SEBUAH ASUMSI



Ada banyak kerancuan, hal-hal kontradiktif dalam sistem pendidikan maupun metode mendidik orang-orang dewasa ini, yang kerapkali dianggap hal-hal yang sepele dan wajar, mulai dari komunitas terkecil  dalam masyarakat seperti keluarga, lingkungan sekitar, sekolah,  hingga kehidupan sosial kultural secara universal. Banyak sekali toxic, maupun sesat berpikir yang mengekang potensi manusia.

Aku tak begitu paham dengan metode pendidikan di negeri, lain tapi di negeri kita sungguh berbagai macam aturan-aturan aneh dibuat oleh mereka mayoritas subyektif menimbulkan terlalu banyak bias-bias yang tidak jarang membunuh manusia secara karakter sebagai ekssistensi yang  bebas. Kebebasan merupakan sesuatu hal yang abstrak, dan kita selama ini memang hidup dalam derasnya arus mayoritas atas konvensi-konvensinya melahirkan sebuah moralitas yang cenderung logosentris, mungkin kebebasan hari ini hanya merupakan mitos-mitos realitas.

Perasaan sepi, sunyi dan sendiri selalu menyelimuti diri, dikala seakan makin bertambah ilmu pengetahuan yang saya miliki makin merasa sendiri pula lah aku, memahami realitas dengan pandangan logosentris ibarat seekor ikan yang ada di dalam sebuah kolam, ikan akan bahagia hidup di dalam kolam selama ia tak mengenal luasnya samudera.

Memandang sesuatu dengan picik merupakan ciri Common Sense hari ini, demokrasi yang luas mati karena logosentris, yang ada kini hanya demokrasi borjuasi, demokrasi para kapitalis yang setiap waktu mengeksploitasi mayoritas hingga menciptakan lubang besar atau kesenjangan anatara kedua kelas dominan Borjuasi dan Proletariat dalam masyarakat. Lewat ideologi Laissez Faire dan Laissez Passer nya sistem kapitalisme tidak terbendung lagi dalam mendominasi dan memonopoli dunia, pemerintah yang seyogianya menjadi wasit antara kapitalis dan warga mayoritas juga terseret dalam arus para kapitalis, bahkan di negeri ini pemerintah memiliki pemahaman unik yang dualisme menjadi seorang pemerintah sekaligus borjuasi kapital, artinya disamping mereka sebagai wasit mereka juga merangkap sebagai pemain.

Kembali pada anilisis awal tentang pendidikan yang melahirkan generasi seragam bukan beragam. Kebanyakan kita terjebak dalam arus hagemoni konstrusksi kapitalisme, hingga ke akar yang paling substantif yaitu pendidikan. Sebagian besar kita sukses menjadi aparatus-aparatus ideologi negara, kita melegitimasi semua perintah maupun aturan negara, sistem afirmasi secara psikologis kita lemah, karena pelemahan pendidikan itu sendiri, dimana berbagai macam literasi yang beberda pandangan dengan mayoritas ataupun negara harus dibrangus, disita dan dilarang, bukan cuman karena sejarah kelam yang belum tentu kebenarannya, tetapi untuk melanggengkan Status Quo

Kita dibiasakan menerima yang seharusnya kita tolak dalam keadaan akal sehat kita karena merugikan diri kita sendiri, melalui beberapa aturan yang dibuat diikat dalam sebuah undang-undang kebanyakan dari kita bahkan tidak peduli dan merima begitu saja kebijakan seperti ini.

Mayoritas mereka yang kita anggap sebagai wakil dari rakyat malah ikut bernegosiasi dengan para oligarki dalam memangsa rakyat sendiri, merancang undang-undang melemahkan institusi penegakan hukumseperti KPK, hingga mengikat kebebasan rakyat, tidak kah mereka lupa bahwa gaji, tunjangan yang mereka terima adalaha hasil keringat rakyat, atau kah memang mahluk-mahluk yang duduk di kursi legislatif itu adalah mahluk setengah iblis yang tidak bermoral, yang menjelma dan mengaku sebagai bagian dari rakyat setiap lima tahun sekali.

Adapun mereka (para intelektual organik) yang melawan siap-siap direpresi, bukan hanya secara fisik melalui aparatus represi negara, melainkan secara verbal baik secara langsung maupun melalui media dibarengi distorsi informasi atau yang populer dikenal sebagai hoaks.

KESALAHAN-KESALAHAN

Pendidikan kita yang paling dasar dalah pendidikan di rumah melalui komunitas kecil yang namanya keluarga. Apa jadinya jikalau keluarga kita ikut berpandangan logosentris, kolot, konservatif, dan berpandangan yang seragam secara umum tentu akan melahirkan turunan yang sama pada komunitasnya, berada dijalur yang sama, bahkan saya sendiri mengalami hal tersebut. Ini bukan masalah rasa tidak bersyukur karena kita mempunyai keluaga, melainkan apa yang mereka turunkan, wariskan kepada kita, yang bukan secara material, tetapi hal yang subtantif yang mempengaruhi psikologis, pandangan, metode berpikir kita sebagai mahluk subjektif. Manusia merupakan mahluk ideologi, atau tepatnya manusia subjektivitas ideologi. Ditempa atau diindoktrinasi pertama oleh komunitas kecil yaitu keluarga, dan subjek ini sangat terpengaruh oleh komutas kecilnya. Seperti apa corak komunitas kecinya seperti itu pula ia corak yang akan ia bentuk.

Misalnya corak komunitas kecilnya bersifat agamis konservatif maka ia pun akan melahirkan subjek agamis konserfatif pula, corak komunitas kecilnya mengejar mengumpulkan kapital maka akan melahirkan tidak jauh-jauh hal seperti demikan. Saya percaya kata-kata Marx yang mengatakan “bukan kesadara yang menetukan keadaan sosial tetapi keadaan sosiallah yang menentukan kesadaran”. Inilah yang harusnya mengalami sebuah dekonstruksi, mulai dari tingkat yang paling kecil dalam masyarakat yaitu pemahaman keluarga. 

Literasi merupakan salah satu yang dapat membebaskan manusia secara radikal dari kepicikan berpikir, pemahaman yang komprehensif tidak terjebak dalam logosentrisme, pandangan umum mayoritas.

Adapun dalam komunitas yang lebih luas seperti dalam pendidikan sekolah, sekolah saat ini hanya  berorientasi mereproduksi tenaga kerja yang akan digunakan oleh kapitalis sebagai meterial produksi yang menghasilkan nilai lebih, meperkaya borjuasi menciptakan proletariat dan hal ini sudah mereka terapkan dalam gaya atau pola pendidikan, dimana corak proses produksi diimplementasikan pada bangku sekolah, mulai dari jam sekolah, hingga kompetisi dalam pendidikan. Barang tentu tidak menciptakan generasi emansipatif dengan pemikiran bebas. Tak heran jika indeks pendidikan kita semakin terbelakang, OECD (Organisation for Economic Coperation and Development) mengumumkan hasil PISA (Programme for International Student  Assesment), skor PISA Indonesia dalam bidang membaca  317 ke-enam dari bawah(74), matematika 379 ke-tujuh dari bawah(73), dan sains 389 ke-sembilan dari bawah(71).

Pendidikan kita sama sekali bahkan tidak menyentuh ciri-ciri emansipatif. Banyak sekali kesalaha-kesalahn mulai dari kurikulum hingga material subjektif yaitu para pengajar atau lebih dikenal sebagai guru. Para pengajar menyerupai peran seorang mandor yang otoriter dalam proses peroduk tak jarang guru-guru kita pun banyak sekali masih terjebak dalam pemikiran logosentrisme, konservatif dan menerapkan pola pendidikan feodalistik. Tidak mudah merubah hal-hal yang telah mendarah daging dibentuk dari konstruksi hagemoni masa lampau. Jujur selama saya bersekolah mulai dari Sekolah Dasar hingga Universitas, saya belum pernah mendapati orang yang betul-betul bisa disebut guru dalam konteks pemahaman saya. Bukannya saya tidak menghargai mereka, tetapi kualitas dan metode mereka dalam mengajar betul-betul membosankan, kolot, terikat kurikulum melahirkan generasi yang statis bukan generasi kritis.

