Menalar Mekanisme Herd Immunity



Bukan mitos bahwa negara yang dikuasai oleh oligarki dan oligarki kapital tidak akan pernah memikirkan nasib rakyat, mereka menjalankan negara untuk kepentingannya, untuk kepentingan kaum pemodal dan sama sekali bukan untuk kepentingan rakyat banyak.

Begitulah kira-kira kondisi negara hari ini, rezim hari ini termasuk rezim terparah setelah orde baru, bahkan bisa dibilang anak kandung orde baru, bedanya rezim hari ini dipimpin oleh orang sipil, tetapi disetir oleh oleh mantan petinggi-petinggi militer dan tentu saja kaum pemodal. Mungkin juga pernyataan tersebut kurang tepat bahwa rezim ini disetir, karena setiap manusia dibekali akal budi untuk bisa berpikir mandiri dan menentukan arahnya sendiri, jadi bisa dibilang diapun sebenarnya adalah bagian dari oligarki tulen yang dibungkus dengan nuansa kerakyatan yang lahir dari demokrasi ala borjuasi

Wabah Pandemi Corona atau Covid-19 telah mempertontonkan sifat-sifat asli para oligarki ini, kita bisa lihat dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah yang cenderung meremehkan pandemi ini sejak awal yang pada akhirnya kalang kabut juga. Satu alasan utama pemerintah adalah kepentingan ekonomi. Mengapa ? Karena modal akan runtuh tanpa adanya gerak seperti yang dikatakan David Harvey dalam bukunya A Companion to Marx's. Saat ini pemerintah diberi 2 opsi antara memilih keselamatan rakyat atau memilih keselamatan ekonomi. Hal ini sudah jelas dibawah kekuasaan para oligarki jelas mereka akan memilih keselamatan ekonomi, tetapi tetap mengharap rakyat bisa melalui semua ini dengan mandiri dengan sedikit campur tangan pemerintah, karena rakyatlah penggerak utama modal tersebut.

Artinya pemerintah memilih tidak melakukan hal-hal yang berarti atau kebijakan-kebijakan radikal dalam menangani wabah ini seperti yang dilakukan negara Vietnam, Singapura, ataupun Tiongkok. Mereka mengharap pandemi ini berlalu tanpa harus mengotori tangan mereka.

Belakangan ini terlepas dari berbagai kebijakan blunder pemerintah yang lalu, kali ini pemerintah melonggarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah, hal ini jelas akan menciptakan kondisi keramaian dimana-mana sebagai hal yang tak terhindarkan lagi. Semua ini dilakukan tentunya semata-mata demi kepentingan pertumbuhan ekonomi padahal tingkat penyebaran virus Corona ini belum juga mengalami penurunan justru malah sebaliknya, logika pemerintah kali ini tentunya mengacu pada mekanisme Herd Immunity, yang secara tidak terbuka diterapkan oleh pemerintah. Apa itu Herd Immunity ? Herd Immunity adalah upaya menghentikan laju penyebaran virus dengan cara membiarkan imunitas alami tubuh. Sehingga daya tahan atau imunitas diharapkan akan muncul dan virus akan rendah dengan sendirinya. Perlu diketahui bahwa Here Immunity membiarkan 75 % membiarkan populasi terinfeksi virus.

Artinya kebijakan kelonggaran PSBB diberbagai daerah ini mengacu pada mekanisme Herd Immunity, seperti yang saya katakan diatas bahwa pemerintah mengharapkan keuntungan tanpa harus mengotori tangannya. Jadi jangan heran jikalau angka infeksi pandemi ini akan meningkat, karena memang kebijakannya kearah sana. Sederhananya pemerintah akan membiarkan kita semua terinfeksi virus Corona lalu tubuh akan merespon dan menciptakan atau meningkatkan Imun dari proses infeksi tersebut. Mungkin inilah maksud dari pernyataan Presiden beberapa waktu lalu yang mengatakan kita harus berdamai dengan pandemi ini, juga sebagai tanda berkibarnya bendera putih pemerintah.

Tetapi pertanyaan apakah rakyat yang berjumlah 270 juta jiwa lebih ini memiliki kekebalan atau imunitas tubuh yang sama dan mampu melalui pandemi ini dengan mekanisme Herd Immunity ? Dan apakah ada pihak-pihak yang dirugikan dalam kebijakan ini ?.

Logika pemerintah mengenai penerapan mekanisme Herd Immunity mungkin bersumber dari pandemi Flu Spanyol 1918 yang mungkin efektif menghentikan laju pandemi pada saat itu, tetapi perlu dicatat bahwa korban Flu Spanyol tidaklah sedikit, lebih dari 50 juta manusia menjadi korban. Kita membaca langkah pemerintah menerapkan Herd Immunity secara tidak terbuka sebagai sebuah perjudian yang menang atau kalahnya tergantung dari kondisi Imun masing-masing orang. Apabila praktek kelinci percobaan ini berhasil maka tiap-tiap dari kita yang telah terinfeksi akan menjadi kebal dan dengan sendirinya masalah Covid-19 akan terselesaikan. Tetapi apabila yang terjadi malah sebaliknya maka 270 jiwa lebih dalam ancamanan kematian massal, dan barbarisme sebagai konsekuensi pasti.

Imunitas menjadi faktor penentu, perlu dicatat bahwa setiap manusia mempunyai imunitas berbeda dan karakter dari virus Covid-19 ini jelas beda dengan virus Flu Spanyol tahun 1918. Covid-19 dapat bermutasi menjadi ratusan strain, mungkin si A kebal pada Strain Corona v1.0, tetapi belum tentu kebal pada Strain Corona v2.0. seperti yang dipaparkan Amat dalam laman Facebook-nya.

Lalu pihak siapa yang akan dirugikan, tentu kita semua sebagai rakyat, sebagai bahan kelinci percobaan atas nostalgia mekanisme Herd Immunity Flu Spanyol. Tetapi perlu diingat bahwa saat ini para petugas kesehatan yang merupakan palang pintu, garda terdepan dalam penanganan Covid-19 sedang berjuang keras sekaligus mempertaruhkan nyawa dalam pandemi ini, apabila Herd Immunity mengalami kegagalan bukan cuman rakyat yang akan tumbang, mereka pun sebagai palang pintu kita akan tumbang, jam kerja yang tak terkontrol lagi, depresi berat akibat beban, kondisi kerja akan muncul perlahan-lahan, over load di berbagai fasilitas kesehatan, alat-alat tak memadai lagi, cepat atau lambat mereka pun akan tumbang, lalu kepada siapa kita akan mengharap ? Pemakaman massal pun tak terhindarkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar