong tanpa ilmu, tidak lebih dari tempat untuk bertemu dan berinteraksi dengan individu-individu lain, ilmu pengetahuan yang didapat di sekolah hanya sebuah informasi belaka tanpa telaah dilandasi dari proses menghafal yang membosankan sekaligus membodohkan kemudian hilang seiring berjalannya waktu kehidupan.

Marxisme dalam paradigma saya lebih dari sebuah paham ataupun ideologi, bagiku Marxisme adalah sebuah sains, metode ilmiah ditopang oleh teori dan praksis yang bertujuan memuliakan manusia. Mereka yang peduli pada kemanusian tidak sulit untuk memasuki alam pikiran Marx dan Marxisme. Che Guevara pernah berkata, “Siapa yang mengatakan bahwa Marxisme tidak memiliki jiwa,tidak memiliki perasaan ? Justru rasa cinta akan manusia yang melahirkan Marxisme. Rasa cinta terhadap manusia, kemanusiaan, keinginan untuk menghancurkan kesengsaraan kaum proletar, keinginan melawan kemiskinan, ketidakadilan, penderitaan, dan eksploitasi terhadap kaum proletar, itulah tepatnya yang menjadi sumber pemikiran Karl Marx yang memungkinkan Marxisme muncul.”

Marxisme dalam teori dan praksisnya tidak jarang terjadi pembiasan, simplifikasi, bahkan reformis kearah yang lebih jauh, pemahaman atas teks dan kepentingan merupan dua hal penentu kontekstualisasi secara subjektif. Menjadi jawaban akan praktik-praktik keberhasilan revolusi atau bahkan menjadi sebuah brutalisme dalam kekuasaan.  Uni Soviet menjadi contoh akan hal itu, keberhasilan revolusi berdasar pada kedisiplinan tinggi partai revolusioner (Bolshevik) dibangun atas dasar-dasar teori Marxisme, Lenin yang berdialektika dengan Marxisme membangun sebuah kesadaran revolusioner kemudian meruntuhkan kekuasaan Tsar dan Pemerintahan sementara lewat revolusi sosial. Terlepas dari itu kekuasaan Lenin juga melakukan tindakan brutalisme terhadap pelaut-pelaut revolusioner “Kronstadt” yang merupakan meterial revolusi dalam menggulingkan kekuasaan Tsar dan Pemerintahan sementara. Begitupu pembacaan dan implementasi Stalinis atas Marxisme yang kemudian malah melahirkan kediktatoran tirani dan bukan kediktatoran proletariat. 

Stigma tentang komunisme tidak bisa terlepas dari peran subjektivitas-subjektivitas, begitupun dengan Aufhebung dialektika, faktor pemahaman atas teks dan kepentingan selalu menjadi penentu pandangan umum sebuah ideologi. Hari ini, banyak kritik maupun sarkastis tentang Marxiseme, baik dari golongan kiri itu sendiri maupun kanan, telah banyak yang meragukan dan mempertanyakan kembali eksistensi dan relevansi dari Marxisme, tetapi bagiku Marxisme tetap relevan selama sistem kapitalisme dan eksploitasi masih ada. Ia akan tetap dipelajari, dinamis, dan terus bekembang seiring perkembangan zaman.

Timbul pertanyaan terakhir, Apakah aku seorang Marxis ? Jawabnya Marxisme adalah pusat dialektika pemikiran saya dalam memandang perubahan sosial, manusia bebas mengadopsi pemikiran apa dan siapa saja, tanpa harus berhenti pada satu orang tertentu, kemudian mengolahnya dengan pemikiran sendiri, dan tidak terikat pada satu ilmu apalagi menjadi seorang pendogma pada suatu ilmu, bahkan Marx sendiri menolak bahwa dirinya seorang Marxis, ia berkata "Aku Bukan Seorang Marxis" satu poin penting Marx tentang dogma, sekaligus mengajaran agar setiap individu berpikir bebas tanpa kekangan pemikiran-pemikiran besar, maka peran subjektivitas menjadi kunci dalam melahirkan pemikiran baru. Seseorang bahkan harus membunuh tokoh idola mereka sendiri sejak dalam pikiran agar bisa keluar dari kungkungan sebuah disiplin ilmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar