KESUKSESAN SEBUAH ARTI



Dalam kehidupan masyarakat modern pada masa sekarang ini, manusia cenderung berebut dan berkompetisi diakibatkan sistem dan pandangan umum dunia mewajibkan manusia melakukan hal tersebut, yang lemah atau yang kalah akan tersingkir dan yang kuat atau menang lah yang akan bertahan dalam kehidupan sosial. Modernisasi hasil dari ciptaan "Revolusi Industri" merubah paradigma manusia untuk mengejar suatu kejayaan kehidupan yang bersifat bebas dan individual pada umumnya dikenal sebagai "Kesuksesan".

Sukses pastinya sudah menjadi mimpi sebagian besar orang di dunia. Sukses dapat didefenisikan dalam pandangan umum, jikalau seseorang mampu mendapatkan apa yang ingin ia raih.

Kesuksesan sangat penting bagi sebagian banyak orang, tak jarang kesuksesan diaggap sebagai tujuan utama kehidupan baik itu dalam bentuk material (harta benda kekayaan, pangkat jabatan, jumlah istri, dll) maupun dalam hal spritualitas keagamaan. Kesuksesan menjamin hidup yang lebih baik dunia maupun akhirat, dan pastinya sebagian banyak orang menginginkan hal tersebut, kadang manusia menghalalkan segala cara agar dapat memperoleh kesuksesan tersebut.

Mereka yang tidak sukses atau gagal meraih kesuksesan hidupnya dalam pandangan masyarakat akan dianggap sebagai orang-orang yang gagal People Fail, dan berarti mereka dalam pandangan mengalami degradasi kelas sosial daslam kehidupan modern, bisa jadi dianggap sebagai seorang proletariat ataupun semi proletariat.

Pernah pada suatu hari sewaktu masa kuliah saya ditanya oleh seorang teman ia mengatakan, apasih arti sebuah kesuksesan menurutmu ?. Pada waktu itu saya betul-betul bingung sekaligus naif dalam menjawab pertanyaan tersebut dan dalam benakku kesuksesan hanyalah sebuah pencapaian material berupa harta benda dan jabatan, lalu kujawab apabila saya telah memiliki rumah mewah, mobil, pekerjaan yang baik dan istri sekaligus anak maka saya sudah meraih kesuksesan. Sungguh hal itu merupakan sebuah jawaban dan keinginan sebagian banyak orang atau pandangan umum masyarakat modern.

Sah saja orang-orang berpendapat berpendapat demikian, manusia itu unik, dan merupakan individu-individu berbeda, defenisi kesuksesan pun ditafsikan dengan subjektif masing-masing, begitupun jawaban saya pada waktu itu yang merupakan tempaan dari berbagai pengalam hidup secara empiris.

Definisi sukses menurut para miliarder seperti Mark Zuckerberg sang pemilik Facebook, bahwa kesuksesan seseorang bisa diraih setelah ada kegagalan. Juga kesuksesan sendiri identik dengan rasa rendah hati kemudian bisa identik juga dengan sifat sederhana, jadi menurut Zuckerberg, semakin seseorang dikatakan sukses, maka dari sisi kerendahan hati dan kesederhanaannya selalu muncul.

Warren Buffett dimana kesuksesan seseorang bisa diukur dari berapa banyak orang yang mencintainya. Untuk itulah kesuksesan adalah semua hal tentang cinta. Bahkan kebahagiaan pun bukan menjadi satu konsep yang bisa dibeli dengan mudah. Komponen sukses berasal dari diri sendiri dan sukses tak terlepas dari investasi.

Begitupun dengan Bill Gates memandang kesuksesan dengan sederhanya seperti, setiap kesuksesan harus diukur dari seberapa bahagianya Anda. Maka dari itu, bukan hanya berpatok pada banyaknya harta yang didapatkan, akan tetapi kesuksesan sendiri telah masuk ke dalam model pengembangan sifat bahagia dalam beberapa situasi. Juga "Merupakan hal yang menyenangkan jika Anda merasa membuat perubahan menciptakan sesuatu atau membesarkan anak-anak atau membantu orang yang membutuhkan,".

Sungguh sederhana defenisi mereka dan sangat kontas dengan kekayaan yang dimilki para milarder ini, saya jadi ingat kata-kata Marx bahwa "bukan bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka, tetapi keadaan sosial mereka yang menentukan kesadaran mereka".

Asumsi saya bisa saja para miliarder mendefenisikan sesederhana itu tentang kesuksesan berbeda dengan defenisi pandangan umum masyarakat tentang kesuksesan yang terkadang naif, karena faktor kondisi sosialnya berbeda. Para miliarder terkadang memandang atau mendefenisikan kesuksesan begitu sederhana entah bagaimana motifnya.

Asumsi saya ini bukan bermaksud mengeneralisasi, jikalau ditelusuri satu persatu defenisi menurut para miliarder terkesan sederhana, enteng, dan sama sekali tidak berkaitan dengan kondisi-kondisi material (harta atau pencapaian) melainkan kebahagian-kebahagiaan yang sederhan dan bersifat absurd. Tetapi dalam praksis kehidupan sosial mereka sama sekali tidak menerapkan keadilan sosial (ekonomi) yang universal dan sebenarnya. Kita memang sering temui para miliarder atau kapitalis ini terkadang melakukan kegiatan-kegiatan sosial, pendirian yayasan sosial, pendidikan, kesehatan dan lain-lain, tetapi hanya berwuju semud atau  sebatas tindakan-tindakn filantropi semata, yang kontradiktif dan hipokrit.

Bill Gates bisa jadi salah satu miliarder yang begitu prihatin terhadap fenomena kesejangan sosial yang terjadi, ia mengakui ketidak adilan terjadi dikarenakan kekayaan dimonopoli oleh sedemikian orang termasuk juga dirinya dengan kekuatan kapital. Maka dari itu para miliarder menciptakan yayasan amal dengan tujuan menyumbangkan kekayaan pada orang-orang miskin. Tetapi fakta bahwa apa yang mereka sumbangkan hanya sebahagian kecil dari pendapatan mereka, pemasukan mereka jauh lebih besar dibanding apa yang mereka sumbangkan, Gates menyumbang sekitar 2,6 %, tetapi pelu diketahui pemasukan mereka mencapai Rp. 5,5 juta perdetik. Gates juga setuju dengan engan sistem perpajakan untuk para kapitalis tetapiyang jadi masalah bagaimana mungkin menrapkan pajak jikalau "Negara" merupakan alat yang dikuasai oleh mereka yang digunakan untuk akumulasi kekayaan, diperoleh dari hasil keringat buruh yang bahkan jika seluruh hidupnya didedikasikan untuk bekerja tidak akan mampu menyaingi kekayaan mereka.

Bagi saya, seorang kapitalis tetap akan sebagai kapitalis yang berorientasi pada modal, keadilan sosial walaupun dalam skala global tidak mungkin terwujud dari atas, dari para miliarder pemilik modal yang hopokrisi, hanya rayat atau masyaraka organik yang dapat mewujudkan itu atas kesadarannya.

Apa yang kita pahami tentang kesuksesan hari ini merupakan hasil konstruksi paradima dan hagemoni kapital borjuasi yang sempit, seolah kesuksean hanya pada tatanan harta material, jabatan, objektivitas wanita, dan hidup mewah hedonis. Kapitalisme menyentuh semua sisi kehidupan mempengaruhi cara berpikir dan pandangan entang kehiduan bahwa tiap-tiap manusia haruslah berlomba-lomba dan berkompetisi dalam mencapai kesuksesan versi mereka untuk hidup yang lebih baik. Bahkan kehidupan spritual (agama) yang awalnya dan seyogianya menentang pandangan ini pun terseret dalam hagemoni kapital borjuasi, ditandai dengan banyaknya para pemuka agama yang terseret dalam arus kapital baik sebagai pemilik modal sakaligus ahli spritual maupun para tokoh agama yang bergabung dalam lingkaran kekuasaan oligarki yang melegitimasi investasi modal para kapitalis sebagai jalal konsesi yang tak jarang merebut tanah-tanah rakyat dan jurang kesenjangan bagai lingkaran setan.

Kesuksesan haruslah dimaknai secara luas dan jauh dari hipokrisi seperti pemaknaan para tokoh kapitalis itu. Jikalau saya kembali ditanya mengenai apa makna kesuksean itu ?. Maka saya akan menjawab kesuksesan bukan dari apa yang kita pahami selama ini, melainkan ketika kamu memperoleh kehidupan yang bebas tanpa terikat apapun juga. Definisi itu subjektif dan kalian pun bebas mendefenisikan kesuksesan kalian tanpa terikat apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar