Ayam Broiler dan Kebebasan menurut Erich Fromm


Belajar dari fenomena-fenomena disekeliling kita yang mungkin terlihat sederhana namun memiliki makna yang berarti, apabila kita dengan cermat mengamati, memaknai, lalu mengkontekstualisasikan fenomena yang ada secara kongkrit, ada banyak hal-hal yang menarik yang kurang diperhatikan dan jarang dari kita memikirkannya. Belakang om saya gemar memelihara ayam broiler atau lebih dikenal ayam potong dalam dialek Sulawesi, hewan vertebrata ini sering kita temui dipasar-pasar penjualan daging ayam.

Ayam broiler atau ayam potong, kadang miris melihat pola hidup binatang yang satu  ini, bagaimana tidak, setelah ia menetas dari telurnya yang dipanasi dibawah bola lampu ia langsung ditempatkan dalam sebuah kandang atau kurungan, hewan ini langsung dikurung setelah ia menetas, ia hidup, makan dari bibit organik atau jagung selama hidupnya, ia dikurung dalm kandang sejak ia kecil sampai ia besar, kadang dikumpulkan dengan satu jenis kelamin yang semua sama, baik jantan maupun betina, tidak ada udara kebebasan baginya bahkan ia sendiri tak pernah merasakan tuntunan induknya, baik mencari makan ataupun perlindungan, karena sejak menjadi telur dia dierami dan menetas dengan sinar lampu neon.

Ayam ini terkurung selama hidupnya dengan makanan yang sama setiap hari sampai ia berumur dewasa atau tua, ia kemudian disembelih apabila telah beranjak dewasa, satu persatu dari mereka terkadang mati karena wabah penyakit ataukah salah urus dari pemilik ternak, prinsip Struggle for Life, Survival for the fittest, hukum rimba siapa yang paling mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan ialah yang akan bertahan hidup sampai ia dikonsumsi. terkadang kandangnya yang begitu kotor karena sang pemilik biasanya hanya menginginkan keuntungan darinya, baik sebagai kebutuhan makanan pribadi maupun dijual hingga menghasilkan profit, mereka hidup sebagai sebuah objek kebutuhan manusia bukan sebagai hewan liar yang bebas.

Mungkin kita berpikir dan memandangnya dengan sepele karena ayam memang merupakan binatang ternak yang selayaknya dikonsumsi, mereka tidak mempunyai akal, dan hanya mengikuti naluri ataupun intuisinya sebagai seekor binatang, dan manusia pada umumnya memandangnya hanya sebuah objek bagi pelengkap atau pemenuhan kebutuhan kehidupan. Tingkat pengetahuan atau akal manusia seringkali menjadikan manusia lebih superior tidak hanya dibandingkan manusia tetapi juga mahluk lainnya mahkluk hidup lainnya

Prinsip Homo Mensura memang terkadang kejam, menempatkan manusia sebagai satu-satunya subjek utama dan yang lain hanyalah objek termasuk para binatang maupun tumbuhan, tak heran jika sampai hari ini eksploitasi kerakusan manusia terhadap alam dalam paham sistem kapitalisme makin menggila.

Fenomena ayam broiler sangat berbeda dengan ayam kampung yang bisa hidup bebas walaupun memiliki akhir yang sama yaitu disembeli untuk dikonsumsi, ayam kampung cenderung mempunyai kebebasan lebih, mereka dapat bergerak kesana kemari untuk mencari makan, berkembang biak, menetas dierami oleh induknya, hingga memilih untuk tidur diatas pohon yang memang sifat alamiahnya, hal ini kontra dengan apa yang dialami oleh ayam potong broiler yang salama hidupnya terkekangan dan hidup dalam kandang, dalam kondisi masyarakat kapitalisme ayam broiler merupakan sebuah komoditas besar ditengah gilanya konsumsi masyarakat akan daging ayam, hal ini menjadikan pola pikir dari para penggila profit memandangnya sebagai objek semata, bukan sebagai mahluk hidup yang membutuhkan kebebasan.

Hal yang menarik terjadi, setelah beberapa bulan mereka (ayam broiler) mulai tumbuh dewasa, om saya pun mencoba melepas mereka dari kandangnya dengan tujuan mereka bisa hidup bebas layaknya ayam kampung, dan yang terjadi adalah para ayam-ayam broiler ini malah lari dari kebebasan yang telah diberikan, mereka tidak mampu hidup bebas dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan lebihmemilih kembali ke kandang untuk dikurung ketimbang hidup bebaslayaknya ayam kampung pada umumnya, saya jadi teringat konsep Erich Fromm dalam bukunya "Escape from Freedom" (1941) atau "Lari dari Kebebasan".

KEBEBASAN

Menurut Erich Fromm kebebasan ternyata bukan hal yang penting bagi manusia sebab ia tak pernah ada dalam kenyataannya. Kebebasan hanyalah angan-angan manusia semacam utopia berwajah ganda yang abstrak. Kebebasan memiliki kontradiksi tersendiri yang merupakan nilai tertinggi bagi setiap individu dari peradaban barat modern, dalam konsep kebebasan, manusia-manusia Eropa ternyata memiliki hasrat untuk meninggalkan kebebasan yang telah mereka ciptakan.

Kebebasan manusia-manusia Eropa yang diperoleh dari lahirnya zaman pembaharuan atau Renaisans dan proses transisi menuju peradaban modern justru menimbulkan masalah baru, manusia Eropa terasing dari apa yang mereka cita-citakan dari sebuah kebebasan.

Kebebasan dipandang sebagai impian atau cita-cita oleh masyarakat klasik yang dengannya dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki manusia dengan akal budi dalam kehidupan bermasyarakat. Tetapi kebebasan modern ternyata malah melahirkan kondisi alienasi dan ketidakamanan. Kebebasan modern menciptakan perasaan ketidakpastian, tidak berdaya dan tidak bermakna sebagai seorang individu. Realitas inilah yang membuat manusia ingin lari dari kebebasan modern yang diperolehnya. Lari dari ketidakberdayaan dan ketidakbermaknaan, manusia terasing dari kebebasan yang diraih, pada hakikatnya manusia menginginkan menjalin relasi diluar dari dirinya, suatu keterasingan yang mengguncang psikologis manusia melahirkan disintegrasi mental.

Ada 2 alasan menurut Fromm mengapa manusia lari dari kebebasannya, Pertama, rasa kolektif atas dasar kebersamaan, cinta, dan kerjasama menghasilkan manusia yang lebih baik terikat dalam sebuah masyarakat. Kedua, manusia merasa aman jikalau tunduk akan kekuasaan kemudian pada akhirnya akan dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat tersebut, totalitarian, kekejian, materialisme, dan berbagai manifestasi sifat vulgar merupakan bentuk pelarian manusia dari kebebasan.

Tetapi ayam broiler bukanlah manusia yang memiliki kesadaran, pikiran, dan perasaan, binatang ini lari dari kebebasan yang diberikan mungkin karena intuisinya dan kebiasaannya yang terkurung selama hidupnya yang terbentuk dari sifat-sifat totalitarian manusia yang memandang sebagai objek pengasil profit semata bukan sebgai mahluk hidup yang butuh kebebasan. Manusia pun adalah binatang menurut Fromm yang mempunyai kontradiksi dasar yang merupakan bagian sekaligus terpisah dari alam.

Sebagai manusia individu memiliki kesadaran diri, pikiran, perasaan, dan khayalan, namun sebagai binatang individu memiliki kebutuhan fisik tertentu yang harus dipuaskan. Sejarah ideologi-ideologi masyarakat impian manusia selalu mencari kontradiksi dasar atas pemenuhan manusia baik sebagai manusia itu sendiri maupun sebagai binatang.

MAY DAY 2020, COVID-19, DAN KAPITALISME


Seperti tiap tahunnya May Day atau Hari Buruh Internasional diperingati pada tanggal “Satu Mei “  hari bersejarah bagi kaum buruh, tentu ketika kita melihat dari proses historisnya dalam zaman modern hari buruh sedunia ini selalu diperingati oleh kaum buruh dengan turun kejalan bersuara memperjuangkan hak-hak kelas buruh. Namun di tahun ini (2020) berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana dunia telah dilanda pandemi berskala global, memaksa orang-orang untuk mebatasi ruang gerak, berkumpul, dan bersosialisasi yang tentu sangat berpengaruh bagi kaum buruh.

Pertama-tama kita mencoba membaca kondisi dinamika sosial global hari ini secara empiris. Ditengah situasi pandemi global seperti ini banyak sekali orang-orang maupun pakar menginterpretasikan sebab munculnya pandemi ini sesuai dengan basis ilmu maupun asumsi mereka masing-masing, dan salah satu hipotesis yang paling menarik adalah relevansi bagaimana pandemi ini dihubungkan dengan sistem kapitalisme yang hingga hari makin rakus dalam mengeksploitasi alam hingga tatanan kehidupan sosial.

Pandemi yang terjadi hari ini tidak terlepas dari proses historis, hal ini merupakan hasil kontradiksi kondisi sosial yang tentu mempengaruhi realitas historis saat ini, dalam pandangan ini mungkin memang tidak ada yang benar-benar natural terlepas dari causa prima, semua tidak terlepas dari kontradiksi-kontradiksi manusia dan fenomena ini tidak serta merta jatuh dari langit sebagai hukuman dari Tuhan secara magis tanpa proses ilmiah. Pandemi seperti ini bukan hal yang baru dalam sejarah manusia, salah satunya kita bisa lihat sejarah Flu Spanyol terjadi pada tahun 1918 yang gejalanya hampir mirip dengan Covid-19 yang juga menyerang Hindia Belanda atau Indonesia pada waktu itu.

Sebuah penelitian menarik tentang sejarah Flu Spanyol dari seorang peneliti asal Universitas Suwon, Korea Selatan yaitu Tai-Jin Kim dalam jurnalnya Biomedical Science and Engineering di tahun 2019, meneliti tiga jenis flu mematikan di era modern, salahsatunya Flu Spanyol (1918). Dalam kesimpulannya Kim menyebut Flu Spanyol dipicu oleh konsentrasi emisi karbondioksida akibat deru mesin pabrik yang berproduksi, emisi kemudian mengotori atmosfer bumi dan membuat ozon semakin menipis hingga meninggalkan lubang, akibatnya sinar ultraviolet dari matahari yang kian deras membakar bumi membuat gangguan di kutub utara dan selatan, radiasi menerpa permukaan kutub hingga memutasikan virus-virus yang hidup di laut melalui rantai makanan, mengakibatkan beberapa satwa seperti penguin, tiram, dan burung laut tak punya makanan dan kelaparan, hingga akhirnya kemudian memakan ganggang laut, sinar ultraviolet yang merata menghujam seluruh daratan membuat hewan-hewan ini terpapar Avian Influenza Virus (AIV), pengin dan burung laut menjadi sakit kemudian berinteraksi dengan bururng-burung yang berimigrasi hingga mereka pun ikut tertular.

Spanyol yang merupakan tempat pemberhentian tiga jalur penerbangan burung berimigrasi, Atlantik Timur, Laut Hutam/Mediterania dan Afrika Timur/Asia Barat. Menjadi tempat favorit burung untuk berimigrasi karena temperatur yang lebih hangat, ketersediaan makanan, dan radiasi ultraviolet rendah. Kemudian, terjadi kontak antara burung-burung mingrasi yang membawa virus AIV dengan burung-burung domestik yang kemudian ikut sakit,lalu menularkan pada manusia. Sejak saat itu virus menyebar keseluruh dunia yang dibawa oleh para prajurit perang dunia pertama. Virus ini kemudian menyebabkan kematian duapuluh satu juta hingga seratus juta jiwa hingga merambah ke Hindia Belanda atau Indonesia.

Fakta menarik bahwa Revolusi Industri dua yang terjadi pada tahun 1870-1914 awal abad ke 20 dan awal perang dunia pertama berperan dibalik pandemi Flu Spanyol ini, akibat dari operasi gila-gilaan mesin-mesin produksi yang emisinya mempengaruhi atmosfer bumi. Hanya menguntungkan atau memenangkan segelintir orang dan membunuh jutaan ummat manusia melebih jumlah korban perang itu sendiri.

Buruh dan Polemik

Dilihat dari apa yang telah dilakukan pemerintah dengan beberapa kebijakannya sejauh ini tidak ada satupun tindakan yang benar-benar radikal dalam penangan wabah pandemi ini sejak awal maret lalu, pemerintah tidak dapat mengantisipasi penyebaran masuknya virus Covid-19 kedalam negeri, yang akhirnya berakibat pada terganggunya kerja dan produksi dibeberapa perusahaan, hal ini juga mempengaruhi nasib buruh dan mulailah perusahaan-perusahaan mengambil tindakan PHK masal atau buruh-buruh yang dirumahkan, serta pemotongan upah buruh atas asumsi efisiensi modal. Situasi krisis ekonomi maupun politik sedang membayangi dan mungkin akan saja segera datang sebagai suatu keniscayaan, rakyat, pemodal investor, beserta negara dalam ancaman nyata.

Dalam peringatan May Day tahun ini jelas perlawanan terhadap sistem Kapitalisme haruslah makin mendengung, apalagi saat ini pemerintah bersama dengan wakil rakyat DPR malah makin gencar melakukan rapat membahas beberapa RUU seperti Omnibus Law yang kian menguntungkan para kapitalis investor, ditengah gentingnya keadaan situasi akibat virus Covid-19 bukannya mencari solusi terbaik untuk rakyat para pemimpin dan wakil rakyat ini malah cenderung menjadikan situasi ini sebagai peluang dalam meloloskan beberapa RUU yang jelas-jelas bukan untuk kepentingan rakyat banyak.

Saat ini jumlah buruh yang terkena dampak pandemi berkepanjangan sebanyak 375 ribu buruh mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), 1,4 juta buruh dirumahkan, dan 314.833 buruh di sektor informal terkena dampak, kata Airlangga Hartarto selaku Menko Perekonomian seperti dilansir Antara. Setidaknya lebih dari 2 juta buruh di Indonesia terkena dampak pandemi Covid-19.

Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO memprediksi pada kuartal kedua 2020, ada sekitar 1,6 miliar pekerja sektor informal hampir setengah angkatan kerja global terancam kehilangan mata pencaharian saat pandemi karena pengurangan jam kerja perusahaan yang terimbas perpanjangan dan perluasan karantina. ILO memaparkan ada 436 juta usaha berisiko tinggi yang akan terganggu pandemi. Mereka terdiri atas 232 juta di sektor usaha eceran, 111 juta di manufaktur, 51 juta di akomodasi dan jasa makanan dan 42 juta di usaha properti dan kegiatan usaha lainnya dilansir dari Tirto.id.

Dalam merespon hal ini permerintah tidak mampu berbuat banyak. Kebijakan-kebijakan yang cenderung pemerintah dalam kondisi pandemi ini justru menuai berbagai polemik dan tidak efektik mulai dari Physical Distancing hingga diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) belum juga efektif dalam memutus matarantai virus Coid-19 ditengah tingkat infeksi dan kematian akibat virus Covid-19 semakin meningkat, kebanyakan rakyat masih melanggar kebijakan-kebijakan tersebut dikarenakan pemerintah tidak berani dan tidak mampu memberikan jaminan logistik secara penuh selama berlangsungnya pandemi, padahal menurut UU No. 6 tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan pasal 55 ayat 1 dan 2 menyatakan "Selama dalam karantina wilayah kebutuhan hidup dasar orang dan makanan hewan ternak yang berada di wilayah karantina menjadi tanggung jawab pemerintah pusat (1). Tanggung jawab pemerntah pusat dalam penyelenggaraan Karantina Wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan melibatkan pemerintah daerah dan pihak yang terkait (2)".

Selain itu Pembahasan RUU Ombinus Law Cipta Kerja yang sebelumnya bernama Cipta Lapangan Kerja (Cilaka) tetap berlangsung, hal ini merupakan momok bagi kaum buruh saat ini yang tengah gencar-gencarnya dibahas ditengah pandemi dalam rapat sidang DPR bersama dengan pemerintah, walaupun saat ini berhasil ditunda karena berbagai penolakan khususnya dar kaum buruh itu sendiri.

Omnibus Law jelas menguntungkan pemilik modal atau investor dimana didalamnya terdapat perluasan kontrak kerja dan outsourcing yang memudahkan buruh mengalami PHK. Buruh perempuan tidak akan mendapatkan upah penuh meski hari kerjanya dikurangi karena cuti haid, Buruh pun akan memperoleh pengurangan pesangon saat di PHK dan akan banyak lagi bencana yang akan ditimbulkan seperti harga tanah murah, perampasan tanah hingga konflik agraria diprediksi akan makin subur.

Bagaimana dngan kartu pekerja yang awalnya ditujukan bagi para pengangguran di negeri ini yang kian gemuk, tercatat sudah sekitar 5,6 juta pendaftar, kini kartu pekerja dialih fungsikan menjadi talangan bagi para buruh korban PHK akibat Covid-19 tetapi sekilas program ini mirip bantuan sosial bersyarat yang mewajibkan setiap peserta mengikuti pelatihan selama empat bulan jelas rancu dengan realitas sekarang yang mengharuskan membatasi kontak sosial, belum lagi kebijakan ini akhirnya membongkar beberapa kasus bagi-bagi proyek sebut saja perusahaan daring seperti Ruang Guru sebagai salah satu vendor dan perusahaan daring lainnya.

Polemik lain kita lihat di Konawe, tanpa ada unsur rasialisme, disaat ribuan buruh lokal di PHK pemerintah justru malah menyetujui impor ratusan TKA masuk ke dalam negeri, bahkan Kemenaker pun mengaku tak bisa menolak izin TKA ini, hal ini sudah pasti ada dalam MOU atau perjanjian antara pemerintah dan pemilik modal yang merupakan perusahaan asing, walaupun pada akhirnya Perusahaan memutuskan menunda pengurusan untuk mendatangkan TKA hingga kondisi memungkinkan karena mendapat penolakan publik, sungguh ironi dengan kondis sosial sekarang.

Kasus-kasus yang terbaru mengenai eksploitasi 18 jam kerja dan tindak tidak manusiawi  kapal Long Xin 629 dan 604 terhadap pekerja Anak Buah Kapal (ABK) yang mengakibatkan 3 awak kapal WNI meninggal dibuang ke laut. Juga dalam kasus buruh PT. Freeport yang tetap beroperasi meski buruh yang terpapar Covid-19 sudah mencapai 51 orang buruh positif dan menerapkan sanksi No Work No Pay, pemerintah sebagai pemegang saham terbanyak harusnya bertanggung jawab dalam hal ini.

Kaum buruh harus sadar akan nasibnya hari ini dan segera mengambil sikap, Tumpang tindih kebijakan dalam menanggulangi situasi ini membuat buruh semakin terombang-ambing dalam ketidak pastian. Ditengah pandemi berkepanjangan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kian meluas utamanya sektor produksi tekstil manufaktur, transfortasi, dan yang terdampak lainnya. Kaum buruh harus tetap terorganisir, berserikat, dan secara kolektif menetukan sebuah langkah yang memenangkan nasib kaum buruh. Dengan tetap menolak RUU Omnibus Law disemua klaster, menolak PHK massal atau kebijakan buruh yang dirumahkan serta menolak pemotongan gaji dan membayar seluruh tunjangan-tunjangan buruh sesuai kontrak kerja, hapuskan kerja Outsourching dan cuti melahirkan buruh perempuan, hingga menuntuk kewajiban pemerintah dalam melindungi segenap rakyat (perlindungan kesehatan dan pangan) rakyat ditengah pandemi susuai dengan amanat konstitusi.

Membaca Arah Krisis Kapitalisme

Dalam awal pembahasan diatas saya telah sedikit menyinggung g sistem kapitalisme yang merusak tatanan sebuah ekosistem yang berdampak pada manusia itu sendiri, kapitalisme selalu koheren dengan eksploitasi manusia hingga eksploitasi lingkungan yang bergerak secara mekanis dan terus-menerus tanpa henti. David Harley dalam bukunya  A Companion to Marx mengatakan bahwa "Modal bukanlah benda, melainkan proses yang hanya ada dalam gerak. Ketika sirkulasi berhenti nilai lenyap dan keseluruhan sistem akan menjadi runtuh.. Tidak ada kapitalisme tanpa gerak".

Marx dan Engels dalam Manifesto of the Communist Party (1848) hal.39, "Kebutuhan akan pasar yang senantiasa meluas untuk barang-barang hasilnya mengejar borjuasi ke seluruh muka bumi. Ia harus bersarang dimana-mana, bertempat dimana-mana, mengadakan hubungan-hubungan dimana-mana".  Hal. 55, "Eksploitasi merupakan suatu bagian penting dari ekonomi kapitalis. Tentu saja, semua masyarakat memiliki eksploitasi, tetapi yang unik didalam kapitalisme adalah bahwa eksploitasi dilakukan oleh sistim ekonomi yang impersonal dan objektif". Seperti yang ditekankan Marx dan Engels sebuah poin penting ketika menegaskan bahwa pertumbuhan dan ekspansi yang stabil adalah faktor yang vital bagi daya hidup kapitalisme. Apabila kapitalisme itu berhenti maka kiamat dalam kapitalime pun akan segera hadir.

Dalam sejarahnya kapitalisme telah beberapakali mengalami krisis, seperti yang digabarkan Robert Leckham dan Borin van Loon dalam bukunya Kapitalisme : Teori dan Sejarah Perkembangan, salah satu kehancuran kapitalisme terjadi pada tahun 1929 yang meyakinkan banyak orang bahwa kapitalisme telah menemui akhir riwayatnya, negara-negara seperti Inggris dan Amerika mengalami depresi hebat atau malaiset. Gross National Product (GNP) Amerika jauh dari 104 milyar dolar menjadi 56 milyar dolar yang terjadi pada tahun 1929-1933, angka pengangguran melambung tinggi dari 1,5 milyar menjadi 12,8 milyar. Investasi Amerika jatuh sampai 88 % tahun 19292-1933. Faktor lain yang ikut menyumbang dalam keruntuhan (ekonomi) , adalah sektor pertanianyang telah jatuh selama bertahn-tahun. Laba memuncak sementara gaji mendasar tetap tidak berubah. Kredit runtuh perusahaan-perusahaan ambruk, makin diperburuk oleh kebijakan suplai uang yang ketat.

Tahun 2008 juga merupakan krisis ekonomi terparah dalam sejarah kapitalisme sejak 1929 yang dipicu oleh krisis sektor perumahan di tahun 2007,juga mengakibatkan PHK massal dan besarnya angka pengangguran. Amerika yang merupakan negara adidaya lagi-lagi mengalami depresi ekonomi, perusahaan-perusahaan raksasa keuangan, sektor perbankan, hingga asuransi jantung harus gulung tikar, kontradiksi internal membuat pasar terhenti, dan harus kembali meminta bailout dari pemerintah yang kmudian melahirkan kebijakan The Emergency Ekonomic Stabilization Act atau The Troubled Asset Relief Program (TARP).

Dewasa ini kapitalisme telah menemui satu kontradiksi internalnya yang bisa saja mengubur dirinya sendiri atau mungkin juga sebaliknya, ini semua tergantug pada meruncingnya pertentangan kelas apabila momentum krisis global hadir, walaupun momentum deterministik ini lahir bukan dipicu dari gerak material revolusioner melainkan pandemi global yang menyerang tanpa pandang bulu membabat semuanya, dalam teori tentang revolusi semua tentu kembali tergantung pada kesiapan kesadaran kelas material subjektif revolusioner untuk mengambil alih situasi, tanpa semua itu kapitalisme hanya akan bertransformasi pasca pandemi atau bisa jadi ini hanya momentum menyaksikan corak kapitalisme tua runtuh dan digantikan dengan corak kapitalisme yang baru, yang lebih mampu beradaptasi.

Banyak perusahaan-perusahaan yang tengah gulung tikar akibat pandemi covid-19, perusahaan bergerak dalam bidang produksi  tekstil manufaktur, transportasi, dan lain-lain tengah dirundung masalah. Saat ini sekitar 80 persen perusahaan produk tekstil menghentikan aktivitas produksinya dan sekitar 70 persen perusahaan tekstil terancam bangkrut, berbeda dengan perusahaan berbasis daring atau online mereka mungkin masih bisa bertahan dengan tetap menfaatkan kemajuan teknologi dengan katalain inilah nafas akhir dari kapitalisme itu, yang menentukan hidup mati sistem ekonomi kapitalisme.

logika liarnya bisa kita adopsi dari teori Darwin yang kemudian kita bawa dalam konteks sosial hari ini, bahwa sistem kapitalisme berada dalam kondiri Struggle For Life atau yang disebut Herbert Spencer dengan Survival For The Fittest yang merupakan sebuah proses seleksi alam, yang mampu bertahan bukanlah mereka yang kuat melainkan mereka yang mampu beradaptasi, kondisi inipun sama dengan kondisi kapitalisme saat ini, bagaimana dengan negara Amerika yang merupakan negara adidaya dengan ekonomi yang kuat kental akan paham kapitalisme malah kewalawan hingga ekonomi terancam runtuh  dan mengalami resesi, Goldman Sachs memperkirakan PDB Amerika Serikat akan menciut sekitar 24%, kebijakan "Stay At Home" memaksa kegiatan produksi terhenti, investasi mandek ditengah situasi seperti ini, pengusaha mengalami kebangkrutan, hingga pengangguran meningkat dan krisis membayangi, sampai hari ini dengan hadirnya virus Covid-19 total yang terjangkit di Amerika menjadi 1.128.555 kasus tertinggi pertama di dunia.

Tingkat pengangguran di Amerika semakin melonjak semenjak merebaknya wabah virus corona, menurut Departemen Tenaga Kerja AS di Washington saat ini tingkat pengangguran menjadi 14,7 % pada April 2020 hampir menyamai krisis 2008-2009 yaitu 15 %. Hal Ini berarti sekitar 20,5 juta lapangan pekerjaan sudah tidak lagi tersedia sejak bulan April. Diperkirakan pada bulan Mei mencapai 20-25 %, ini merupakan ancaman serius bagi Trump dan Amerika.

Asumsi-Asumsi

Krisis yang menyebabkan kontradiksi suply dan demand sehingga nilai produksi merosot, berakibat pada kapasitas produksi  yang kemudian akan mempercepat de-industrialisasi yan berarti hadirnya gelombang phk massal, penganguran dan kejatuhan daya beli secara masif.

Slavoj Zizek dalam artikelnya Global Communism Or The Jugle Law, Coronavirus Forces Us To Decide memberi kita dua pilihan radikal antara logika paling brutal tentang survival of the fittest atau memilih semacam penciptaan kembali komunisme. Ia menyatakan pandemi memaksa negara-negara didunia kembali pada komunisme melalui koordinasi dan kolaborasi global.

Zizek menegaskan sebuah asumsi, ia mengatakan "Saya bukan utopian di sini, saya tak mengimbau solidaritas yang diidealkan di antara orang-orang sebaliknya, krisis saat ini menunjukkan dengan jelas bagaimana solidaritas dan kerja sama global demi kepentingan bertahan untuk semua dan kita masing-masing, adalah langkah rasional egois untuk dilakukan. Dan bukan hanya virus corona: China sendiri menderita flu babi raksasa beberapa bulan lalu, dan sekarang terancam oleh kemungkinan adanya wabah belalang. Plus, seperti yang dicatat Owen Jones, krisis iklim membunuh lebih banyak orang di seluruh dunia daripada virus korona, tetapi tak ada kepanikan mengenai hal ini". Zizek mengklaim bahwa Pendekatan komunis global merupakan satu-satunya cara atau solusi ditengah pandemi ketimbang berhadapan dengan logika paling brutal tentang survival of the fittest.

Berbeda dengan Martin Suryajaya yang lebih cenderung pada jalan sosialisme, dalam tulisannya yang berjudul Membayangkan Ekonomi Dunia Setelah Korona, ia menytakan bahwa salah satu cara menghindari semua kemungkinan terburuk dalam situasi pandemi ini adalah negara akan kembali pada sosialis walaupu dengan cara terpaksa, ya, negara akan dipaksa memilih jalan sosialis sebagai salah satu alternatif yang paling memungkinkan, sosialime hari ini adalah cara agar spesies manusia tidak punah. Dengan empat kecenderungan menurut Martin Suryajaya (de-industrialisasi, de-finansialisasi, diskoneksi fisik, dan pelokalan global) "inilah yang menuntun terciptanya tata ekonomi baru dunia di mana sektor swasta akan remuk dan satu-satunya kekuatan ekonomi yang signifikan adalah negara. Dengan begitu, secara sendirinya sosialisme akan kembali menjadi pedoman bagi negara-negara yang hendak selamat secara ekonomi".

Covid-19 lah yang berperan menuntun kearah jalan sosialis, ada beberapa langkah-langkah radikal yang dilakukan beberapa negara hari ini dalam menghadapi pandemi ini yaitu dengan menasionalisasi perusahaan-perusahaan milik swasta. Kita tahu negara-negara seperti Spanyol, Irlandia, Prancis, Amerika dan Inggris telah menasionalisasi sektor-sektor penting seperti Rumah Sakit, Perusahaan Farmasi, Industri Kereta Api  dan sektor-sektor yang terdampak pandemi lainnya.

Apa yang dituliskan Martin Suryajaya tentu bukanlah cara untuk mencapai sosialisme yang sesungguhnya, melainkan keterpaksaan menempuh jalan sosialisme cara agar spesies manusia tidak punah dalam artian sosialisme tercipta yang disesuiakan dengan kondisi sosial historis. Hemat saya, hal-hal diatas hanya akan menciptakan sosialisme semu atau semacam opium ditengah pandemi, yang juga merupakan perpanjangan napas dari kapitalisme, untuk segera menyelamatkan diri dan bertransformasi tentunya melalui bantuan negara sebagai agen. Kita tahu bahwa selamanya dalam masyarakat kapitalis negara hanya akan menjadi pelayan bagi kelas yang superior yaitu para borjuasi atau para elit kapitalis. Kapitalisme telah membunuh fungsi dari negara itu sendiri, konsep bangsa dan sistem demokrasi hanyalah sebuah omong kosong diatas berkuasanya modal.

Depresi ekonomi sedang mengintai dan kini perusahaan swasta berbondong-bondong memohon bail out dari negara, dan negara akan menjawabnya dengan nasionalisasi seperti yang terjadi di negara-negara maju hari ini, Ironisnya, Kapitalisme mengingkari prinsip-prinsip dasar pasar bebas atau libertyville disaat krisis, ini menunjukkan kapitalisme merupakan sistem yang rapuh disaat kontradiksi-kotradiksi internalnya mulai menemui puncakya, bagaimana kita lihat kebijakan bail out para kapitalis yang jelas mengingkari prinsip Laissez-Faire atau campur tangan pemeritah. Jelas hal ini merupakan sebuah pukulan bagi rakyat karena krisis kapitalisme tidak hanya merugikan para pemodal tetapi juga rakyat. Krisis kapitalisme jelas akan berdampak pada negara yang pada akhirnya selalu akan mengorbankan rakyat dan kelas pekerja.

Dari perjalanan historis rakyat dan kelas pekerja selalu menjadi tumbal dari krisis kapitralisme, kelas pekerja lah yang akan menanggung semua krisis ini, dengan otomatis negara akan akan mengajukan peminjaman atau obligasi kepada Bank Dunia atau IMF yang pada akhirnya rakyat lah yang akan dirugikan akan hal tersebut. Dikutip dari CNBCIndonesia.com, saat ini di Indonesia tiap-tiap orang akan menanggung utang negara kira-kira sebanyak 16 juta per orang, hal ini akan makin diperparah dengan adanya krisis akibat Covid-19.

Nasionalisasi hanya akal-akalan para pemodal yang berkolusi dengan negara untuk menyelamatkan sistem kapitalisme dalam jangka panjang, dalam berbagai sejarahnya kapitalisme telah berulang kali melakukan nasionalisasi, hal ini lakukan untuk menyelamatkan kapitalisme.

Seperti yang dituliskan dalam artikel Revolusioner.org tentang Nasionalisas dan Sosialisme "Korona", Yang harus diperhatikan adalah kelas mana yang melakukan nasionalisasi, dalam krisis akibat pandemi ini jelas kapitalisme lah yang melakukan nasionalisasi lewat negara yang mendukung kapitalisme, dan tuujuan utama negara kapitalis adalah melayani kepentingan jangka panjang kapitalis sebagai sebuah kelas. Dikutip dari Revolusioner.org, misalnya, "selama krisis finansial 2008, pabrik mobil General Motors dan Chrysler mengalami kebangkrutan dan harus di bail out. 60 % sahamnya dibeli pemerintah, yang berarti secara efektif dinasionalisasi. 10 tahun kemudian, kedua pabrik mobil ini sudah kembali jadi milik kapitalis, sementara rakyat Amerika harus menanggung miliaran dolar yang digelontorkan untuk menyelamatkan GM dan Chrysler". Lanjutnya dalam Pandemi ini misalnya , mengenai Nasionalisasi Rumah Sakit Swasta di Spanyol  dan Irlandia "ini masih milik swasta, hanya saja penggunaan fasilitas mereka akan diregulasi untuk dikoordinasi dengan usaha pemerintah dalam memerangi epidemi. Rumah sakit swasta ini tetap akan dibayar untuk jasanya dan kepemilikan pribadi tidak akan disentuh. Inilah mengapa tidak ada kapitalis yang memprotes sama sekali".

Nasionalisasi ala kapitalisme hanya akan melahirkan perpanjangan nafas kapitalisme itu sendiri lewat bantuan negara kapitalis, dan bukan merupakan kelahiran sosialisme yang sesungguhnya. Berbeda dengan nasionalisme progresif, nasionalisme yang lahir dari perjuangan kelas, melalui kelas buruh beserta rakyat pekerja hasil dari kesadaran revolusioner lalu diwujudkan dalam negara yang dikontrol oleh kaum buruh dan rakyat pekerja lewat sistem ekonomi politik sosialisme.

Menalar peristiwa yang akan datang, hemat saya, apabila chaos terjadi akibat krisis kapitalisme, kaum revolusioner harus siap dan sudah matang, bergerak secara kolektif menjadi intelektual organik, mengorganisir kaum buruh dan rakyat pekerja, kesadaran akan revolusioner haruslah tercipta,  karena sosialisme tidak akan diberikan kepada kaum tertindas oleh kaum penindas tetapi tetapi kemenangan sosialisme haruslah direbut, sosialisme selamanya berasal dari bawah bukan dari atas.

 

Pertama ditulis 1 Mei 2020 selesai pada 19 Mei 2020

Menalar Mekanisme Herd Immunity



Bukan mitos bahwa negara yang dikuasai oleh oligarki dan oligarki kapital tidak akan pernah memikirkan nasib rakyat, mereka menjalankan negara untuk kepentingannya, untuk kepentingan kaum pemodal dan sama sekali bukan untuk kepentingan rakyat banyak.

Begitulah kira-kira kondisi negara hari ini, rezim hari ini termasuk rezim terparah setelah orde baru, bahkan bisa dibilang anak kandung orde baru, bedanya rezim hari ini dipimpin oleh orang sipil, tetapi disetir oleh oleh mantan petinggi-petinggi militer dan tentu saja kaum pemodal. Mungkin juga pernyataan tersebut kurang tepat bahwa rezim ini disetir, karena setiap manusia dibekali akal budi untuk bisa berpikir mandiri dan menentukan arahnya sendiri, jadi bisa dibilang diapun sebenarnya adalah bagian dari oligarki tulen yang dibungkus dengan nuansa kerakyatan yang lahir dari demokrasi ala borjuasi

Wabah Pandemi Corona atau Covid-19 telah mempertontonkan sifat-sifat asli para oligarki ini, kita bisa lihat dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah yang cenderung meremehkan pandemi ini sejak awal yang pada akhirnya kalang kabut juga. Satu alasan utama pemerintah adalah kepentingan ekonomi. Mengapa ? Karena modal akan runtuh tanpa adanya gerak seperti yang dikatakan David Harvey dalam bukunya A Companion to Marx's. Saat ini pemerintah diberi 2 opsi antara memilih keselamatan rakyat atau memilih keselamatan ekonomi. Hal ini sudah jelas dibawah kekuasaan para oligarki jelas mereka akan memilih keselamatan ekonomi, tetapi tetap mengharap rakyat bisa melalui semua ini dengan mandiri dengan sedikit campur tangan pemerintah, karena rakyatlah penggerak utama modal tersebut.

Artinya pemerintah memilih tidak melakukan hal-hal yang berarti atau kebijakan-kebijakan radikal dalam menangani wabah ini seperti yang dilakukan negara Vietnam, Singapura, ataupun Tiongkok. Mereka mengharap pandemi ini berlalu tanpa harus mengotori tangan mereka.

Belakangan ini terlepas dari berbagai kebijakan blunder pemerintah yang lalu, kali ini pemerintah melonggarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah, hal ini jelas akan menciptakan kondisi keramaian dimana-mana sebagai hal yang tak terhindarkan lagi. Semua ini dilakukan tentunya semata-mata demi kepentingan pertumbuhan ekonomi padahal tingkat penyebaran virus Corona ini belum juga mengalami penurunan justru malah sebaliknya, logika pemerintah kali ini tentunya mengacu pada mekanisme Herd Immunity, yang secara tidak terbuka diterapkan oleh pemerintah. Apa itu Herd Immunity ? Herd Immunity adalah upaya menghentikan laju penyebaran virus dengan cara membiarkan imunitas alami tubuh. Sehingga daya tahan atau imunitas diharapkan akan muncul dan virus akan rendah dengan sendirinya. Perlu diketahui bahwa Here Immunity membiarkan 75 % membiarkan populasi terinfeksi virus.

Artinya kebijakan kelonggaran PSBB diberbagai daerah ini mengacu pada mekanisme Herd Immunity, seperti yang saya katakan diatas bahwa pemerintah mengharapkan keuntungan tanpa harus mengotori tangannya. Jadi jangan heran jikalau angka infeksi pandemi ini akan meningkat, karena memang kebijakannya kearah sana. Sederhananya pemerintah akan membiarkan kita semua terinfeksi virus Corona lalu tubuh akan merespon dan menciptakan atau meningkatkan Imun dari proses infeksi tersebut. Mungkin inilah maksud dari pernyataan Presiden beberapa waktu lalu yang mengatakan kita harus berdamai dengan pandemi ini, juga sebagai tanda berkibarnya bendera putih pemerintah.

Tetapi pertanyaan apakah rakyat yang berjumlah 270 juta jiwa lebih ini memiliki kekebalan atau imunitas tubuh yang sama dan mampu melalui pandemi ini dengan mekanisme Herd Immunity ? Dan apakah ada pihak-pihak yang dirugikan dalam kebijakan ini ?.

Logika pemerintah mengenai penerapan mekanisme Herd Immunity mungkin bersumber dari pandemi Flu Spanyol 1918 yang mungkin efektif menghentikan laju pandemi pada saat itu, tetapi perlu dicatat bahwa korban Flu Spanyol tidaklah sedikit, lebih dari 50 juta manusia menjadi korban. Kita membaca langkah pemerintah menerapkan Herd Immunity secara tidak terbuka sebagai sebuah perjudian yang menang atau kalahnya tergantung dari kondisi Imun masing-masing orang. Apabila praktek kelinci percobaan ini berhasil maka tiap-tiap dari kita yang telah terinfeksi akan menjadi kebal dan dengan sendirinya masalah Covid-19 akan terselesaikan. Tetapi apabila yang terjadi malah sebaliknya maka 270 jiwa lebih dalam ancamanan kematian massal, dan barbarisme sebagai konsekuensi pasti.

Imunitas menjadi faktor penentu, perlu dicatat bahwa setiap manusia mempunyai imunitas berbeda dan karakter dari virus Covid-19 ini jelas beda dengan virus Flu Spanyol tahun 1918. Covid-19 dapat bermutasi menjadi ratusan strain, mungkin si A kebal pada Strain Corona v1.0, tetapi belum tentu kebal pada Strain Corona v2.0. seperti yang dipaparkan Amat dalam laman Facebook-nya.

Lalu pihak siapa yang akan dirugikan, tentu kita semua sebagai rakyat, sebagai bahan kelinci percobaan atas nostalgia mekanisme Herd Immunity Flu Spanyol. Tetapi perlu diingat bahwa saat ini para petugas kesehatan yang merupakan palang pintu, garda terdepan dalam penanganan Covid-19 sedang berjuang keras sekaligus mempertaruhkan nyawa dalam pandemi ini, apabila Herd Immunity mengalami kegagalan bukan cuman rakyat yang akan tumbang, mereka pun sebagai palang pintu kita akan tumbang, jam kerja yang tak terkontrol lagi, depresi berat akibat beban, kondisi kerja akan muncul perlahan-lahan, over load di berbagai fasilitas kesehatan, alat-alat tak memadai lagi, cepat atau lambat mereka pun akan tumbang, lalu kepada siapa kita akan mengharap ? Pemakaman massal pun tak terhindarkan.


Bantal Guling dalam "Jejak Langkah"



Di suatu sore ketika membaca salah satu karya Pramoedya Ananta Toer yaitu Jejak Langkah dalam Tertalogi Pulau Buruh saya menemukan satu informasi menarik mengenai asal-usul dari sebuah bantal guling yang bisanya akrab dengan kita orang-orang Indonesia, seakan tidur tidaklah nyaman tanpa dilengkapi bantal panjang yang biasa disebut "Guling"

Pram tidak hanya mengisahkan sebuah cerita tetapi juga membawa unsur-unsur historis kebudayaan kita, salah satunya asal-usul bantal guling yang ternyata bukan berasal kebiasaan pribumi. Hal ini dikisahkan dalam halaman 64-65 ketika salah satu seorang teman dari Minke (tokoh utama) yang bernama Wiliam menceritakan sebuah anekdot, dikutip dalam novel "Jejak Langkah" ia bercerita begini : Tahukah  kalian apa sebab didalam asrama tidak ada guling ? Sambil tertawa dengan pernyataannya sendiri.

Nah, dengarkan baik-baik aku ceritai. Guling yang kalian sukai di ranjang itu, takkan kalian temukan di negeri-negeri lain di dunia. Setidak-tidaknya begitu cerita mamahku. Tak tahulah sepuluh tahun mendatang. Pribumi Hindia belum lagi lama menggunakannya. Mereka hanya meniru-niru orang Belanda. Apa keenakan yang datang dari Belanda serta-merta ditiru orang terutama para priyayi berkepala tapuk itu. Inggris mengetawakan kebiasaan berguling.

"Cuma sedikit orang Belanda datang kemari (Hindia) membawa perempuan," ia meneruskan. "Juga orang-orang Eropa lainnya. Di sini mereka terpaksa menggundik. Tapi orang Belanda terkenal sangat pelit. Mereka ingin pulang ke negerinya sebagai orang berbeda. Maka banyak juga yang tak mau menggundik. Sebagai pengganti gundik mereka membikin guling-gundik yang tak dapat kentut itu.

Hai, kau, Kleoooo (salah satu sahabat Minke), pernah kau temui guling dalam sastra Jawa lama ? Tak bakal ada. Dan kau, Sutan (juga sahabat Minke), ada kata-kata itu dalam sastra Melayu ? Nol besar. Memang tidak ada. Itu bikinan Belanda tulen-gundik tak berkentut. Ducth Wife. (Ingg., Bini Belanda).

Lanjutnya mengakhiri cerita..

"Dan tahu kalian orang pertama-tama yang menamainya ? Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Hindia."

"Dan orang Inggris di di Hindia,"Kleoo menambahi, "bila datang ke Hindia sini, pertama-tama yang dimintainya adalah justru si Ducth Wife, gundik tak berkentut itu. Orang Belanda menganggap orang Inggris paling pelit di dunia, paling rakus dan paling sekakar, menamainya : British Doll (Ingg., Boneka Inggris).

Dibalik kerakusan dan ketamakan kedua negara kolonialis ini (Belanda dan Inggris) ternya ada manfaat dari guling dalam sejarah budaya patriarki zaman kolonial, yaitu menghindarkan budaya-budaya patriarki lewat Ducth Wife atau British Doll disamping sikap pelit para kolonial, yang pada saat itu perempuan pribumi hanya dijadikan sebagai pemuas hasrat atau yang biasa disebut gundik.