Belajar dari fenomena-fenomena disekeliling kita yang mungkin terlihat sederhana namun memiliki makna yang berarti, apabila kita dengan cermat mengamati, memaknai, lalu mengkontekstualisasikan fenomena yang ada secara kongkrit, ada banyak hal-hal yang menarik yang kurang diperhatikan dan jarang dari kita memikirkannya. Belakang om saya gemar memelihara ayam broiler atau lebih dikenal ayam potong dalam dialek Sulawesi, hewan vertebrata ini sering kita temui dipasar-pasar penjualan daging ayam.
Ayam broiler atau ayam potong, kadang miris melihat pola hidup binatang yang satu ini, bagaimana tidak, setelah ia menetas dari telurnya yang dipanasi dibawah bola lampu ia langsung ditempatkan dalam sebuah kandang atau kurungan, hewan ini langsung dikurung setelah ia menetas, ia hidup, makan dari bibit organik atau jagung selama hidupnya, ia dikurung dalm kandang sejak ia kecil sampai ia besar, kadang dikumpulkan dengan satu jenis kelamin yang semua sama, baik jantan maupun betina, tidak ada udara kebebasan baginya bahkan ia sendiri tak pernah merasakan tuntunan induknya, baik mencari makan ataupun perlindungan, karena sejak menjadi telur dia dierami dan menetas dengan sinar lampu neon.
Ayam ini terkurung selama hidupnya dengan makanan yang sama setiap hari sampai ia berumur dewasa atau tua, ia kemudian disembelih apabila telah beranjak dewasa, satu persatu dari mereka terkadang mati karena wabah penyakit ataukah salah urus dari pemilik ternak, prinsip Struggle for Life, Survival for the fittest, hukum rimba siapa yang paling mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan ialah yang akan bertahan hidup sampai ia dikonsumsi. terkadang kandangnya yang begitu kotor karena sang pemilik biasanya hanya menginginkan keuntungan darinya, baik sebagai kebutuhan makanan pribadi maupun dijual hingga menghasilkan profit, mereka hidup sebagai sebuah objek kebutuhan manusia bukan sebagai hewan liar yang bebas.
Mungkin kita berpikir dan memandangnya dengan sepele karena ayam memang merupakan binatang ternak yang selayaknya dikonsumsi, mereka tidak mempunyai akal, dan hanya mengikuti naluri ataupun intuisinya sebagai seekor binatang, dan manusia pada umumnya memandangnya hanya sebuah objek bagi pelengkap atau pemenuhan kebutuhan kehidupan. Tingkat pengetahuan atau akal manusia seringkali menjadikan manusia lebih superior tidak hanya dibandingkan manusia tetapi juga mahluk lainnya mahkluk hidup lainnya
Prinsip Homo Mensura memang terkadang kejam, menempatkan manusia sebagai satu-satunya subjek utama dan yang lain hanyalah objek termasuk para binatang maupun tumbuhan, tak heran jika sampai hari ini eksploitasi kerakusan manusia terhadap alam dalam paham sistem kapitalisme makin menggila.
Fenomena ayam broiler sangat berbeda dengan ayam kampung yang bisa hidup bebas walaupun memiliki akhir yang sama yaitu disembeli untuk dikonsumsi, ayam kampung cenderung mempunyai kebebasan lebih, mereka dapat bergerak kesana kemari untuk mencari makan, berkembang biak, menetas dierami oleh induknya, hingga memilih untuk tidur diatas pohon yang memang sifat alamiahnya, hal ini kontra dengan apa yang dialami oleh ayam potong broiler yang salama hidupnya terkekangan dan hidup dalam kandang, dalam kondisi masyarakat kapitalisme ayam broiler merupakan sebuah komoditas besar ditengah gilanya konsumsi masyarakat akan daging ayam, hal ini menjadikan pola pikir dari para penggila profit memandangnya sebagai objek semata, bukan sebagai mahluk hidup yang membutuhkan kebebasan.
Hal yang menarik terjadi, setelah beberapa bulan mereka (ayam broiler) mulai tumbuh dewasa, om saya pun mencoba melepas mereka dari kandangnya dengan tujuan mereka bisa hidup bebas layaknya ayam kampung, dan yang terjadi adalah para ayam-ayam broiler ini malah lari dari kebebasan yang telah diberikan, mereka tidak mampu hidup bebas dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan lebihmemilih kembali ke kandang untuk dikurung ketimbang hidup bebaslayaknya ayam kampung pada umumnya, saya jadi teringat konsep Erich Fromm dalam bukunya "Escape from Freedom" (1941) atau "Lari dari Kebebasan".
KEBEBASAN
Menurut Erich Fromm kebebasan ternyata bukan hal yang penting bagi manusia sebab ia tak pernah ada dalam kenyataannya. Kebebasan hanyalah angan-angan manusia semacam utopia berwajah ganda yang abstrak. Kebebasan memiliki kontradiksi tersendiri yang merupakan nilai tertinggi bagi setiap individu dari peradaban barat modern, dalam konsep kebebasan, manusia-manusia Eropa ternyata memiliki hasrat untuk meninggalkan kebebasan yang telah mereka ciptakan.
Kebebasan manusia-manusia Eropa yang diperoleh dari lahirnya zaman pembaharuan atau Renaisans dan proses transisi menuju peradaban modern justru menimbulkan masalah baru, manusia Eropa terasing dari apa yang mereka cita-citakan dari sebuah kebebasan.
Kebebasan dipandang sebagai impian atau cita-cita oleh masyarakat klasik yang dengannya dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki manusia dengan akal budi dalam kehidupan bermasyarakat. Tetapi kebebasan modern ternyata malah melahirkan kondisi alienasi dan ketidakamanan. Kebebasan modern menciptakan perasaan ketidakpastian, tidak berdaya dan tidak bermakna sebagai seorang individu. Realitas inilah yang membuat manusia ingin lari dari kebebasan modern yang diperolehnya. Lari dari ketidakberdayaan dan ketidakbermaknaan, manusia terasing dari kebebasan yang diraih, pada hakikatnya manusia menginginkan menjalin relasi diluar dari dirinya, suatu keterasingan yang mengguncang psikologis manusia melahirkan disintegrasi mental.
Ada 2 alasan menurut Fromm mengapa manusia lari dari kebebasannya, Pertama, rasa kolektif atas dasar kebersamaan, cinta, dan kerjasama menghasilkan manusia yang lebih baik terikat dalam sebuah masyarakat. Kedua, manusia merasa aman jikalau tunduk akan kekuasaan kemudian pada akhirnya akan dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat tersebut, totalitarian, kekejian, materialisme, dan berbagai manifestasi sifat vulgar merupakan bentuk pelarian manusia dari kebebasan.
Tetapi ayam broiler bukanlah manusia yang memiliki kesadaran, pikiran, dan perasaan, binatang ini lari dari kebebasan yang diberikan mungkin karena intuisinya dan kebiasaannya yang terkurung selama hidupnya yang terbentuk dari sifat-sifat totalitarian manusia yang memandang sebagai objek pengasil profit semata bukan sebgai mahluk hidup yang butuh kebebasan. Manusia pun adalah binatang menurut Fromm yang mempunyai kontradiksi dasar yang merupakan bagian sekaligus terpisah dari alam.
Sebagai manusia individu memiliki kesadaran diri, pikiran, perasaan, dan khayalan, namun sebagai binatang individu memiliki kebutuhan fisik tertentu yang harus dipuaskan. Sejarah ideologi-ideologi masyarakat impian manusia selalu mencari kontradiksi dasar atas pemenuhan manusia baik sebagai manusia itu sendiri maupun sebagai binatang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar