Continuous
Revolution ! "Revolusi Yang Terus Berlanjut" mungkin itulah kata yang harus ditumbuhkan dalam diri seorang
yang berideologi sosialis, kita mengenal beberapa nama besar yang mengabdikan
dirinya pada revolusi berjuang untuk kebebasan dan menciptakan kesetaraan bagi rakyat dari belenggu sistem
kapitalisme dan menentang kolonialisme, imperialisme.
Salah tokoh besar yang menjadi panutan sekaligus martir perjuangan revolusi sosialis ialah "Ernesto Che Guevara" seorang avonturir, intelektual marxis dan pejuang gerilya revolusi Kuba yang mengguncang benua Amerika Latin bahkan dunia.
Revolusi Kuba adalah revolusi rakyat, salah satu kutipan dari Che "Pembebas tidaklah nyata, Rakyat mampu membebaskan dirinya sendiri". Revolusi ibarat buah apel, ketika buah apel telah matang niscaya buah tersebut akan jatuh, itulah salah satu kutipan Che dalam buku yang berjudul "Che Guevara Sang Revolusioner" diterbitkan oleh Resist Book. Revolusi tidak dapat terelakkan ketika rakyat telah merasakan penindasan dan eksploitasi berlebih dari suatu sistem yang eksploitatif dan membelenggu, kita lihat apa yang terjadi di negara Kuba, dimana pemerintahan otokrasi oleh rezim Batista yang digulingkan oleh kaum revolusioner dipimpin oleh Fidel Castro dan para companero-companero beserta rakyat Kuba mulai dari pendaratan di Granma hingga gerakan 26 Juli 1953 hingga puncaknya pada tanggal 1 Januari 1959.
Memahami Che tidak cukup dengan hanya dengan sebuah tulisan sinkat ini, tapi perlu literatur yang kompleks, dalam sebuah catatannya tentang "Manusia dan Sosialisme Kuba" yang sekaligus menjadi antitesis dari teori Marx, Di negara-negara kapitalisme telah berkembang hingga mencapai tingkat yang cukup untuk membuat pengaruhnya dirasakan rakyat dengan satu atau lain cara. Tetapi, setelah merenungkan semua kemungkinannya, ternyata bukan kontradiksi kontradiksi internal yang menyebabkan sistem-sistem ini meledak. Perjuangan merebut kebebasan dari penindas-penindas luar, penderitaan yang disebabkan oleh peristiwa-peristiwa eksternal seperti perang yang konsekuensinya membuat kelas privilese dengan cepat berpihak pada yang tertindas, gerakan pembebasan yang bertujuan menggulingkan rezim neokolonial ini merupakan faktor-faktor yang bisa ditemui dalam ledakan seperti ini.
Salah tokoh besar yang menjadi panutan sekaligus martir perjuangan revolusi sosialis ialah "Ernesto Che Guevara" seorang avonturir, intelektual marxis dan pejuang gerilya revolusi Kuba yang mengguncang benua Amerika Latin bahkan dunia.
Revolusi Kuba adalah revolusi rakyat, salah satu kutipan dari Che "Pembebas tidaklah nyata, Rakyat mampu membebaskan dirinya sendiri". Revolusi ibarat buah apel, ketika buah apel telah matang niscaya buah tersebut akan jatuh, itulah salah satu kutipan Che dalam buku yang berjudul "Che Guevara Sang Revolusioner" diterbitkan oleh Resist Book. Revolusi tidak dapat terelakkan ketika rakyat telah merasakan penindasan dan eksploitasi berlebih dari suatu sistem yang eksploitatif dan membelenggu, kita lihat apa yang terjadi di negara Kuba, dimana pemerintahan otokrasi oleh rezim Batista yang digulingkan oleh kaum revolusioner dipimpin oleh Fidel Castro dan para companero-companero beserta rakyat Kuba mulai dari pendaratan di Granma hingga gerakan 26 Juli 1953 hingga puncaknya pada tanggal 1 Januari 1959.
Memahami Che tidak cukup dengan hanya dengan sebuah tulisan sinkat ini, tapi perlu literatur yang kompleks, dalam sebuah catatannya tentang "Manusia dan Sosialisme Kuba" yang sekaligus menjadi antitesis dari teori Marx, Di negara-negara kapitalisme telah berkembang hingga mencapai tingkat yang cukup untuk membuat pengaruhnya dirasakan rakyat dengan satu atau lain cara. Tetapi, setelah merenungkan semua kemungkinannya, ternyata bukan kontradiksi kontradiksi internal yang menyebabkan sistem-sistem ini meledak. Perjuangan merebut kebebasan dari penindas-penindas luar, penderitaan yang disebabkan oleh peristiwa-peristiwa eksternal seperti perang yang konsekuensinya membuat kelas privilese dengan cepat berpihak pada yang tertindas, gerakan pembebasan yang bertujuan menggulingkan rezim neokolonial ini merupakan faktor-faktor yang bisa ditemui dalam ledakan seperti ini.
Jadi ibarat buah apel revolusi tak harus menunggu buah apel yang matang untuk
jatuh melainkan harus menggoyangkannya agar jatuh. Kecintaan Che dalam revolusi
adalah kecintaan terhadap rakyat, terhadap manusia yang tertindas, revolusi
yang betul-betul tulus dari hati nurani, baginya revolusi berarti cinta, cinta
akan kemanusiaan, cinta akan keadilan dan cinta akan kebenaran. Itulah salah satu faktor yang mendorong Che
mengabdikan hidupnya untuk revolusi, suatu kegilaan yang pernah ia
sampaikan kepada sahabatnya yaitu Fidel Castro di kediaman Maria Antonia
"Jika revolusi di Kuba berhasil, biarkan aku membawa revolusi itu
keseluruhan Amerika Latin".
"Aku meyakini perjuangan bersenjata sebagai satu-satunya untuk rakyat solusi untuk rakyat yang berjuang membebaskan dirinya, dan aku konsisten dengan keyakinanku.
Banyak orang akan memanggilku avonturir, dan memang demikian aku, hanya aku dari jenis yang berbeda. Jenis yang mempertaruhkan nyawanya untuk membuktikan kebenarannya.
Dengan resiko kelihatan tolol, aku berkata bahwa seorang revolusioner sejati dituntun oleh kecintaan yang besar. Mustahil seorang revolusioner sejati tidak memilikinya. Mungkin ini adalah salah satu drama terbesar para pemimpin, ia harus memadukan jiwa yang bergelora dengan nalar yang dingin, dan membuat keputusan yang menyakitkan dengan sangat tenang. Para revolusioner garda depan kita harus menggunakan kecintaan pada rakyat ini sebagai alasan yang paling suci dan membuatnya menjadi satu dan utuh."
Che
"Aku meyakini perjuangan bersenjata sebagai satu-satunya untuk rakyat solusi untuk rakyat yang berjuang membebaskan dirinya, dan aku konsisten dengan keyakinanku.
Banyak orang akan memanggilku avonturir, dan memang demikian aku, hanya aku dari jenis yang berbeda. Jenis yang mempertaruhkan nyawanya untuk membuktikan kebenarannya.
Dengan resiko kelihatan tolol, aku berkata bahwa seorang revolusioner sejati dituntun oleh kecintaan yang besar. Mustahil seorang revolusioner sejati tidak memilikinya. Mungkin ini adalah salah satu drama terbesar para pemimpin, ia harus memadukan jiwa yang bergelora dengan nalar yang dingin, dan membuat keputusan yang menyakitkan dengan sangat tenang. Para revolusioner garda depan kita harus menggunakan kecintaan pada rakyat ini sebagai alasan yang paling suci dan membuatnya menjadi satu dan utuh."
Che
Penulis. Muirul Palawai (dikutip dari buku Che
Guevara Sang Revolusioner)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar