Di suatu sore ketika membaca salah satu karya Pramoedya Ananta Toer yaitu Jejak Langkah dalam Tertalogi Pulau Buruh saya menemukan satu informasi menarik mengenai asal-usul dari sebuah bantal guling yang bisanya akrab dengan kita orang-orang Indonesia, seakan tidur tidaklah nyaman tanpa dilengkapi bantal panjang yang biasa disebut "Guling"
Pram tidak hanya mengisahkan sebuah cerita tetapi juga membawa unsur-unsur historis kebudayaan kita, salah satunya asal-usul bantal guling yang ternyata bukan berasal kebiasaan pribumi. Hal ini dikisahkan dalam halaman 64-65 ketika salah satu seorang teman dari Minke (tokoh utama) yang bernama Wiliam menceritakan sebuah anekdot, dikutip dalam novel "Jejak Langkah" ia bercerita begini : Tahukah kalian apa sebab didalam asrama tidak ada guling ? Sambil tertawa dengan pernyataannya sendiri.
Nah, dengarkan baik-baik aku ceritai. Guling yang kalian sukai di ranjang itu, takkan kalian temukan di negeri-negeri lain di dunia. Setidak-tidaknya begitu cerita mamahku. Tak tahulah sepuluh tahun mendatang. Pribumi Hindia belum lagi lama menggunakannya. Mereka hanya meniru-niru orang Belanda. Apa keenakan yang datang dari Belanda serta-merta ditiru orang terutama para priyayi berkepala tapuk itu. Inggris mengetawakan kebiasaan berguling.
"Cuma sedikit orang Belanda datang kemari (Hindia) membawa perempuan," ia meneruskan. "Juga orang-orang Eropa lainnya. Di sini mereka terpaksa menggundik. Tapi orang Belanda terkenal sangat pelit. Mereka ingin pulang ke negerinya sebagai orang berbeda. Maka banyak juga yang tak mau menggundik. Sebagai pengganti gundik mereka membikin guling-gundik yang tak dapat kentut itu.
Hai, kau, Kleoooo (salah satu sahabat Minke), pernah kau temui guling dalam sastra Jawa lama ? Tak bakal ada. Dan kau, Sutan (juga sahabat Minke), ada kata-kata itu dalam sastra Melayu ? Nol besar. Memang tidak ada. Itu bikinan Belanda tulen-gundik tak berkentut. Ducth Wife. (Ingg., Bini Belanda).
Lanjutnya mengakhiri cerita..
"Dan tahu kalian orang pertama-tama yang menamainya ? Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Hindia."
"Dan orang Inggris di di Hindia,"Kleoo menambahi, "bila datang ke Hindia sini, pertama-tama yang dimintainya adalah justru si Ducth Wife, gundik tak berkentut itu. Orang Belanda menganggap orang Inggris paling pelit di dunia, paling rakus dan paling sekakar, menamainya : British Doll (Ingg., Boneka Inggris).
Dibalik kerakusan dan ketamakan kedua negara kolonialis ini (Belanda dan Inggris) ternya ada manfaat dari guling dalam sejarah budaya patriarki zaman kolonial, yaitu menghindarkan budaya-budaya patriarki lewat Ducth Wife atau British Doll disamping sikap pelit para kolonial, yang pada saat itu perempuan pribumi hanya dijadikan sebagai pemuas hasrat atau yang biasa disebut gundik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar