Dulu diawal tahun 2000an hingga kurang dari satu dekade sampai tahun 2008, tepatnya ketika masih sekolah SD-SMP, aku masih mengingat betul ketika musim buah tiba (Langsat, rambutan dan Durian) di desa kami, itu seringkali ditandai dengan migrasi sekawanan kelelawar yang terbang dari arah pesisir menuju ke pegunungan di desa kami.
Hal ini menjadi fenomena atau satu tanda tersendiri bahwa musim buah telah tiba dan memang pada waktu itu buah-buahan di desa kami begitu melimpah, sehingga meningkatkan kesejahteraan penduduk atau orang-orang di kampung kami, pesta panen pun bisa dibilang selalu dirayakan tiap tahunnya. Situasi ini sangat berbeda dengan hari ini, sudah dua tahun buah ciri khas desa kami ini tak berbuah lagi (Langsat Rambutan Durian).
Hal ini melahirkan berbagai suara-suara sumbang yang tak jarang tidak berdasar logika, banyak yang mengatakan hal ini kerana dosa kita, karena maksiat lah diarea tepi sungai (wisata desa), yang mencemari air sungai, tak jarang juga yang menyalahkan cuaca, yang akhir-akhir ini memang lebih banyak hujannya ketimbang kemarau. Mereka seakan lupa hal yang mendasar seperti "perubahan iklim atau emisi karbon, bagaimana dengan deforestasi diluar sana apakah itu tidak berdampak sampai ke desa kita ?.
Aku jadi merindukan migrasi sekawanan kelelawar-kelelawar itu, memori itu benar-benar aku rindukan secara pribadi, di sore hari ketika langit mulai berwarna jingga dibulan ramadhan waktu itu suasananya tak bisa dilupakan, memang benar bahwa kelelawar memang dianggap sebagai hama oleh sebagian banyak para petani tetapi tidakkah kita pernah berpikir apa fungsi atau dampak positif dari binatang mamalia terbang ini dalam ruang lingkup ekosistem.
Apakah hanya menjadi hama ataukah ada peran yang penting yang mereka mainkan, beberapa waktu lalu aku membaca buku saku terbitan indoprogress "Marxisme dan Ekologi" aku menemukan kelelawar pun memegang peranan penting dalam suatu ekosistem, mereka binatang yang cukup istimewa, mereka biasanya tinggal dalam gua batu, atau pegunungan-pegunungan kapur mereka memiliki andil besar dalam penyuburan tanaman di dataran tinggi hutan hujan tropis sehingga menghasilkan buah dan biji-bijian.
Regenerasi hutan bergantung salah satunya pada binatang kelelawar ini, mereka juga menjadi penanda lingkungan yang sehat. Jadi sangat mungkin ada yang salah dengan kondisi lingkungan kita hari ini, memang hal itu (lingkungan yang subur) bukan selalu menjadi penanda tetapi mereka pernah berimigrasi ke desa kita dan sekarang tidak lagi jadi menurut saya sah saja kita simpulkan seperti itu.
Di beberapa tahun terakhir ini tepatnya 2019 memang binatang ini sempat viral dan menjadi perhatian dikarenakan dituding sebagai biang kerok munculnya pandemi Covid-19, mungkin benar mereka sebagai angen virus tersebut mengingat sekita 60-70 % penyakit baru terhadap manusia adalah zoonosis dan ini sudah berlangsung cukup lama sejak tahun 1990an.
Di era modern ini yang didominasi Mode produksi kapitalisme penggudulan hutan sudah menjadi urat nadi yang menyumbang emisi karbon terbesar kedua setelah setelah pembakaran energi fosil berdampak pada pemanasan grobal dan perubahan iklim. Deforestasi menyebabkan hutan semakin menipis artinya rumah dan tempat mencari makan bagi hewan-hewan ini pun makin terbatas sehingga hewan seperti gajah, harimau, monyet, hingga kelelawar pun ikut keluar dari habitat aslinya, begitupun dengan mikroorganisme, bakteri, patogen hingga virus, terkhusus untuk virus Covid-19 yang menempel atau tinggal pada tubuh kelelawar ikut terganggu menginfeksi hewan lainnya sebelum akhirnya sampai kepada manusia hingga menjadi penyakit, yang menyebar ke manusia lainnya.
Mungkin seperti itu sederhananya, aku selalu percaya dengan pesan dalam ayat Alquran (QS.Ar-Rum/41 : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Tanpa ada tindakan nyata melawan sistem kapitalisme pada akhirnya hanya bisa bernostalgia melihat migrasi sekelompok kelelawar disore hari di bulan Ramadhan dan berharap musim buah kembali seperti dahulu.