Mereka betul-betul tidak dapat meyakinkan saya tentang ilmu yang mereka bawakan, kesalahan saya dimasa lampau terlalu beharap pada ajaran seorang guru lewat sekolah, pemikiran saya pada masa itu bersifat fatalistik, juga memandang ilmu pengetahuan itu bersifat deterministik dan keniscayaan, bahwa semakin tinggi sekolah seseorang maka ia akan semakin cerdas manusia yang dihasilkan, dan ini yang membunuh pemikiran kritis saya dimasa lampau. Satu-satunya yang menjadi guru dan tempat saya berdialektika hanyalah “Buku”. 

Dengan membaca buku-buku (kiri) terkadang juga (kanan) hanya sebagai komparasi juga berdasarkan realitas sosial, disitulah saya semakin diperlihatkan dan disadarkan bahwa selama ini, saya tertidur dengan segala fenomena sosial yang saya jalani. Sekaligus kritik terhadap mereka (sekolah,universitas, material pengajar) yang gagal dan tidak mampumembebaskan pikiran saya dari pandangan umum “Common Sense “ dari ilmu yang mereka miliki.

Mereka (pengajar) sebagian banyak, sama sekali tidak mengerti pola berpikir Hermeneutika, metode memahami teks, konteks lalu mengkontekstualisasikannya pada murid, mereka bukan intelektual organik, melainkan hanya intelektual-intelektual tradisional konservatif yang mengekor pada setiap teori-teori yang telah dirancang oleh kurikulum. Mereka bahkan tidak bisa membebaskan dirinya sendiri, bagaimana mau membebaskan orang lain, jikalau diri sendiri masih terkekang dalam subjektivitas ideologi mengekang kebebasan, mereka hanya menjadi klien atas patron.

Murid hanya dijadikan sebuah objek, yang terus-terusan diisi berbagai macam ilmu-ilmu alam, spritual, maupun eksakta yang disesuaikan dengan pekerjaan industri dimasa depan, modernisasi melalui revolusi industri benar-benar melahirkan sebuah dehumanisasi.
Pandangan umum yang logosentrisme ini merupakan kesalah berpikir mematikan nalar kritis, tidak akan lahir generasi yang membawa kemajuan tanpa adanya pendidikan kritis. 

Masyarakat kita harus mengalami sublimasi pembaharuan cara berpikir perubahan kearah yang lebih tinggi dari proses dialektika pendidikan. Para pengajar wajib untuk memahami proses epistemologi secara radikal, merangsang keterampilan berpikir para murid, dimulai dengan asumsi-asumsi Ketidak tahuan atau keragu-raguan, bagaimana sebuah pengetahuan itu ditemui melalui Experience ataupun Reason, yang memnghasilkan sebuah pengetahuan “Knowledge” yang kelak menjadi kepercayaan-kepercayaan, hingga memnghasilkan sebuah Sains “Science”  atau Ilmu pengetahuan baru, kemudian membentuk paradigma baru atau “World-View” hingga akhirnya menjadi sebuah panutan dalam berpikir dalam bertindak. Itulah yang sebaik-baiknya dilakukan oleh para pengajar, menganalis dan merangsang para murid untuk berpikir kritis hingga ke akar-akar permasalahan dan diakhiri dengan sebuah kemajuan dalam Praksisnya. Saya hanya seseorang yang ingin berpikir bebas tanpa terjebak dalam kekeliriuan arus berpikir universalitas, setiap orang harus membebaskan dirinya sendiri sebelum membebaskan orang lain mulai dalam pikiran. Pemikiran yang tanpa praksis hanya sebuah utopia belaka, praksis tanpa teori melahirkan jalan buntu, maka terori tidak pernah lepas dari praktiknya.

Lebih baik menjadi seekor burung yang kesepian terbang bebas dengan sayapnya, daripada menjadi seekor domba yang berbondong-bondong tetapi digiring kesana-kemari untuk disembelih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar